TEORI SOSIOLOGI KELASIK

PENDAHULUAN

Perkembangan sosiologi dewasa ini sangatlah pesat dan cukup banyak mengalami perubahan karena perkembangan zaman yang juga semakin maju dan modern lagi. Karena hal itu mempelajari dasar-dasar dari sosiologi sejak awal perkembangan sosiologi akan sangat menarik dan dapat dijadikan pedoman awal dari teori-teori yang ada sekarang ini. Dengan mempelajari teori-teori yang ada dalam sosiologi klasik ini kita akan dibawa kedalam masa awal perkembangan teori yang ada ketika ilmu sosiologi mulai berkembang.

Pembahasan ini akan dimulai dengan uraian mengenai beberapa sumbangan penting para perintis awal bagi perkembangan sosiologi sebagai ilmu. Pemahaman mengenai sumbangan pikiran para perintis awal ini perlu, karena antara pemikiran para perintis awal dan pemikiran para tokoh sosiologi masa kini terdapat suatu kesinambungan. Setelah mempelajari pokok pikiran para perintis awal kita akan menyadari bahwa sebagian besar konsep dan teori sosiologi masa kini berakar pada sumbangan pikiran para tokoh klasik.

Dalam buku ini kita akan lebih mengenal lagi para tokoh-tokoh perintis lahirnya ilmu sosiologi sebagai disiplin ilmu. Tokoh sosiologi seperti  Auguste Comte, Emile Durkheim, Karl Max, Max Weber, dan tokoh lainnya akan lebih kita kenal terutama mengenai teori yang telah mereka kemukakan pada masa itu. Dari teori-teori tersebut kita dapat memahami dan menganalisisnya serta mengambil esensi dari teori tersebut.

Buku ini terdiri dari sembilan bab pembahasan mengenai teori sosiologi klasik. Dalam bab pertama kita akan memuat pembahasan mengenai suatu pandangan menarik dari Auguste Comte ialah bahwa sosiologi menurutnya merupakan “ratu ilmu-ilmu sosial” dalam bayangannya mengenai hirarki ilmu, sosiologi bahkan menempati kedudukan teratas diatas astronomi, fisika, kimia dan biologi.

Kemudian pada bab selanjutnya kita akan membahas mengenai teori konflik yang dirintis oleh Karl Max. Menurut ramalan Max konflik yang berlangsung antara kedua kelas akan dimenangkan oleh kaum proletar, yang kemudain akan mendirikan suatu masyarakat tanpa kelas.

Dalam bab  tiga ini kita akan mempelajarai mengenai teori pembagian kerja. Taori ini merupakan suatu upaya Durkheim untuk memahami fungsi pembagian kerja dalam masyarakat, serta untuk mengetahui faktor penyebabnya. Durkheim melihat bahwa setiap masyarakat memerlukan solidaritas. Ia membedakan antara dua tipe utama solidaritas : solidaritas mekanik dan solidaritas organik. Lambat laun pembagian kerja dalam masyarakat semakin berkembang sehingga solidaritas mekanik berubah menjadi solidaritas organik.

Selanjutnya dalam bab empat kita akan lebih mengenal lebih dalam mengenai teori bunuh diri dari Emile durkheim. Teori ini merupakan upaya Durkheim untuk menerapkan metode yang telah dirintisnya dalam Rules of Sociologycal Method untuk menjelaskan angka bunuh diri.

Selanjutnya dalam bab lima kita akan membahas mengenai teori totemisme yang masih diritis oleh Emile Durkheim. Di dalam analisisnya atas agama primitif, Durkheim berusaha menunjukan akar-akar agama di dalam struktur sosial masyarakat. Masyarakatlah yang mendefinisikan hal-hal tertentu sebagai yang sakral dan hal-hal lain sebagai yang duniawi. Durkheim memperlihatkan sumber-sumber sosial agam di dalam analisisnya atas totemisme primitif dan akar-akarnya di dalam struktur sosial klan. Dia mengklaim bahwa konsep-konsep dan bahkan kategori-kategori mental kita yang paling fundamental pun adalah representasi-representasi kolektif yang dihasilkan masyarakat, setidaknya mula-mula, melalui ritual-ritual agamis.

Setelah itu dalam bab enam akan membahas teori tindakan sosial dari Max Weber. Dalam uraiannya weber menyebutkan pula bahwa sosiologi ialah ilmu yang berupaya memahami tindakan sosial.

Bab tujuh akan menyoroti teori etika protestan dari weber. Ia mengemukakan tesisnya yang terkenal mengenai keterkaitan antara etika protestan dengan munculnya kapitalisme di Eropa Barat.

Pada bab delapan ini kita akan membahas mengenai teori yang dikemukakan oleh Georg Simmel. Bab ini menggambarkan perhatian dialektis Simmel dalam berbagai cara. Perhatian itu berkenaan dengan cara mereka diwujudkan di dalam bentuk-bentuk interaksi secara spesifik. Simmel juga tertarik pada konflik-konflik di antara individu dan struktur-struktur sosial, tetapi perhatian terbesarnya ialah konflik-konflik yang berkembang di antara kebudayaan individual dan kebudayaan objektif.

Pada bab terakhir ini kita akan membahas mengenai teori sosiologi sistematis yang dikemukakan oleh Karl Meinhem. Manheim berusaha untuk menyusun sintesis antara metode-metode psikologi modern yang dinamis dengan metode-metode sosiologis.Sebagai sosiolog dia memberikan tekanan pada peranan faktor-faktor sosial dalam pembentukan perilaku dan pola berpikir

AUGUSTE COMTE

FILSAFAT POSITIF

  1. A.      Kelahiran Filsafat Positif

 

  1. 1.       Riwayat Hidup Auguste Comte

         Auguste Comte, yang bernama lengkap Isidore Marie Auguste Francois Xavier Comte, di lahirkan di Montpellier Prancis selatan pada 19 Januari 1798. Orang tuanya adalah anggota kelas menengah, dan ayahnya pada akhirnya naik ke posisi agen pejabat lokal untuk pengumpulan pajak. Meskipun dia adalah mahasiswa yang terlalu cepat dewasa, Comte tidak pernah menerima gelar tingkat-perguruan tinggi.Dia dan seluruh kelasnya dipecat dari Ecole Polytechnique karena sikap memberontak dan ide-ide politis mereka. Pengusiran itu mempunyai efek sebaliknya pada karier akademik Comte. Pada tahun 1817 dia menjadi sekretaris dan anak angkat Claude Henry Saint-Simon, seorang filsuf senior yang berusia 40 tahun. Mereka bekerja sama dengan erat selama bertahun-tahun dan Comte mengakui utangnya yang besar kepada Saint-Simon : ”Tentu saja saya berhutang banyak secara intelektual kepada Saint-Simon, dia mempunyai sumbangan yang besar dalam meluncurkan saya kearah filosofis yang saya ciptakan untuk diri saya dan  masa kini yang akan saya ikuti tanpa ragu sepanjang hidup saya”. Akan tetapi, pada 1824 mereka mengalami pertengkaran karena Comte percaya bahwa Saint-Simon ingin menghilangkan nama Comte dari salah satu kontribusinya. Lalu Comte menulis mengenai hubungannya dengan Saint-Simon sebagai hubungan “Pembawa Bencana” dan melukiskan Siant-Simon sebagai seorang “pesulap yang merusak”. Pada 1852, Comte berkata tentang Simon, “ saya tidak berutang apa pun kepada orang terkemuka ini” . Menurut Helibron (1995) menjelaskan bahwa Comte sebagai pria pendek (mungkin lima kaki, dua inci), agak juling, dan sangat resah di dalam situasi-situasi sosial, khususnya situasi yang melibatkan wanita. Dia juga terasing dalam masyarakat secara keseluruhan.Fakta-fakta tersebut dapat membantu untuk memahami fakta yang lainnya yaitu bahwa Comte menikah dengan Carolin Massine (perkawinan yang berlangsung dari 1825 hingga 1842). Wanita itu adalah anak haram yang kemudian disebut Comte sebagai “pelacur”, meskipun label itu telah dipertanyakan baru-baru ini. Keresahan peribadinya kontras dengan keyakinan Comte akan kecakapan intelektualnya sendiri, dan tampaknya rasa harga dirinya cukup mantap. Ingatan Comte yang luar biasa sangat terkenal.Diberkati dengan ingatan fotografis, dia dapat mengeja kata-kata setiap halaman buku yang baru sekali dia baca.Daya konsentrasinya sedemikian rupa sehingga dia mampu menguraikan dengan ringkas isi sebuah buku tanpa menuliskannya.Kuliah-kuliahnya semuanya disampaikan tanpa catatan.Ketika dia duduk untuk menulis buku-bukunya dia menulis segalanya berdasarkan ingatan.

Pada 1826, Comte menyiapkan suatu skema yang ia gunakan untuk menyampaikan serangkaian dari tujuh puluh dua kuliah public (yang dilaksanakan di apartemennya) mengenai filsafatnya.Kuliah itu menarik perhatian para pendengar terpandang, tetapi setelah melaksanakan tiga kuliah, Comte menderita gangguan saraf dan kuliahnya dihentikan. Dia terus menderita akibat masalah-masalah mental,.dan sekali pada 1827 dia mencoba bunuh diri (tetapi gagal) dengan melemparkan diri ke dalam sungai Seine. Meskipun dia tidak mendapat posisi tetap di Ecole Polytechnique, Comte benar-benar mendapat posisi minor sebagai seorang asisten pengajar disana pada 1832.Pada 1837, Comte diberi posisi tambahan sebagai penguji penerimaan mahasiswa, dan inilah untuk pertama kalinya yang member dia penghasilan yang memadai (sebelumnya dia sering tergantung secara ekonomi kepada keluarganya).Selama periode tersebut, Comte menganggap karyanya Course de Philosophie Positiveyang terdiri dari enam volume yang membuatnya termasyhur.Pada akhirnya buku itu diterbitkan sekaligus pada 1842 (volume pertama telah diterbitkan pada 1830).Di dalam karya itu Comte menguraikan garis besar pandangannya bahwa “sosiologi adalah ilmu terakhir”.Dia juga menyerang Ecole Polytechnique dan hasilnya pada 1844 jabatannya sebagai asisten tidak diperpanjang lagi.Pada 1851 dia tengah merampungkan System de Politique Positive yang terdiri dari empat volume.Buku itu mempunyai maksud yang lebih praktis, yang menyajikan suatu renacana besar untuk pengorganisasian kembali masyarakat.

Heliborn berargumen bahwa perubahan besar terjadi di dalam kehidupan Comte pada 1838 dan pada waktu itulah dia kehilangan harapan bahwa ada orang yang menanggapi secara serius karyanya di bidang ilmu secara umum, dan sosiologi secara khusus. Juga pada titik itulah dia memulai dalam hidupnya aksi “pembersihan otak”, yakni Comte mulai menolak untuk membaca karya orang lain. Akibatnya, dia tidak mengikuti perkembangan intelektual mutakhir. Barulah sesudah 1838 dia mulai mengembangkan ide-idenya yang ganjil tentang pembaruan masyarakat yang diungkapkan di dalam Sisteme de Politique Positive. Comte membayangkan dirinya sebagai imam tinggi dari suatu agama baru umat manusia. Dia mempercayai suatu dunia yang pada akhirnya akan dipimpin oleh para sosiolog-imam. (Comte sangat dipengaruhi oleh latar belakang Katoliknya). Menarik, meskipun mempunyai ide-ide kasar seperti itu, pada akhirnya Comte mendapat sejumlah besar pengikut di Prancis, dan juga di beberapa negara lainnya. Dengan demikian, secara intelektual, kehidupan Comte dapat diklasifikasikan menjadi tiga tahapan. Pertama, ketika dia bekerja dan bersahabat dengan Saint-Simon. Pada tahap ini pemikirannya tentang sistem politik baru dimana fungsi pendeta abad pertengahan diganti ilmuwan dan fungsi tentara dialihkan kepada industri. Tahap kedua ialah ketika dia telah menjalani proses pemulihan mental yang disebabkan kehidupan pribadinya yang tidak stabil. Pada tahap inilah, Comte melahirkan karya besarnya tentang filsafat positivisme yang ditulis pada 1830-42. Kehidupan Comte yang berpengaruh luas justru terletak pada separuh awal kehidupannya. Tahap ketiga kehidupan intelektual Comte berlangsung ketika dia menulis A Sytem of Positive Polity antara 1851-54. Dalam perjalanan sejarah, alih-alih dikenal sebagai filosof, Comte lebih dikenal sebagai praktisi ilmu sejarah dan pada 5 September 1857 Auguste Comte wafat.

 

  1. 2.       Auguste Comte dan Positivisme

Positivisme merupakan evolusi lanjut dari empirisme inggris.Inspirasi filosofis empirisme terhadap positivisme terutama prinsip objektivitas ilmu pengetahuan. Kaum empiris meyakini bahwa semesta adalah segala sesuatu yang hadir melalui data inderawi, dengan kata lain pengetahuan harus berawal dari pengamatan empiris. Positivisme mengembangkan klaim empiris tentang pengetahuan secara ekstrim dengan mengatakan bahwa puncak pengetahuan manusia adalah ilmu-ilmu berdasarkan fakta-fakta keras (terukur dan teramati), ilmu-ilmu positif. Kemunculan positivisme tidak bisa lepas dari iklim kultural yang memungkinkan berkembangnya gerakan untuk menerapkan cara kerja ilmu pengetahuan dalam berbagai bidang kehidupan manusia. Menurut positivisme, filsafat tidak punya kerja lain selain cara kerja ilmu pengetahuan, ia bertugas menemukan prinsip-prinsip umum yang sama untuk semua ilmu dan menggunakan prinsip tersebut sebagai pemandu untuk prilaku manusia serta dasar untuk pengetahuan sosial masyarakat. Positivisme yakin bahwa masyarakat akan mengalami kemajuan apabila mengadopsi total pendekatan ilmu pengetahuan dan tekhnologi. Dengan kata lain, aliran ini menjunjung tinggi kedudukan ilmu pengetahuan dan sangat optimis dengan peran sosialnya yang dapat dimainkan bagi kesejahteraan manusia. Slogan positivisme yang sangat terkenal berbunyi, “savoir pour, prevoi pour pouvoir”yang artinya “dari ilmu muncul prediksi dan dari prediksi muncul aksi. Pada pemikiran positif Comte ini menjelaskan bahwa gejala sosial pada akhirnya dapat diungkapkan melalui observasi empiris atas suatu gejala tersebut, disamping itu Comte juga menjelaskan bahwa dengan berkembangnya kerangka berfikir yang positif-ilmiah yang akan menimbulkan adanya keteraturan sosial, dengan kata lain keteraturan sosial akan terjadi ketika masyarakatnya menyadari akan pentingnya berfikir ilmiah. Hal ini dikarenakan bahwa ciri utama dalam positivisme adalah keyakinan bahwa fenomena sosial itu memiliki pola dan tunduk pada hukum-hukum deterministis seperti layaknya hukum-hukum yang mengatur ilmu alam.

        Positivisme dibadani oleh dua pemikir prancis, Henry Saint Simon (1760-1825) dan muridnya August Comte (1798-1857).Walau Henrylah yang menggunakan pertama kali istilah positivisme, namun Comte yang mempopulerkan positivisme yang pada akhirnya berkembang menjadi aliran filsafat ilmu yang begitu prevasif mendominasi wacana filsafat ilmu abad ke 20.August Comte juga yang pertama kali mempopulerkan istilah sosiologi. Sosiologi dipahami Comte sebagai studi ilmiah terahadap masyarakat. Hal itu berarti masyarakat harus dipandang layaknya alam yang terpisah dari subjek peneliti dan bekerja dengan hukum determinisme.Sosiologi, oleh karenanya sering disebut-sebut sebagi “fisika sosial”. Pemikiran comte tidak bisa dilepaskan dari reaksinya terhadap semangat pencerahaan yang pada giliranya melahirkan revolusi prancis. Ia amat terganggu oleh anarkisme yang mewarnai masyarakat pada waktu itu. Oleh karenanya bersikap kritis terhadap para filosof pencerahan prancis. Positivisme dikembangkan Comte guna melawan apa yang ia yakini sebagai filsafat negatif dan destruktif dari para filosof pencerahan. Para filosof dikatakan masih bergelut dengan khayalan-khayalan metafisika. Comte dengan beberapa filosof prancis lainya membuat barisan kontra-revolusioner yang bersikap kritis pada proyek pencerahan.Berikut ini pemikiran Auguste Comte dalam kajian aspek epistemologi, ontologi dan aksiologi :

1)    Kajian aspek epistemologi pemikiran Comte.

Comte melakukan penelitian-penelitian atas penjelasan-penjelasan yang perlu dirombak karena tidak sesuai dengan kaidah keilmiahan Comte tetapi, layaknya filsuf lainnya, Comte selalu melakukan kontemplasi juga guna mendapatkan argumentasi-argumentasi yang menurutnya ilmiah. Dan, dari sini Comte mulai mengeluarkan argumentasinya tentang ilmu pengetahuan positif pada saat berdiskusi dengan kaum intelektual lainnya sekaligus  melakukan uji coba argumentasi atas mazhab yang sedang dikumandangkannya dengan gencar yaitu Positivisme. Comte sendiri menciptakan kaidah ilmu pengetahuan baru ini bersandarkan pada teori-teori yang dikembangkan oleh Condorcet, De Bonald, Rousseau dan Plato, Comte memberikan  penghargaan yang tinggi terhadap ilmu pengetahuan yang lebih dulu timbul. Pengetahuan-pengetahuan yang sebelumnya bukan hanya berguna, tetapi merupakan suatu keharusan untuk diterima karena ilmu pengetahuan kekinian selalu bertumpu pada ilmu pengetahuan sebelumnya dalam sistem klasifikasinya.

Asumsi-asumsi ilmu pengetahuan positif itu sendiri, antara lain : Pertama, ilmu pengetahuan harus bersifat obyektif (bebas nilai dan netral) seorang ilmuwan tidak boleh dipengaruhi oleh emosionalitasnya dalam melakukan observasi terhadap obyek yang sedang diteliti. Kedua, ilmu pengetahuan hanya berurusan dengan hal-hal yang berulang kali. Ketiga, ilmu pengetahuan menyoroti tentang fenomena atau kejadian alam dari mutualisme simbiosis dan antar relasinya dengan fenomena yang lain.

2)    Kajian aspek ontologi pemikiran Comte.

Tiga hal yang menjadi ciri pengetahuan   yang  dibangun, yaitu :

  1. Membenarkan dan menerima gejala empiris sebagai kenyataan.
  2. Mengumpulkan dan mengklasifikasikan gejala itu menurut hukum yang menguasai mereka, dan
  3. Memprediksikan fenomena-fenomena yang akan datang berdasarkan hukum-hukum  itu dan mengambil tindakan yang dirasa bermanfaat.

Dalam pengembangannya keyakinan Comte ini  dinamakannya positivisme. Positivisme sendiri adalah faham filsafat, yang cenderung untuk membatasi pengetahuan benar manusia kepada hal-hal yang dapat diperoleh dengan memakai metoda ilmu pengetahuan. Comte berusaha mengembangan kehidupan manusia dengan menciptakan sejarah baru, merubah pemikiran-pemikiran yang sudah membudaya, tumbuh dan berkembang pada masa sebelum Comte hadir. Comte mencoba dengan keahlian berpikirnya untuk mendekonstruksi pemikiran yang sifatnya abstrak (teologis) maupun pemikiran yang pada penjalasan-penjelasannya spekulatif (metafisika).

3)    Kajian aspek aksiologi pemikiran Comte

Bentangan aktualisasi dari pemikiran Comte, adalah dikeluarkannya pemikirannya mengenai “hukum tiga tahap” atau dikenal juga dengan “hukum tigastadia”. Hukum tiga tahap ini menceritakan perihal sejarah manusia dan pemikirannya sebagai analisa dari observasi-observasi yang dilakukan oleh Comte. Versi Comte tentang perkembangan manusia dan pemikirannya, berawal pada tahapan teologis dimana studi kasusnya pada masyarakat primitif  yang masih hidupnya menjadi obyek bagi alam, belum memiliki hasrat atau mental untuk menguasai (pengelola) alam atau dapat dikatakan belum menjadi subyek. Fetitisme dan animisme merupakan keyakinan awal yang membentuk pola pikir manusia lalu beranjak kepada politeisme, manusia menganggap ada roh-roh dalam setiap benda pengatur kehidupan dan dewa-dewa yang mengatur kehendak manusia dalam tiap aktivitasnya dikeseharian.

Comte percaya bahwa humanitas keseluruhan dapat tercipta dengan kesatuan lingkungan social yang terkecil, yaitu keluarga.Keluarga-keluarga merupakan satuan masyarakat yang asasi bagi Comte. Keluarga yang mengenalkan pada lingkungan sosial, pentingnya keakraban menyatukan dan mempererat anggota keluarga yang satu dengan keluarga yang lain. Dalam diri manusia memiliki kecendrungan  terhadap dua hal, yaitu egoisme dan altruisma (sifat peribadi yang didasarkan pada kepentingan bersama). Kecenderungan pertama terus melemah secara bertahap, sedang yang kedua makin bertambah kuat.Sehingga manusia makin memiliki sosialitas yang beradab, akibat bekerja bersama sesuai pembagian kerja berdasarkan pengalaman adanya pertautan kekeluargaan yang mengembang.Tidak dapat dikatakan tidak ini juga karena adanya sosialisasi keluarga terhadap keluarga lainnya.

Comte menganggap keluargalah yang menjadi sumber keteraturan sosial, dimana nilai-nilai kultural pada keluarga (kepatuhan) yang disinkronisasikan dengan pembagian kerja akan selalu mendapat tuntutan kerja sama. Tuntutan kerjasama berarti saling menguntungkan, menumbuhkan persamaan dalam mencapai suatu kebutuhan.Menurut Comte mencintai kemanusian inilah yang menyebabkan lahirnya keseimbangan dan keintegrasian baik dalam pribadi individu maupun dalam masyarakat.

 

  1. 3.     Tiga Tahap Sejarah August Comte

       Positivisme sangat menekan ilmu pengetahuan atau ilmu positif sebagai puncak perkembangan manusia. Keyakinan positivistik tersebut didasarkan pada teori Comte tentang tiga tahap perkembangan sejarah, berikut tiga tahap perkembangan sejarah Comte:

1)       Tahap teologis

Manusia memahami gejala-gejala alam sebagai hasil campur tangan langsung kekuatan illahi. Tahap ini masih bisa dirinci menjadi tiga subtahap:

  1. Animisme

Benda-benda dianggap berjiwa dan diperlakukan sebagai suci atau keramat.

  1. Politeisme

Manusia mempercayai dewa-dewa dibalik berbagai gejala yang ada, misal dewa angin, dewa laut, dewa api, dan lain sebagainya.

  1. Monoteisme

Manusia mulai meyakini adanya kekuatan tunggal-absolut dibalik semua gejala tersebut.

2)    Tahap metafisis

Pada tahap metafisis, manusia mulai merombak cara berpikirnya yang mulai dianggap tidak mampu memenuhi keinginan untuk menemukan jawaban yang memuaskan tentang kejadian alam semesta. Pada tahap ini, semua kejadian tidak lagi diterangkan dalam hubungannya dengan kekuatan yang bersifat rohani dan supranatural.

3)    Tahap positif-ilmiah

Manusia berhenti mencari penyebab absolut baik yang Illahi maupun kodrati dan memulai berkonsentrasi pada observasi, pengukuran dan kalkulasi guna memahami hukum yang mengatur jagat raya.

Tahap positif –ilmiah diwarnai oleh keyakinan yang cukup besar pada ilmu pengetahuan dan teknologi. Berakhirnya metafisika dan lahirnya semangat positif-ilmiah, Comte merasa bahwa manusia telah mencapai tingkat kedewasaan intelektualnya. Comte menganalogikan ketiga tahap tersebut seperti tiga tahap proses pendewasan manusia. Tahap teologi dianalogikan sebagai masa anak-anak, tahap metafisika sebagai masa remaja, sedangkan tahap positif-ilmiah sebagai kedewasaan.

Teori tiga tahap perkembangan sejarah oleh Comte juga dikaitkan dengan tiga bentuk pengaturan masyarakat yang berbeda. Tahap teologis dikaitkan dengan bentuk pengaturan masyarakat yang masih percaya akan adanya otoritas mutlak., adanya hak istimewa illahi pada raja. Tatanan yang ada bersifat foedal-militeristik.Legitimasi penguasa dengan kekuatan militer yang tangguh.Dalam tahap metafisis, kosep kekuasaan seperti itu dikritik secara radikal.Kekuasan rajawi dan imami diganti dengan kekuasaan demikratis berdasarkan hukum dengan asumsi bahwa setiap orang harus diperlakukan sejajar karena dianggap memiliki hak-hak kodrati.Akhirnya pada tahap pemikiran positivis-ilmiah, pengaturan masyarakat dikaitkan dengan pembangunan masyarakat industrial.Kehidupan ekonomi menjadi pusat perhatian dan masyarakat dipimpin dan diatur oleh sekelompok elit ilmuan yang bertugas menata masyarakat secara rasional.

 

  1. 4.     Ciri-Ciri Positivisme

Positivisme merupakan suatu paham dalam filsafat ilmu pengetahuan yang berkembang sangat prevasif dan menurut Ian Hacking telah menjadi tidak hanya filsafat ilmu pengetahuan melainkan agama humanis modern. Positivisme menjadi agama karena telah melembagakan pandangan dunia menjadi doktrin bagi berbagai bentuk manusia menjadi doktrin bagi berbagai bentuk pengetahuan manusia. Pandangan dunia yang dianut positivisme adalah pandangan dunia objektifistik, yang artinya pandangan dunia yang menyatakan bahwa objek-objek fisik hadir independen dari subjek dan hadir secara langsung melalui indrawi. Semesta dan data-data indrawi adalah satu, apa yang di presepsi adalah semesta sesungguhnya. Positivisme melembagakan pandangan dunia objektivistiknya dalam suatu doktrin keasatuan pengetahuan. Doktrin ilmu mengajukan kriteria-kriteria bagi pengetahuan antara lain: bebas nilai, metode previkasi- empiris, bahasa logis-empiris dan ekspalanatoris. Positivisme menjadi dogma karena menurut semua bentuk pengetahuan manusia mengikuti doktrin kesatuan pengetahuan apabila ingin dibiang absah. Berikut ciri positivisme:

 

  1. Bebas nilai

Berarti ketika si pengamat mengamati sesuatu maka nilai-nilai yang dimiliki si pengamat tidak dilibatkan sehingga menghasilkan kesimpulan apa adanya.

  1. Fenomenalisme

persepsi Pengetahuan Fenomena Semesta yang hanya berfokus pada fenomena Metafisika yang mengandalkan sesuatu dibelakang fenomena.

  1. Nominalisme

Bagi positivisme hanya konsep yang mewakili realitas yang nyata. Contoh: logam dipanaskan menjadi memuai, konsep logam dalam pernyatan itu mengatasi semua bentuk partikular logam: besi, kuningan, timah, dan lain-lain. Jadi nominalisme adalah sesuatu yang jelas-jelas terjadi dan pasti realitasnya

  1. Reduksionisme

Semesta direduksi menjadi fakta-fakta yang dapat dipresepsi atau dapat diuraikan sesuai persepsi masing-masing

  1. Naturalisme

Paham tentang keteraturan peristiwa-peristiwa dialam semesta yang menghabiskan penjelasan adikodrati/natural diluar kemampuan atau tindakan manusia

  1. Mekanisme

Paham yang mengatakan bahwa semua ini adalah gejala alam dapat dijelaskan secara mekanikal-deterministis seperti layakanya mesin. Atau sesuatu yang bisa dijelaskan secara terstruktur.

Positivisme yang dikembangkan August Comte bisa digolongkan dalam katagori positivisme sosial.Paham yang meyakini kemjuan sosial hanya dapat dicapai melalui penerapan ilmu-ilmu positif. Positivisme sosial juga dikembangkan diinggris oleh para filosof seperti Jeremy Bhentam, james mill. Sedang di Italy aliran ini dikembangkan oleh Carlo Cattaneo dan Giussepe Ferari.Mereka berdua menganggap diri sebagai penerus Giambista Vico, sosok yang menurut mereka telah menempatkan “ilmu pengetahuan tentang manusia pada pusat kemanusiaan sendiri”.Para penganut positivisme sosial di jerman seperti Ernst Laas, Friederich Jodl, dan Eugen Duhring lebih mengacu pada pemikiran Ludwig Feurbach daripada pemikiran Saint Simon dan August Comte. Meski terjadi perbedaan pendapat dikalangan para penganut positivisme sosial, namun semuanya menaruh kepercayaan besar pada ilmu pengetahuan, pada kemajuan arus ilmu pengetahuan, dan pada bentuk pengaturan sosial  yang lebih baik sebagai akibat dari kemajuan tersebut. Positivisme sosial juga muncul apa yang disebut positivisme evolusioner. Paham yang dipelopori oleh orang-orang seperti Charles Lyell, Charles Darwin, Herbert Spancer, Ernst Haeckel dan William Wundt. Seperti penganut positivisme sosial, para pera penganut  positivisme evolusioner juga percaya akan kemajuan. Perbendaan diantara mereka terletak pada alasan yang mendasarkan kemajuan pada ilmu pengetahuan murni , sedang positivisme evolusioner pada interaksi manusia-semesta. Positivisme evolusioner telah meninggalkan satu warisan bagi dunia pemikiran dewasa.ini berupa ide tentang adanya evolusi yang bersivat universal, linier, berkesinambungan, niscaya dan progresif, selain kedua positivisme diatas juga berkembang apa yang disebut positivisme kritis. Aliran pemikiran ini yang kadang disebut Kantianisme empiris, dipelopori oleh pemikir-pemikir seperti Ernst Mach dan Richard Avenarius.Aliran pemikiran ini secara historis merupakan pendahulu dari kelompok intelektual Lingkaran Wina yang melahirkan positivisme logis.

 

  1. B.    Pengaruh Positivisme Auguste Comte

Positivisme yang diperkenalkan oleh Comte berpengaruh pada kehidupan intelektual pada abad ke 19. Di inggris sahabat Comte, Jhon Stuart Milld dengan antusias memperkenalkan pemikiran Comte, sehingga banyak tokoh di inggris yang mengapresiasi karya Comte.Di antaranya.G . H. Lewes, penulis the biographical Histori of Philosophy dan Comte’s Philosophy Of Siences.Hendri Sidgwick, filosof Cambridge yang kemudian mengkritisi pandangan-pandangan Comye Jhon Austin salah satu ahli yang paling berpengaruh pada abad 19.dan Jhon Morly salah satu politisi sukses. Namun dari orang-orang itu hanya Milld dan Lewes yang secara intelektual terpengaruh oleh Comte, namun Comte baru benar-benar berpengaruh melalui Emile Durkheim yang pada 1887 merupakan orang pertama yang ditunjuk untuk mengajar sosiologi, ilmu yang diwariskan Comte, di universitas Prancis. Dia merekomendasikan karya Comte untuk dibaca oleh mahasiswa sosiologi dan mendeskripsikannya sebagai ”the best possible intiation into the study of sociology”. Dari sinilah kemudian Comte dikenal sebagai bapak sosiologi dan pemikirannya berpengaruh pada perkembangan filsafat secara umum.Selain itu pengaruh Comte juga begitu besar pada karya Spencer dan Parson, di dalamnya Comte menekankan pada karakter sistematis masyarakat, dia juga memberikan manfaat besar bagi peranan konsensus di dalam masyarakat.Ide bahwa masyarakat dicirikan oleh konflik yang tidak terelakan diantara pekerja dan kaum kapitalis, bagi Comte tidak banyak manfaatnya.Dengan demikian, pengaruh positivisme bagi perkembangan pengetahuan sangatlah besar karena melalui pemikiran positivismenya Comte menghilangkan pemikiran tradisional dan membuat masyarakat berfikir positif-ilmiah sehingga pada akhirnya terjadi revolusi Perancis yang mendorong terciptanya masyarakat yang lebih maju dan modern.

 

  1. C.    Kritik atas Positivisme Auguste Comte

Dalam sejarahnya Positivisme dikritik karena generalisasi yang dilakukannya terhadap segala sesuatu dengan mengatakan bahwa semua “proses dapat direduksi menjadi peristiwa-peristiwa fisiologis,fisika atau kimia ” dan bahwa “proses-proses sosial dapat direduksi kedalam hubungan antara tindakan-tindakan individu ” dan bahwa “organisme biologis dapat direduksi kedalam sistem fisika “.

Kritik juga dilancarkan oleh Max Horkheimer dan teoritisi kritis lain. Kritik ini didasarkan atas dua hal yakni ketidak tepatan positivisme memahami aksi sosial dan realitas sosial yang digambarkan positivisme terlalu konservatif dan mendukung status quo. Kritik pertama berargumen bahwa positivisme secara sistematis gagal memahami bahwa apa yang mereka sebut sebagai ”fakta-fakta sosial” tidak benar-benar ada dalam realitas objektif, tapi lebih merupakan produk dari kesadaran manusia yang dimediasi secara sosial. Positivisme mengabaikan pengaruh peneliti dalam memahami realitas sosial dan secara salah menggambarkan objek studinya dengan menjadikan realitas sosial sebagai objek yang eksis secara objektif dan tidak dipengaruhi oleh orang-orang yang tindakannya berpengaruh pada kondisi yang diteliti.Kritik kedua menunjuk positivisme tidak memiliki elemen refleksif yang mendorongnya berkarakter konservatif.Karakter konservatif ini membuatnya populer di lingkaran politik tertentu.

 

 

 

 

 

 

 

KARL MARX

Teori Konflik

Karl Marx lahir di Trier, Prussia, pada 5 Mei 1818. Ayahnya seorang pengacara, memberikan kehidupan keluarga kelas menengah yang agak khas. Kedua orangtuanya berasal dari keluarga rabbi, tetapi karena alasan-alasan bisnis, sang ayah telah berpindah agama ke Lutheranisme ketika Karl masih sangat muda. Pada 1841 Marx menerima gelar doktornya di bidang filsafat dari Universitas  Berlin, yang sangat dipengaruhi oleh Hegel dan para Hegelian muda, yang bersikap mendukung, namun kritis terhadap guru mereka. Disertasi Marx adalah suatu risalat filosofis yang kering, tetapi benar-benar mengantisipasi banyak dari idenya di kemudian hari. Setelah lulus dia menjadi seorang penulis untuk sebuah koran yang liberal-radikal dan dalam sepuluh bulan dia telah menjadi kepala editornya. Akan tetapi, karena pendirian-pendirian politisnya, koran itu ditutup oleh pemerintah tidak lama kemudian. Esai-esai awal yang diterbitkan didalam periode ini mulai mencerminkan sejumlah pendirian yang akan menuntun Marx di sepanjang hidupnya. Pendirian-pendirian itu dibubuhi secara liberal dengan prinsip-prinsip demokratis, humanisme, dan idealisme anak muda. Dia menolak keabstrakan filsafat Hegelian, mimpi yang naif para komunis utopian, dan menolak para aktivis yang sedang mendesakkan hal yang oleh Marx dianggap sebagai tindakan politis prematur. Dalam menolak para aktivis tersebut, Marx meletakkan dasar bagi pekerjaannya sepanjang hayat.

Marx menganalisis hubungan kita dengan hubungan kerja ada di bawah kapitalisme. Kita kerja tidak lagi berdasarkan ekspresi dan tujuan kita namun lebih tepatnya karena tujuan kapitalis yang menggaji kita. Kapitalisme adalah sistem kekuasaan dimana kuncinya bahwa kekuatan politis dikuasai oleh kekuatan ekonomi. Kapitalis merupakan orang yang memiliki alat-alat produksi sedangkan proletariat adalah orang-orang yang bekerja dengan majikannya (tidak memiliki alat produksi). Pembagian kelas utama masyarakat kapitalis dalam Das Kapitalis yaitu, buruh upahan, kapitalis, dan pemilik tanah. Sistem kapitalis yang semakin berkembang, Marx mengharapkan bahwa ketiga sistem kelas itu secara bertahap akan diganti oleh suatu sistem dua kelas.

Marx memberikan suatu diagnosis mengenai kapitalisme yang mampu menyingkapkan kecenderungan untuk mengalami krisis, menunjukan ketidaksetaraannya yang langgeng dan menuntut agar kapitalisme bertindak memenuhi janji-janjinya. Contoh yang kita dapat dari kasus Marx membuat poin yang penting tentang teori. Meskipun prediksi-prediksi yang khusus tidak terbukti, meskipun revolusi kaum proletariat yang dipercaya Marx segera terjadi juga tidak terjadi, teori-teorinya masih bernilai sebagai suatu alternatif bagi masyarakat dewasa ini. Teori-teori mungkin tidak mengatakan kepada kita apa yang akan terjadi, tetapi dapat mengargumenkan apa yang seharusnya terjadi dan membantu kita mengembangkan rencana untuk melaksanakan perubahan yang diimpikan teori itu atau untuk melawan perubahan yang diprediksi oleh teori-teori itu.

DIALEKTIKA

Vladimir Lenin mengatakan bahwa tidak seorangpun yang dapat mengerti sepenuhnya karya Marx tanpa terlebih dahulu memahami filusuf Jerman G.W.F Hegel. Kita harus memahami beberapa hal mengenai Hegel agar dapat mengapresiasi konsep sentral Marxian mengenai dialektika. Ide mengenai suatu filsafat dialektis sudah ada selama berabad-abad, ide dasarnya adalah sentralitas kontradiksi. Hegel menggunakan ide kontradiksi untuk memahami perubahan historis, perubahan historis didorong oleh pengertian-pengertian yang kontradiktif yang merupakan esensi kenyataan atau melalui usaha-usaha kita untuk memecahkan kontradiksi-kontradiksi, oleh kontradiksi-kontradiksi baru yang berkembang. Marx juga menerima sentralitas kontradiksi bagi perubahan historis, kita melihat hal itu didalam perumusan-perumusan yang terkenal seperti kontradiksi-kontradiksi kapitalisme dan kontradiksi-kontradiksi kelas. Akan tetapi tidak seperti Hagel, Marx tidak percaya bahwa kontradiksi-kontradiksi tersebut dapat bekerja di dalam pengertian kita melainkan didalam pikiran kita. Sebagai gantinya, bagi Marx hal-hal itu adalah kontradiksi-kontradiksi nyata yang sedang ada. Harus dengan perjuangan keras untuk bisa mengubah dunia sosial karena Marx di izinkan untuk memindahkan dialektika keluar dari ranah filsafat dan memasuki ranah studi mengenai relasi-relasi sosial yang berlandaskan dunia material. Dialektika membawa perhatian lebih tertuju kepada konflik-konflik dan kontradiksi-kontradiksi diantara berbagai tingkat realitas sosial dan bukannya kepada keterkaitan sosiologis yang lebih tradisional. Misalnya adanya hubungan antara pekerja dan para kapitalis yang memiliki pabrik disana pekerja di eksploitasi oleh kapitalis sedangkan pekerja ingin mendapatkan keuntungan untuk diri mereka pribadi. Kontradiksi tersebut dapat dipecahkan bukan melalui filsafat tetapi hanya melalui perubahan sosial. Perlawanan itu mengakibatkan eksploitasi dan penindasan yang semakin hebat pula dan hasil yang mungkin muncul ialah konfrontasi antara kedua kelas itu.

METODE DIALEKTIS

Fokus Marx pada kontradiksi-kontradiksi nyata yang sedang ada menghasilkan suatu metode khusus untuk mempelajari fenomena sosial yang kemudian juga disebut “dialektis”.

Fakta dan Nilai

Nilai sosial tidak dapat dipisahkan dari fakta-fakta sosial. Fakta-fakta dan nila-nilai saling merangkai dengan cara yang tidak terelakkan, akibatnya studi fenomena sosial sarat dengan nilai. Bagi Marx, mustahil dan seandainya pun mungkin, tidak pantas bersikap tidak memihak dalam analisisnya terhadap masyarakat kapitalis. Bahkan, dapat diargumenkan bahwa pandangan-pandangan Marx yang penuh nafsu mengenai isu-isu itu memberinya wawasan yang tiada taranya mengenai hakikat masyarakat kapitalis.

Hubungan-hubungan Resipkoral

Bagi pemikir dialektis, pengaruh-pengaruh sosial tidak pernah hanya mengalir satu arah seperti yang sering dilakukan para pemikir sebab dan akibat. Sang dialektis tidak pernah mempertimbangkan hubungan kausal di dalam hubungan sosial. Pemikiran itu sungguh berarti bahwa ketika para pemikir dialektis berbicara tentang kausalitas, mereka selalu menyesuaikannya dengan hubungan-hubungan respkoral diantara faktor-faktor sosial dan juga totalitas dialektis kehidupan sosial tempatnya tertanam.

Masa lampau, masa kini, masa depan

Para dialektisi tertarik bukan hanya kepada hubungan-hubungan fenimena sosial didalam dunia kontemporer, tetapi juga didalam hubungan realitas-realitas kontemporer dengan fenomena sosial masa lampau maupun fenomena sosial masa depan. Pertama, berarti bahwa para sosiolog dialektis berhasrat untuk mempelajari akara-akar historis dunia kontemporer seperti yang dilakukan Marx. Kedua, banyak pemikiran dialektis menyesuaikan diri dengan tren-tren sosial agar dapat memahami arah yang mungkin dan dalam masyarakat dimasa depan.

Tidak ada yang tidak terelakkan

Studi-studi historis Marx menunjukan bahwa orang membuat pilihan-pilihan, tetapi pilihan-pilihan itu terbatas. Contohnya, Marx percaya bahwa masyarakat terlibat di dalam suatu perjuangan kelas dan bahwa rakyat dapat memilih untuk turut serta baik dalam “rekontruksi revolusioner masyarakat secara luas, atau didalam keruntuhan umum kelas yang sedang berseteru. Fenomena sosial secara tidak terelakkan akan menimbulkan bentuk yang menentangnya dan perbenturan diantara keduanya secara tidak terelakkan akan menyebabkan bentuk sosial sintetik yang baru.

Para aktor dan struktur

Para pemikir dialektis juga tertarik pada hubungan dinamis antara para aktor dan strukur-struktur sosial. Marx tentu saja sepaham dengan level-level utama analisis sosial yang senantiasa memengaruhi. Inti pemikiran marx terletak di dalam hubungan antara orang dan struktur-struktur berskala besar yang mereka ciptakan.

POTENSI MANUSIA

Bagi Marx, suatu konsep mengenai potensi manusia yang tidak memperhitungkan faktor-faktor sosial dan historis keliru, tetapi memperhitungkan faktor-faktor itu bukan berarti tidak mempunyai konsep mengenai hakikat manusia, ia hanya memperumit konsepsi ini. Bagi Marx ada konsep manusia secara umum, tetapi yang lebih penting ialah caranya dimodifikasi di setiap epos historis. Ketika membicarakan potensi manusia secara umum, Marx sering menggunakan istilah species baing (sifat esensial spesies). Yang dia maksud dengan hal itu adalah potensi-potensi dan kekuatan-kekuatan yang unik pada manusia yang membedakan manusia dari spesies-spesiaes lain.

Bagi Marx, sifat esensial spesies dan potensi manusia terkait erat dengan kerja,  pertama-tama kerja adalah suatu proses ketika manusia dan alam berpartisipasi dan manusia atas kemauannya sendiri memulai, mengatur dan mengendalikan hubungan-hubungan material di antara dirinya dan alam. Karena itu, dengan bertindak kepada dunia luar dan mengubah manusia sekaligus mengubah hakikatnya sendiri. Pandangan Marx mengenai hubungan antara kerja dan hakikat manusia. Pertama, apa yang membedakan kita dari hewan-hewan lain, sifat esensial spesies kita, ialah bahwa kerja kita menciptakan sesuatu di dalam  kenyataan yang sebelumnya hanya ada dalam imajinasi kita. Kedua, kerja demikian bersifat material. Kita bekerja dengan aspek-aspek alam yang lebih material. Marx percaya bahwa kerja tidak sekedar mentransformasi aspek-aspek material alam, tetapi juga mentransformasi kita termasuk kebutuhan-kebutuhan kita, kesadaran kita, dan hakikat kita sebagai manusia. Penggunaan istilah kerja oleh Marx tidak terbatas pada kegiatan-kegiatan ekonomi, ia meliputi seluruh tindakan produktif yang mengubah aspek-aspek material alam sesuai dengan maksud manusia.  Bagi Marx kerja adalah pengembangan kekuasaan-kekuasaan dan potensi-potensi manusiawi kita yang sejati. Dengan mentransformasikan realitas material agar sesuai dengan maksud kita, kita juga mentransformasikan dari kita sendiri.

Manusia adalah arti paling harfiah kata zoon politicon, bukan hanya hewan sosial, tetapi hewan yang dapat berkembang menjadi seorang individu hanya di dalam masyarakat. Selain itu, Marx mengatakan kepada kita bahwa transformasi tersebut bahkan meliputi kesadaran kita. Oleh karena itu, kesadaran, sejak permulaan adalah suatu produk sosial, dan tetap demikian selama manusia ada. Akibatnya, transformasi individu melalui kerja dan transformasi masyarakat tidak dapat dipisahkan.

Alienasi

Alienasi merupakan suatu contoh jenis kontradiksi yang menjadi pusat perhatian pendekatan dialektis Marx. Ada suatu kontradiksi nyata di antara hakikat manusia yang didefinisikan dan ditransformasikan oleh pekerjaan dan kondisi-kondisi sosial aktual pekerjaan di bawah kapitalisme. Apa yang ingin di tekankan Marx ialah bahwa kontradiksi seperti itu tidak dapat dipecahkan hanya di dalam pikiran. Kita tidak kurang teralienasi karena kita menyamakan diri dengan majikan kita atau dengan barang-barang yang dapat di beli oleh upah kita. Justru, barang-barang itu adalah gejala alienasi.

Meskipun Marx percaya bahwa ada suatu hubungan yang melekat antara kerja dan hakikat manusia dia menganggap bahwa hubungan itu di sesatkan oleh kapitalisme. Marx menyebutkan hubungan yang di sesatkan itu sebagai alienasi. Diskusi masa kini mengenalkan konsep Marx atas hakikat manusia dan alienasinya terutama berasal dari karya Marx awal. Didalam karyanya yang belakangan mengenal hakikat masyarakat kapitalis, dia menjauhkan diri dari suatu istilah filosofis yang berat seperti alienasi, namun alienasi tetap merupakan salah satu keprihatiannya yang utama.

Walaupun individulah yang merasa teralienasi di dalam masyarakat kapitalis,  keprihatinan analitis mendasar Marx adalah pada struktur-struktur kapitalisme yang menyebabkan alienasi. Marx menggunakan konsep alienasi untuk menyingkapkan efek produksi kapitalis yang bersifat menghancurkan terhadap manusia dan terhadap masyarakat. Yang sangat signifikan di sini adalah sistem dua kelas yaitu kaum kapitalis mempekerjakan karyawan, dengan demikian mereka memiliki waktu para pekerja dan para kapitalis memiliki alat-alat produksi dan juga memiliki produk-produk hasil akhirnya. Agar dapat bertahan hidup, para pekerja dipaksa menjual waktu kerja mereka kepada kaum kapitalis. Struktur-struktur itu, khususnya pembagian kerjaadalah dasar sosiologis alienasi.

Fakta bahwa kerja adalah hal eksternal bagi pekerja, yakni ia tidak termasuk kedalam sifat esensialnya. Karena itu di dalam pekerjaannya dia tidak mengukuhkan dirinya, tetapi menyangkal dirinya sendiri, tidak merasa puas tetapi merasa tidak bahagia, tidak mengembangkan secara bebas energi fisik dan mentalnya, tetapi mempermalukan tubuh dan meruntuhkan pikirannya. Oleh karena itu, hanya di luar kerjalah pekerja merasakan dirinya dan selagi bekerja dia merasa berada diluar dirinya, dia merasakan betah ketika sedang tidak bekerja, dan ketika dia sedang bekerja dia merasa tidak betah. Karena itu, kerjanya bukan atas kemauan sendiri, tetapi karena terpaksa, pekerjaan yang terpaksa. Sehingga, kerja itu bukan pemenuhan suatu kebutuhan, hanya suatu alat untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan di luar kebutuhan itu.

Hasilnya, orang merasa aktif secara bebas hanya di dalam fungsi-fungsi hewani mereka, makan minum menghasilkan keturunan saja. Di dalam proses kerja yang pada hakikatnya manusiawi, mereka tidak lagi merasa dirinya menjadi apa pun selain sebagai hewan.

Alienasi dapat dilihat mempunyai empat komponen mendasar.

  1. Para pekerja di dalam masyarakat kapitalis di alienasi dari kegiatan produktifnya. Mereka tidak menghasilkan objek-objek menurut ide-ide mereka sendiri atau memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka sendiri secara langsung. Malah, para pekerja bekerja bagi kaum kapitalis, yang memberi upah sekedar untuk menyambung hidup sebagai balasan untuk pemakaian mereka dalam cara yang dianggap cocok oleh sang kapitalis. Karena kegiatan produktif adalah milik kaum kapitalis, dan karena mereka yang memutuskan apa yang harus dilakukan, dapat dikatakan bahwa para pekerja teralienasi dari kegiatan itu. Selanjutnya, banyak pekerja yang melaksanakan tugas-tugas yang sangat terspesialisasi tidak banyak mengerti tentang peran mereka di dalam proses produksi keseluruhan.
  2. Para pekerjaan di dalam masyarakat kapitalis teralienasi bukan hanya melalui kegiatan-kegiatan produktif tetapi dari objek kegiatan kegiatan-kegiatan produk. Produk pekerjaan mereka bukan milik para pekerja, tetapi milik para kapitalis, yang mungkin memakainya dengan cara apa pun yang mereka inginkan karena merupakan hak milik pribadi para kapitalis. Jika para pekerja ingin memiliki hasil pekerjaan mereka sendiri, mereka harus membelinya seperti orang lain. Tidak soal semendesak apa pun para pekerja membutuhkannya, mereka tidak dapat memakai produk-produk pekerjaan mereka sendiri untuk memenuhi kebutuhannya. Bahkan, para pekerja di sebuah toko roti pun bisa kelaparan jika mereka tidak memiliki uang untuk makan. Karena hubungan yang ganjil tersebut tampak bagi kita lebih merupakan ekspresi diri kita dari pada barang-barang yang kita hasilkan sendiri.
  3. Para pekerja di dalam masyarakat kapitalis teralienasi dari para rekan kerjanya. Asumsi Marx ialah bahwa pada dasarnya orang butuh dan ingin bekerja sma agar dapat mengambil dari alam apa yang mereka perlukan untuk bertahan hidup. Akan tetapi di dalam kapitalisme kerja sama tersebut di ganggu dan orang-orang asing di paksa bekerja berdampingan untuk sang kapitalis.
  4. Para pekerja di dalam masyarakat kapitalis teralienasi dari potensi manusianya sendiri. Sebagai ganti dari sumber transformasi dan pemenuhan hakikat manusia, tempat kerja malah menjadi tempat kita merasa paling kurang sebagai manusia, paling kurang sebagai diri kita sendiri. Para individu semakin sedikit bekerja sebagai manusia karena mereka semakin tersusutnya di dalam pekerjaan mereka menjadi fungsi sebagai mesin, bahkan senyum dan penyambutan diprogram dan dibakukan.

 

Struktur-struktur Masyarakat Kapitalis

Di eropa pada zaman  Marx, industrialisasi sedang meningkat. Pada 1840-an, ketika mark sedang memasuki  periode yang paling produktifnya, Eropa sedang mengalami perasaan krisis social yang tersebar luas. Pada 1848 serangkaian pemberontak melanda seluruh Eropa (segera sesudah penerbitan karya Marx dan Engel Communis Manifesto). Pada permulaan abad ke sembilan belas, barang-barang hasil pabrik yang murah dari Inggris dan Prancis mulai memaksa para pengusaha pabrik  yang kurang efisien di Jerman keluar dari dunia bisnis. Analsis Marx atas alienasi adalah respon terhadap perubahan-perubahan ekonomis, sosial, dan perubahan-perubahan politis yang disaksikan Marx terjadi di sekitarnya.

Kapitalisme adalah suatu sistem ekonomi dengan sejumlah besar pekerja yang menghasilkan sedikit komoditi demi keuntungan sejumlah kecil kapitalis yang  memiliki segala hal berikut ini: komoditi, alat-alat produksi komoditi, dan waktu kerja kaum pekerja, yang dibeli melalui upah. Salah satu dari wawasan  sentral Marx ialah bahwa kapitalis jauh lebih dari sekedar sistem ekonomi. Kapitalis juga adalah sistem kekuasaan. Rahasia kapitalis ialah bahwa kekuasaan politis telah diubah menjadi relasi-relasi ekonomi. Tujuan Marx ialah membuat struktur-struktur sosial dan politis ekonomi lebih jelas dengan hukum pergerakan ekonomi masyarakat modern. Selanjutnya, Marx bermaksud menyingkapkan kontradiksi-kontradiksi internal yang diharapkan akan mentransformasikan kapitalisme secara tidak terhindarkan.

Komoditas

Dasar dari semua karya Marx mengenai struktur sosial, dan letak keterikatannya yang palig jelas dengan pandangan-pandangan mengenai potensi-potensi manusia, adalah di dalam analisisnya mengenai produk-produk pekerjaan yang terutama dimaksudkan untuk pertukaran. Seperti dinyatakan oleh George Lukacs, masalah komoditas adalah… “masalah structural yang sentral bagi masyarakat kapitalis.” Bertolak dari komoditas, Marx mampu menyingkapkan hakikatnya kapitalisme. Pandangan  Marx atas komoditas berakar di dalam oritentasi materialistisnya, dengan fokus pada kegiatan-kegiatan produktif para actor. Seperti yang kita lihat lebih awal menurut pandangan Marx, dalam interaksinya dengan alam dan para aktor lainnya, manusia menghasilkan barang-barang mereka butuhkan agar dapat bertahan hidup. Barang-barang itu dihasilkan untuk digunakan sendiri atau untuk digunakan orang lain di lingkungan dekatnya. Penggunaan seperti itulah yang disebut Marx nilai guna komoditas. Akan tetapi, di dalam kapitalisme proses itu mengambil bentuk yang baru yang berbahaya. Bukannya menghasilkan untuk dirinya sendiri atau untuk teman di lingkungan dekatnya, para aktor malah menghasilkan untuk orang lain (kaum kapitais). Produk-produk tersebut mempunyai nilai tukar. Yakni, ketimbang digunakan segera, ia dipertukarkan di pasar demi uang atau untuk barang-barang lain.

Pemberhalaan Komoditas

Didalam kapitalisme yang berkembang sepenuhnya, kepercayaan seperti itu menjadi realitas ketika objek-objek dan pasar-pasarnya benar-benar menjadi fenomena nyata yang independen. Komoditas menerima realitas ekternal independen yang nyaris mistis. Marx menyebut prose situ sebagai pemberhalaan komoditas (fetishism of commodity). Marx tidak memaksudkan bahwa komoditas menerima makna seksual, karena dia menulis sebelum Freud yang memberi pelintiran istilah fetish itu. Mark menyinggung cara-cara bagaimana praktisi sejumlah agama seperti kaum Zuni, mengukir patung-patung dan kemudian memujanya. Dengan fetish, Marx memaksudkan suatu benda yang kita buat sendiri dan kemudian kita puja seakan-akan ia adalah dewa. Pemberhalaan komoditas member ekonomi realitas objektif dan independen yang bersifat ekternal dan memaksa kepada sang aktor. Dilihat dengan cara demikian, pemberhalaan komoditas diterjemahkan kedalam konsep reifikasi (. Reifikasi dapat dipikirkan sebagai “pembendaan” (thingification) atau proses menjadi percaya bahwa bentuk-bentuk sosial yang diciptakan secara manusiawi adalah benda-benda alamiah, universal, dan absolute.

Modal, Kaum Kapitakis, dan Kaum Proletariat

                Marx mengemukakan inti masalah kapitalis di dalam komoditas. Masyarakat yang didominasi oleh benda-benda dengan nilai utama adalah pertukaran, menghasilkan kategori-kategori manusia tertentu. Dua tipe utama yang diperhatikan Marx adalah kaum proletariat dan kapitalis. Para pekerja yang menjual tenaga kerja mereka dan tidak memiliki alat-alat produksi sendiri adalah anggota kaum proletariat. Mereka tdak memiliki peralatan sendiri atau pabrik-pabrik. Orang-orang yang membayar upah adalah kaum kapitalis. Kapitalis adalah kaum-kaum yang memiliki alat-alat produksi. Capital (modal) adalah uang yang menghasilkan uang yang lebih banyak lagi, modal adalah uang yang ditanamkan daripada digunakan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan atau keinginan-keinginan manusia. Modal adalah uang yang telah menghasilkan uang yang lebih banyak, tetapi Marx mengatakan hal yang lebih banyak daripada itu modal juga adalah suatu relasi sosial yang khusus. Uang menjadi modal hanya karena suatu relasi sosial diantara, di satu pihak, kaum proletariat, yang melakukan pekerjaan dan harus membali produk dan di pihak lain orang-orang yang telah menanamkan uang itu.

EKSPLOITASI

Bagi Marx, eksploitasi merupakan hal yang sangat penting. Setiap orang dapat mengeksploitasi. Namun eksploitasi yang terjadi tidak termasuk ke dalam kekuasaan. Eksploitasi cenderung mengarah kepada perekonomian. Paksaan yang terjadi tidak dilakukan secara terang-terangan tetapi melalui para pekerja. Para pekerja membutuhkan uang yang sebagai gantinya mereka harus menjual tenaga mereka kepada kaum kapitalis sesuai dengan harga orang-orang kapitalis. Para pekerja dipaksa untuk menerima syarat-syarat yang ditawarkan dari orang kapitalis karena para pekerja tidak menghasilkan kebutuhan mereka sendiri. Kapitalisme mangacu kepada pasukan cadangan pengangguran. Jika seorang pekerja tidak mau menerima persyaratan yang diajukan oleh kapitalis, mereka akan menawarkan pekerjaan kepada orang yang berada dalam pasukan cadangan pengangguran. Orang-orang yang berada disana tentu saja akan bersedia menerima persyaratan apapun yang diajukan oleh kapitalis untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri.

Kapitalis selalu membayar upah buruh lebih sedikit dari nilai yang mereka hasilkan dan menyimpannya untuk dirinya sendiri. Kaum kapitalis dapat menggunakan keuntungan yang mereka dapatkan. Tetapi mereka selalu menggunakan keuntungan mereka untuk memperluas perusahaan-perusahaan mereka sehingga mereka dapat memperluas nilai surplus yang didapatkan. Nilai surplus ini bukan hanya konsep ekonomi. Nilai surplus, seperti modal merupakan suatu relasi sosial khusus dan suatu bentuk dominasi karena tenagaa kerja merupakan sumber nyata bagi nilai surplus. Seperti metafora Marx : “Modal adalah tenaga kerja yang mati, yang seperti vampir, hidup hanya dengan mengisap tenaga kerja yang hidup dan semakin hidup bila banyak tenaga kerja yang diisapnya“. Hal ini berarti kaum kapitalis akan terus mengeksploitasi tenaga kerja seorang buruh untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar.

Kapitalisme selalu digerakkan oleh persaingan yang tidak kenal henti. Kaum kapitalis mungkin selalu terlihat dalam keadaan aman tetapi mereka pun digerakkan oleh persaingan-persaingan terus menerus diantara modal-modal yang ada. Kaum kapitalis terdorong untuk menghasilkan keuntungan yang lebih besar agar dapat menumpuk dan menanamkan modal lebih banyak. Kekuatan untuk mendapatkan keuntungan dan nilai surplus yang lebih banyak. Berdasarkan pandangan Marx bahwa tenaga kerja adalah sumber nilai. Para kapitalis terdurung untuk memperhebat eksploitasi kaum proletariat sehingga itu akan menimbulkan konflik dalam kelas.

KONFLIK KELAS

Teori konflik adalah teori yang memandang bahwa perubahan sosial tidak terjadi melalui proses penyesuaian nilai-nilai yang membawa perubahan, tetapi terjadi akibat adanya konflik yang menghasilkan kompromi-kompromi yang berbeda dengan kondisi semula. Teori ini didasarkan pada pemilikan sarana- sarana produksi sebagai unsur pokok pemisahan kelas dalam masyarakat.

Teori konflik muncul sebagai reaksi dari munculnya teori struktural fungsional. Pemikiran yang paling berpengaruh atau menjadi dasar dari teori konflik ini adalah pemikiran Karl Marx. Pada tahun 1950-an dan 1960-an, teori konflik mulai merebak. Teori konflik menyediakan alternatif terhadap teori struktural fungsional.

Pada saat itu Marx mengajukan konsepsi mendasar tentang masyarakat kelas dan perjuangannya. Marx tidak mendefinisikan kelas secara panjang lebar tetapi ia menunjukkan bahwa dalam masyarakat, pada abad ke- 19 di Eropa di mana dia hidup, terdiri dari kelas pemilik modal (borjuis) dan kelas pekerja miskin sebagai kelas proletar. Kedua kelas ini berada dalam suatu struktur sosial hirarkis, kaum borjuis melakukan eksploitasi terhadap kaum proletar dalam proses produksi. Eksploitasi ini akan terus berjalan selama kesadaran semu eksis (false consiousness) dalam diri proletar, yaitu berupa rasa menyerah diri, menerima keadaan apa adanya tetap terjaga. Ketegangan hubungan antara kaum proletar dan kaum borjuis mendorong terbentuknya gerakan sosial besar, yaitu revolusi. Ketegangan tersebut terjadi jika kaum proletar telah sadar akan eksploitasi kaum borjuis terhadap mereka.

Ada beberapa asumsi dasar dari teori konflik ini. Teori konflik merupakan antitesis dari teori struktural fungsional, dimana teori struktural fungsional sangat mengedepankan keteraturan dalam masyarakat. Teori konflik melihat pertikaian dan konflik dalam sistem sosial. Teori konflik melihat bahwa di dalam masyarakat tidak akan selamanya berada pada keteraturan. Buktinya dalam masyarakat manapun pasti pernah mengalami konflik-konflik atau ketegangan-ketegangan. Kemudian teori konflik juga melihat adanya dominasi, koersi, dan kekuasaan dalam masyarakat. Teori konflik juga membicarakan mengenai otoritas yang berbeda-beda. Otoritas yang berbeda-beda ini menghasilkan superordinasi dan subordinasi. Perbedaan antara superordinasi dan subordinasi dapat menimbulkan konflik karena adanya perbedaan kepentingan.

Teori konflik juga mengatakan bahwa konflik itu perlu agar terciptanya perubahan sosial. Ketika struktural fungsional mengatakan bahwa perubahan sosial dalam masyarakat itu selalu terjadi pada titik ekulibrium, teori konflik melihat perubahan sosial disebabkan karena adanya konflik-konflik kepentingan. Namun pada suatu titik tertentu, masyarakat mampu mencapai sebuah kesepakatan bersama. Di dalam konflik, selalu ada negosiasi-negosiasi yang dilakukan sehingga terciptalah suatu konsensus.

Menurut teori konflik, masyarakat disatukan dengan “paksaan”. Maksudnya, keteraturan yang terjadi di masyarakat sebenarnya karena adanya paksaan (koersi). karena itu, teori konflik lekat hubungannya dengan dominasi, koersi, dan power. Terdapat dua tokoh sosiologi modern yang berorientasi serta menjadi dasar pemikiran pada teori konflik, yaitu Lewis A. Coser dan Ralf Dahrendorf.

Kapitalisme sebagai Hal yang Baik

Disamping fokusnya pada krisis-krisis kapitalisme yang tidak terhindarkan dan pelukisannya mengenai kapitalisme sebagi suatu sistem dominasi dan eksploitasi, Marx melihat kapitalisme terutama sebagai sesuatu hal yang baik. Tentu saja Marx tidak ingin kembali kenilai-nilai tradisional prakapitalisme. Generasi-generasi masa lampau benar-benar dieksploitasi perbedaanya hanyalah eksploitasi lama tidak terselubung di balik suatu sistem ekonomi. Kelahiran kapitalisme membuka kemungkinan-kemungkinanbaru untuk kebebasan para pekerja.

Selain itu, Marx percaya bahwa kapitalisme adalah akar yang menyebabkan ciri-ciri penetuan zaman modern. Perubahan terus-menerus modernitas dan kecondongannya untuk menentang segala tradisi yang diterima didorong oleh kompetisi yang tidak dapat di pisahkan dalam kapitalisme, mendorong para kapitalis terus merevolusionisasi alat-alat produksi dan mentransformasi masyarakat.

Konsepsi Materialis atas Sejarah

Marx mampu mengkritik kapitalisme dari persepektif masa depannya karena kepercayaannya bahwa sejarah akan mengikuti arah yang dapat diprediksi. Kepercayaan itu didasarkan pada konsep materialisnya atas sejarah. Klaim umum materialism historis Marx ialah bahwa cara orang menyediakan kebutuhan-kebutuhan materialnya menetukan atau, secara umum membentuk hubungan-hubungan orang-orang antara satu sama lainnya lembaga-lembaga sosialnya dan bahkan ide-ide mereka yang lazim.

Di dlam produksi sosial yang di lakukan manusia mereka memasuki relasi-relasi nyata yang sangat diperlukan dan independen dari keinginan mereka. Relasi-relasi produksi tersebut berkenaan dengan tahap yang jelas dari perkembangan kekuatan-kekuatan produksi material mereka. Totalitas hubungan-hubungan produksi itu merupakan struktur ekonomis masyarakat yang merupakan fondasi nyata yang melandasi munculnya superstruktur legal dan politis yang sesuai dengan bentuk-bentuk kesadaran sosial yang tegas.

Ekonomi kapitalis menumbuhkembangkan relasi-relasi unik di antara manusia dan menciptakan pengharapan-pengharapan, kewajiban-kewajiban, dan tugas-tugas tertentu.Contohnya para buruh upahan harus menunjukan rasa hormat tertentu kepada para kapitalis jika mereka ingin tetap bekerja. Bagi Marx hal yang terpenting tentang relasi-relasi produksi seperti itu ialah kecendrungannya kepada konflik kelas, tetapi juga memungkinkan untuk melihat efek dari relasi-relasi produksi itu di dalam relasi-relasi keluarga dan pribadi.

Pandangan Marx atas sejarah adalah suatu pandangan yang dinamis, sehingga dia percaya bahwa kekuatan-kekuatan produksi akan berubah untuk menyediakan kebutuhan-kebutuhan material dengan lebih baik. Contoh, inilah yang terjadi dengan kedatangan kapitalisme ketika perubahan-perubahan teknologis memungkinkan berdirinya pabrik-pabrik. Akan tetapi, sebelum kapitalisme dapat benar-benar terjadi, harus ada perubahan-perubahan di dalam masyarakat, perubahan-perubahan di dalam relasi-relasi produksi.

Suatu revolusi sering dipermalukan untuk mengubah relasi-relasi produksi. Sumber utama revolusi adalah kontradiksi material antara kekuatan-kekuatan produksi dan relasi-relasi produksi. Akan tetapi, revolusi juga dihasilakan oleh kontradiksi yang lain, antara pihak yang mengeksploitasi dan pihak yang dieksploitasi. Menurut Marx, kontradiksi demikian, yang selalu ada menyebabkan perubahan revolusioner bila pihak yang di eksploitasi berbaris untuk mendukung suatu perubahan di bidang relasi-relasi produksi yang lebih menyukai perubahan-perubahan yang sedang terjadi di dalam kekuatan-kekuatan produksi. Suatu revolusi yang efektif, menurut Marx akan menyebabkan perubahan di bidang relasi-relasi penduduk, lembaga-lembaga, dan ide-ide sehingga dapat mengesahkan relasi-relasi produksi yang baru.

Aspek – aspek kultural masayarakat kapitalis

Selain fokusnya pada stuktur- stuktur material kapitalisme, Marx juga berteori tentang aspek- aspek kulturalnya.

  1. 1.     Ideologi

Bukan hanya relasi-relasi produksi yang sudah ada yang cenderung mencegah perubahan-perubahn yang diperlukan untuk perkembangan kekuatan –kekuatan produksi, tetapi relasi-relasi, lembaga – lembaga pendukung, dan khususnya ide-ide yang lazimpun cenderung mencegah perubahan-perubahan itu. Marx menyebut ide-ide yang lazim yang melaksanakan fungsi tersebut sebagai ideologi. Tampaknya Marx menggunakan kata itu untuk menunjukan dua jenis ide yang berhubungan.

Pertama, ideologi mengacu kepada ide-ide yang secara alamiah muncul dari kehidupan sehari-hari didalam kapitalisme , tetapi karena hakikat kapitalisme mencerminkan kenyataan dengan cara yang terbalik. Untuk menjelaskan makna istilah itu, Marx menggunakan metaphor sebuah obscura kamera, yang mengguanakan suatu quirk optik untuk menunjukan suatu gambar nyata yang dicerminkan secara terbalik. Yang kedua Marx menggunakan istilah ideologi untuk mengacu kepada sistem-sistem ide penguasa yang sekali lagi mencoba menyembunyikan kontradiksi-kontradiksi yang ada di jantung sistem kapitalis. Marx mengacu kepada pada ekonom borjuis yang menggambarkan bentuk komunitas sebagai hal yang universal dan alamiah.

  1. 2.       Kebebasan, kesetaraan dan ideologi

Menurut Marx, ide-ide khusus kita atas kesetaraan dan kebebasan muncul dari kapitalisme. Marx menganggap bahwa perubahan di bidang ide-ide kita itu dapat dilacak lewat praktik-praktik kapitalisme sehari-hari. Tindakan pertukaran yang merupakan dasar kapitalisme, menggadaikan kesetaraan manusia didalam pertukaran. Untuk komoditas-komoditas, perbedaan- perbedaan kualitatif yang khusus mengenai nilai gunanya disembunyikan oleh nilai tukarnya. Dengan kata lain apel dan jeruk dibuat setara dengan mereduksi mereka menjadi nilai moneternya.

Selanjutnya, kebebasan diasumsikan didalam pertukaran itu karena setiap mitra untuk pertukaran dianggap bebas untuk melakukan pertukaran atau tidak bila mereka melihatnya cocok. Marx menyimpulkan bahwa “kesetaraan dan kebebasan tidak hanya dihargai didalam pertukaran yang didasarkan kepada nilai-nilai tukar tetapi pertukaran dari nilai-niali tukar adalah dasar produktif yang nyata dari semua kesetaraan dan kebebasan”. Namun demikian Marx percaya bahwa praktik-praktik kapitalis menghasilkan suatu pandangan terbalik tentang kebebasan. Tampaknya kita bebas, tetapi sebenarnya modallah yang bebas dan kitalah yang diperbudak.

Marx percaya bahwa sistem kapitalis secara alamiah tidak setara, para kapitalis secara otomatis lebih diuntungkan dalam sistem kapitalis, sementara para pekerja dirugikan secara otomatis. Dibawah kapitalisme, orang-orang yang memiliki alat-alat produksi, orang-orang yang mempunyai modal, menghasilkan uang dari uang mereka. Dibawah kapitalisme, modal memperankan modal yang lebih banyak yakni, investasi – investasi menghasilkan suatu imbalan dan seperti yang kita lihat diatas, Marx percaya bahwa hal itu berasal dari ekploitasi para pekerja.

  1. 3.       Agama

Marx juga melihat agama sebagai suatu ideologi. Dia terkenal mengacu kepada agama sebagai candu bagi masayarakat, tetapi perlulah melihat seluruh kutipannya :

“kesukaran agamis pada saat yang sama adalah ungkapan kesukaran yang nyata dan juga protes terhadap kesukaran yang nyata. Agama adalah desahan makhluk yang tertindas, hati dari dunia yang tidak punya hati, sebagaimana agama adalah semngat bagi kondisi-kondisi yang tidak punya semnagat. Agama adalah candu bagi masyarakat”.

Marx percaya bahwa agama, seperti semua ideologi mencerminkan suatu kebenaran tetapi kebenaran itu terbalik, karena orang tidak dapat melihat bahwa kesukaran dan penindasan mereka diberi suatu bentuk agamis. Marx mengatakan dengan jelas bahwa dia tidak menentang agama dalam dirinya sendiri, tetapi menantang suatu sistem yang menghendaki ilusi-ilusi dari agama.

 

 

EMILE DURKHEIM

PEMBAGIAN KERJA

Emile Durkheim lahir di Epinal, Prancis pada tanggal 15 April 1858.Ia adalah seorang yang memiliki keturunan dari orang yahudi.Dia menolak karier akademis tradisional di bidang filsafat dan berusaha memperoleh pelatihan ilmiah yang diperlukan untuk memandu moral masyarakat. Walaupun dia tertarik pada sosiologi ilmiah, namun dimasa itu belum ada disiplin sosiologi, sehingga antara tahun 1882 sampai 1887 dia mengajar filsafat dibeberapa sekolah provinsi di sekitar Paris. Durkheim melakukan perjalanan ke Jerman dimana ia berkenalan dengan psikologi ilmiah yang dirintis oleh Wilhelm Wundt. Durkheim menerbitkan beberapa karya yang melukiskan pengalamannya di Jerman.Publikasi-publikasi ini membantunya memperoleh posisi di departement filsafat di Universitas Bordeaux pada tahun 1887.

Tahun 1893 ia menerbitkan tesis doktoral dalam bahasa Prancis, The Division of Labour in Society dan tesisnya dalam bahasa latin Montesquieu. Pernyataan metodologis utamanya, The Rules of Sociologycal Method yang terbit tahun 1895. Pada tahun 1897 diikuti oleh penerapan metode-metode tersebut dalam study empiris dalam buku Le Suicide. Tahun1896 ia menjadi profesor penuh di Bordeaux. Kini Durkheim sering kali disebut sebagai seorang yang berhaluan politik konservatif dan pengaruhnya dalam bidang sosiologi jelas-jelas konservatif. Namun pada zamannya ia dipandang sebagai seorang liberal dan ini tercermin ketika ia secara aktif berperan dalam membela Alfret Dreyfus yang divonis mati karena penghinaan terhadap Tuhan. Durkheim wafat pada tanggal 15 November 1917.

Dalam studinya Le Suicide durkheim bermaksud untuk menyelidiki sampai sejauh mana dan bagaimana individu-individu dalam masyarakat modern masih tergantung dan berada di bawah pengaruh masyarakat. Secara klasik hampir semua konsep dasar sosiologi telah bertahan dari waktu ke waktu, yang diperpanjang dan dirumuskan dengan mengubah keadaan historis dan perspektif analitis baru. Fokus utama dari pembagian kerja merupakan organisasi produksi sosial-ekonomi, dan hubungannya dengan kohesi atau integrasi sebagai moda masyarakat umum. Meskipun memiliki prasejarah panjang, pembagian tenaga kerja datang sebagai konsep sosiologi sebagai upaya memahami transformasi sosial yang cepat dan penting di Eropa abad ke-19, yakni industrialisme dan urbanisme.

Baik Aristoteles dan Plato telah terkait dengan kebutuhan pembagian tenaga kerja dalam pembentukan masyarakat. Ini juga merupakan konsep penting bagi perekonomian poltik klasik. Dalam The Wealth of Nations, Adam Smith berpendapat bahwa pembagian kerja meningkatkan kekuatan produktif tenaga kerja dan menyebabkan kapasitas untuk menciptakan kekayaan. Menggunakan contoh di pabrik peniti, dia menunjukkan pembagian yang “dan kombinasikan dari operasi dari operasi yang berbeda” menjadi urutan tugas yang menghasilkan peningkatan minimal 240 kali lipat dalam pembuatannya. Sementara konsep sosiologis Durkheim dan Marx juga menyoroti spesialisasi, individuasi dan saling ketergantungan, akibatnya mereka tidak terhubung dengan cara yang sama atau lebih positif sebagaimana Smith dengan bentuk persamaan dari kohesi, solidaritas, ketimpangan, kekuasaan dan moralitas atau ideologi.

Dalam buku The Difision of Labour On Society, Durkheim menerangkan bahwa masyarakat modern tidak diikat oleh kesamaan antara orang-orang yang melakukan pekerjaaan yang sama, akan tetapi pembagian kerjalah yang mengikat masyarakat dengan memaksa mereka agar tergantung satu sama lain. Solidaritas  menunjuk pada suatu keadaan hubungan antara individu atau kelompok yang didasarkan pada perasaan moral dan kepercayaan yang dianut bersama yang diperkuat oleh pengalaman emosional bersama.

Pembagian kerja menurut Emile Durkheim tidak sama dengan Adam Smith yang semata-mata digunakan untuk meningkatkan produktivitas, tetapi untuk menciptakan kehidupan sosial yang terintegrasi tidak selalu tergantung pada homogenitas. Bagi Durkheim, dengan pembagian kerja maka mampu meningkat solidaritas masyarakat yang akhirnya menciptakan sebuah integrasi dalam heterogenitas. Misalnya, menanam padi ada yang dipekerjakan untuk mengolah tanah, menanam benih padi, memanen, dan sebagainya. Harapannya ialah adanya keterkaitan antar satu individu dengan individu lain yang lebih erat (ketergantungan yang menciptakan integrasi, solidaritas kuat). Namun, pada masyarakat modern yang mempunyai i pembagian kerja tinggi ternyata menampilkan individualitas tinggi, hukum restitutif, ketergantungan yang tinggi mengacu pada konflik, kesadaran kolektif lemah, bersifat industrial l perkotaan.

Pembagian kerja menurut Durkheim adalah fakta sosial material karena merupakan bagian dari interaksi dalam dunia sosial. Persoalan paling kontroversial dalam pendapat durkheim adalah sosiolog mampu membedakan antara masyarakat sehat dan masyarakat patologi. Namun ada sesuatu yang menarik yang dalam argumen tersebut, yaitu menurut Durkheim, kriminal adalah sesuatu yang normal dalam patologi. Dalam “Division of Labour” Durkheim menggunakan ide patologis untuk mengkritik bentuk “ abnormal” yang ada dalam pembagian kerja masyarakat modernPembagian kerja tersebut adalah pembagian kerja anomi yaitu tidak adanya regulasi dalam masyarakat yang menghargai individualitas yang terisolasi dan tidak mau memberi tahu masyarakat tentang apa yang harus mereka kerjakan, pembagian kerja yang dipaksakan yaitu aturan yang dapat menimbulkan konflik dan isolasi serta yang akan meningkatkan anomi. Hal ini menunjuk pada norma yang ketinggalan jaman dan harapan-harapan individu, kelompok, dan kelas masuk ke dalam posisi yang tidak sesuai bagi mereka serta pembagian kerja yang terkoordinasi dengan buruk, disini Durkheim kembali menyatakan bahwa solidaritas organis berasal dari saling ketergantungan antar mereka.

Pemikiran sosiologis Emile Dhurkheim mengenai pembagian kerja dalam masyarakat dianalisis melalui solidaritas sosial. Tujuan analisis tersebut menjelaskan pengaruh kompleksitas dan spesialisasi pembagian kerja dalam struktur sosial dan perubahan-perubahan yang diakibatkannya dalam bentuk-bentuk pokok solidaritas. Misalnya, dalam perusahaan memperlihatkan semangat kerja yang tinggi, tetapi nilai dan norma tidak dapat mengontrol perilaku dengan cermat dan tegas apabila diferensiasi dan spesialisasinya rendah. Saling ketergantungan yang muncul dari deferensiasi dan spesialisasi secara relatif menjadi lebih penting sebagai suatu dasar solidaritas daripada nilai dan norma. Solidaritas sosial menunjuk pada suatu keadaan hubungan antara individu dan atau kelompok yang didasarkan pada perasaan moral dan  kepercayaan yang dianut bersama yang diperkuat oleh pengalaman emosional bersama. Analisa Durkheim mengenai solidaritas sosial dasajikan menurut:

  1. Perbedaan-perbedaan dalam tipe solidaritas sosial,
  2. Ancaman-ancaman terhadap solidaritas dan tanggapan masyarakat terhadap ancaman ini,
  3. Munculnya penegasan atau penguatan solidaritas lewat ritus-ritus agama.

Dalam The Division of Labour in Society, minat utama Durkheim adalah pada efek solidaritas sosial dari berbagai jenis pembagian kerja. Dia mempertentangkan solidaritas “organik” ke solidaritas “mekanis”, melihat bentuk karakteristik “lanjut” dan “teknis” masyarakat dan yang terakhir dari klan atau kekerabatan berbasis masyarakat “primitif”. Pada yang terakhir, ia berpendapat (berdasarkan data antropologi yang salah), orang relatif dibeda-bedakan satu sama lain. Semua terlibat dalam kegiatan yang sama dan mematuhi seperangkat nilai-nilai dan norma-norma (nurani kolektif) yang mengikat mereka bersama-sama. Pembagian kerja tidak terbangun, seperti dalam masyarakat mekanis seperti solidaritas dan individualitas yang tidak kompatibel. Dalam masyarakat industri modern, sebaliknya, solidaritas organik berasal dari perbedaan komplementer dan antarketergantungan yang dihasilkan dari diferensiasi fungsional dan spesialisasi. Individuasi dan perbedaan yang dihasilkan oleh pembagian kerja disini menjadi dasar solidaritas sosial, bukannya merusak, dan kohesi merupakan hasil dari mempertinggi ikatan sosial. Individualisme adalah nilai kolektif bersama oleh seluruh lapisan masyarakat.

Durkheim dalam The Division of Labor in Society (1893/1964) juga, melacak perkembangan relasi modern diantara para individu dan masyarakat. Secara khusus, Durkheim ingin menggunakan ilmu sosiologinya yang baru untuk memeriksa apa yang oleh banyak orang pada masa itu telah dilihat sebagai krisis moralitas modern.

Pada masa Durkheim, di Prancis ada suatu perasaan krisis moral yang tersebar luas. Revolusi Prancis telah mengumumkan bahwa hak-hak individu yang digembar-gemborkan, menjadi suatu serangan terhadap otoritas tradisional dan kepercayaan-kepercayaan agamis. Pada pertengahan abad ke-19, banyak orang merasa bahwa tatanan sosial terancam karena orang hanya memikirkan diri sendiri dari pada kepentingan bersama.

Menurut Auguste Comte, dari berbagai peristiwa yang telah terjadi di Prancis, banyak peristiwa itu yang diusut melalui pembagian kerja yang semakin bertambah. Dalam masyarakat yang sederhana, orang melakukan hal-hal yang pada dasarnya sama, seperti bertani dan mereka mempunyai pengalaman-pengalaman yang sama dan akibatnya memiliki nilai-nilai bersama. Berbeda  dengan apa yang terjadi pada masyarakat modern, setiap orang memiliki pekerjaan yang berbeda. Ketika orang-orang sudah terspesialisasi berdasarkan pekerjaan, mereka tidak punya lagi pengalaman-pengalaman bersama. Keberagaman itu  terkadang menghancurkan kepercayaan moral yang dianut bersama dan memang sangat diperlukan bagi suatu masyarakat. Akibatnya, orang tidak mau berkorban secara sosial pada saat dibutuhkan. Tetapi Durkheim memberikan penyangkalan terhadap apa yang dikatakan oleh Comte. Menurutnya, pembagian kerja tidaklah melambangkan hancurnya moralitas sosial, tetapi lebih melambangkan moralitas sosial yang baru.

Menurut Durkheim, bahwa masyarakat modern tidak disatukan oleh hal-hal yang pada dasarnya sama. Tetapi pembagian kerja itulah yang menarik orang-orang bersama dengan memaksa mereka saling bergantung satu sama lain. Sebagian orang mungkin memandang bahwa pembagian kerja merusak perasaan solidaritas, tetapi Durkheim beranggapan bahwa pembagian kerja adalah sesuatu yang memiliki makna tersendiri dalam perkembangan sosial. Pembagian kerja adalah bagian dari fakta sosial yang bersifat material, dalam hal ini yang menggambarkan tingkat dan batasan tanggung jawab maupun kewenangan. Ide dasarnya berangkat dari sebuah tipe ideal masyarakat atau pemilahan berdasarkan tataran perubahan masyarakat.

Solidaritas Mekanis dan Organik

Perubahan di dalam pembagian kerja mempunyai implikasi-implikasi yang sangat besar bagi struktur masyarakat. Durkheim melihat bahwa setiap masyarakat manusia memerlukan solidaritas. Ia membedakan antara dua tipe utama solidaritas, yaitu solidaritas mekanis dan solidaritas organik. Solidaritas mekanis merupakan suatu tipe solidaritas yang didasarkan atas persamaan. Menurut Durkheim solidaritas mekanis dijumpai pada masyarakat yang masih sederhana, dicirikan oleh prinsip yang sama karena semua orang generalis. Pada masyarakat seperti ini belum terdapat pembagian kerja yang berarti.

Evolusi sosial berkembang dari masyarakat yang bertumpu pada solidaritas mekanis atau masyarakat yang hubungan dan bangunan solidaritasnya berdasarkan tali ikatan tradisional, menuju masyarakat yang bertumpu pada solidaritas organik yaitu masyarakat yang berkembang atas dasar pembagian kerja. Solidaritas organik biasanya dijumpai pada masyarakat modern, dimana dalam masyarakat modern terbentuk spesialisasi posisi dengan batas tugas dan kewenangan yang jelas.  Durkheim menyatakan bahwa, “Hukum sejarah menunjukkan bahwa solidaritas mekanis yang dari mulanya muncul sendiri, secara cepat kehilangan dasar pijakannya dan solidaritas organik datang menggantikannya sedikit demi sedikit, kemudian menjadi lebih kuat.


Kepadatan Dinamis

Pembagian kerja adalah suatu fakta sosial material bagi durkheim karena merupakan suatu pola interaksi di dalam dunia sosial.  Durkheim  mempercayai bahwa penyebab peralihan dari solidaritas mekanis ke solidaritas organik ialah kepadatan dinamis. Konsep itu mengacu pada jumlah orang dalam satu masyarakat dan jumlah interaksi pada mereka makin banyak orang berarti bertambahnya persaingan untuk sumber sumber daya langkah dan makin banyak interaksi berarti perjuangan yang lebih keras untuk bertahan hidup di antara komponen-komponen masyarakat yang pada dasar yang sama .

Masalah-masalah yang dihubungkan dengan dinamika intensitas biasanya dipecahkan melalui diferensiasi dan pada akhirnya, munculnya bentuk-bentuk organisasi sosial baru. Munculnya pembagian kerja memungkinkan orang orang untuk saling melengkapi ketimbang berkonfilk dengan satu sama lain . pembagian kerja yang bertambah mengahasilkan efesiensi yang lebih besar, dengan hasil bahwa sumber-sumber daya bertambah, yang membuat persaingan atas mereka lebih damai. Hal itu menunjukkan perbedaan final antara solidaritas mekanis dan organik.

Dalam masyarakat dengan solidaritas organik, persaingan yang kurang dan diferensiasi yang lebih banyak memungkinkan orang untuk lebih bekerja sama dan semua orang didukung oleh dasar sumber daya yang sama. Karena itu, perbedaan memungkinkan ikatan-ikatan yang bahkan lebih besar diantara orang-orang daripada yang dimungkinkan persamaan. Dengan demikian, didalam suatu masyarakat yang dicirikan oleh solidaritas organik, ada lebih individualitas daripada yang ada pada masyarakat yang dicirikan oleh solidaritas mekanis. Maka, individualitas bukanlah lawan dari ikatan-ikatan sosial yang erat melainkan suatu persyaratan untuk itu.

 

Hukum Represitif dan Restitutif

Menurut Durkheim pada bentuk-bentuk solidaritas yang merupakan fakta-fakta sosial non material, Durkheim mennyatakan bahwa masyarakat dengan solidaritas mekanis dicirikan oleh hukum yang represif (menindas). Karena itu orang-orang sangat mirip di dalam tipe masyarakat tersebut dan karena itu orang cendrung sangat percaya pada moralitas bersama setiap serangan terhadap sistem nilai yang mereka anut bersama kemungkinan besar penting bagi sebagian dasar individu.

Pelanggar akan dihukum atas pelanggaranya terhadap sistem moral kolektif. Meskipun pelanggaran terhadap sistem moral hanya pelanggaran kecil namun mungkin saja akan dihukum dengan hukuman yang berat. Pada masyarakat tradisional tersebut kesadaran kolektif tinggi, rasa kekeluargaan erat. Hukum yang berlaku sangat kaku dan bersifat memaksa (solidaritas mekanik).

Sebaliknya masyarakat dengan solidaritas organik dicirikan oleh hukum restitutif yang menghendaki para pelanggar memberikan ganti rugi atas kejahatan mereka. Di dalam masyarakat demikian pelangaran-pelanggaran lebih mungkin dilihat sebagai perbuatan melawan individu tertentu atau segmen masyarakat daripada melawan sistem moral itu sendiri. Karena moralitas bersifat lemah, pada akhirnya sebagian besar orang tidak bereaksi secara emosional terhadap perlanggaran hukum.

 

Normal dan Patologis

Durkheim membedakan antara masyarakat yang sehat dan patologis setelah menggunakan ide itu di dalam The Division of labor, Durkheim menulis buku lain The Rules of Sosiological Method. Dia mengklaim bahwa masyarakat yang sehat dapat dikenali karena akan menemukan kondisi-kondisi yang serupa di dalam masyarakat lain pada tahap-tahap yang serupa. Jika suatu masyakat di temukan secara wajar, mungkin masyarakat itu patologis. Durkheim mengklaim, kejahatan membantu masyarkat mendefinisikan dan menggambarkan nurani kolektif mereka.

Di dalam The Division of Labor, dia menggunakan ide patologi untuk mengkritik beberapa bentuk “abnormal” pembagian kerja yang diterima di dalam masyarakat modern. Dia mengenali tiga bentuk abnormal :

  1. Pembagian kerja anomik, Pembagian kerja anomik mengacu  pada kurangnya pengaturan didalam suatu masyarakat yang merayakan individulitas yang terisolasi dan menahan diri dari apa yang harus dilakukan orang-orang. Sehingga mengacu pada kondisi- kondisi sosial ketika manusia kekurangan pengendalian moral yang memadai menghasilkan suatu kebingungan tentang norma dan semakin meningkatnya sifat yang tidak pribadi dalam kehidupan sosial, yang akhirnya mengakibatkan runtuhnya norma-norma sosial yang mengatur perilaku. Durkheim menamai keadaan anomie ini. Dari keadaan anomie muncullah segala bentuk perilaku menyimpang dan yang paling menonjol adalah bunuh diri.
  2. Pembagian kerja yang dipaksakan. Pembagian kerja ini menunjukan adanya sejenis aturan yang dapat menyebabkan konflik dan pengasingan sehingga menambah anomie. Patologi kedua itu mengacu kepada fakta bahwa norma-norma dan pengalaman-pengalaman yang sudah ketinggalan zaman dapat memaksa para individu, kelompok dan kelas-kelas kedalam posisi-posisi yang tidak cocok dengan mereka. Tradisi-tradisi, kekuasaan ekonomi, atau status dapat menentukan siapa  yang melaksanakan pekerjaan-pekerjaan dengan mengabaikan bakat dan kualifikasi.
  3. 3.       Pembagian kerja yang di koordinasikan dengan buruk, yaitu ketika fungsi-fungsi yang terspesialisasi di laksanakan oleh orang yang berbeda yang tidak menghasilkan interdepensi yang bertambah tetapi hanya pengasingan dan pembagian kerja  yang tidak akan menghasilkan solidaritas sosial.

Keadilan

Agar pembagian kerja dapat berfungsi sebagai moral dan secara sosial menjadi kekuatan pemersatu dalam masyarakat modern, maka ketiga perilaku patologi yaitu anomie, pembagian kerja yang dipaksakan dan koordinasi yang tidak tepat harus diminimalisir. Keadilan sosial merupakan kunci bagi proses yang dialami masyarakat modern, yang tidak lagi dipersatukan atas dasar persamaan, tetapi atas dasar perbedaan, di mana perbedaan tersebut mengarah pada sikap kesalingbergantungan.

Durkheim berpendapat masyarakat modern bentuk solidaritas moralnya mengalami perubahan bukannya hilang. Dalam masyarakat ini, perkembangan kemandirian yang diakibatkan oleh perkembangan pembagian kerja menimbulkan kesadaran-kesadaran individual yang lebih mandiri, akan tetapi sekaligus menjadi semakin tergantung satu sama lain, karena masing-masing individu hanya merupakan satu bagian saja dari suatu pembagian pekerjaan sosial.

Pertumbuhan dalam pembagian kerja (solidaritas organis sebagai hasilnya) tidak menyebabkan hilangnya kesadaran kolektif hanya saja mengurangi arti penting dari kesadaran kolektif. Kesadaran kolektif yang mendasari solidaritas mekanik paling kuat berkembang pada masyarakat primitif. Kerena pembagian kerja semakin meluas, kesadaran kolektif perlahan-lahan mulai hilang. Tetapi heterogenitas yang semakin bertambah ini tidak menghancurkan solidaritas sosial, sebaliknya semakin membuat individu atau kelompok saling ketergantungan satu sama lain. Meningkatnya secara bertahap saling ketergantunngan fungsional dalam berbagai bagian dalam masyarakat ini memberikan alternatif baru untukkesadaran kolektif sebagai solidaritas social, Jika disederhanakan, bisa kita lihat perbedaan antara solidaritas mekanis dan solidaritas organis:

  1. Solidaritas mekanis:
    1. Individualitas rendah
    2. Pembagian kerja rendah
    3. Bersifat primitif-pedesaan
    4. Konsensus terhadap pola-pola normatif penting
    5. Keterlibatan komunitas dalam menghukum orang yang menyimpang
    6. Secara relatif saling ketergantungan rendah
    7. Kesadaran kolektif kuat
    8. Hukum represif dominan
    9. Solidaritas organis:
    10. Individualitas tinggi
    11. Pembagian kerja tinggi
    12. Bersifat industrialis – perkotaan
    13. Konsensus pada nilai-nilai abstrak dan umum penting
    14. Badan-badan kontrol sosial yang menghukum orang yang menyimpang
    15. Saling ketergantungan tinggi
    16. Kesadaran kolektif lemah
    17. Hukum restitutif dominan

 

 

 

 

EMILE DURKHEIM

TEORI BUNUH DIRI

Teori Bunuh Diri (Suicide)

Durkheim memilih studi bunuh diri karena persoalan ini relative merupakan fenomena konkrit dan spesifik, di mana tersedia data yang bagus cara komparatif. Akan tetapi, alasan utama Durkheim untuk melakukan studi bunuh diri ini adalah untuk menunjukkan kekuatan disiplin Sosiologi. Dia melakukan penelitian tentang angka bunuh diri di beberapa negara di Eropa. Secara statistik hasil dari data-data yang dikumpulkannya menunjukkan kesimpulan bahwa gejala-gejala psikologis sebenarnya tidak berpengaruh terhadap kecenderungan untuk melakukan bunuh diri. Menurut Durkheim peristiwa-peristiwa bunuh diri sebenarnya merupakan kenyataan-kenyataan sosial tersendiri yang karena itu dapat dijadikan sarana penelitian dengan menghubungkannya terhadap sturktur sosial dan derajat integrasi sosial dari suatu kehidupan masyarakat.

Durkheim memusatkan perhatiannya pada 3 macam kesatuan sosial yang pokok dalam masyarakat:

  1. Bunuh Diri dalam Kesatuan Agama

Dari data yang dikumpulan Durkheim menunjukkan bahwa angka bunuh diri lebih besar di negara-negara protestan dibandingkan dengan penganut agama Katolik dan lainnya.Penyebabnya terletak di dalam perbedaan kebebasan yang diberikan oleh masing-masing agama tersebut kepada para penganutnya.

  1. Bunuh Diri dalam Kesatuan Keluarga

Dari penelitian Durkheim disimpulkan bahwa semakin kecil jumlah anggota dari suatu keluarga, maka akan semakin kecil pula keinginan untuk hidup. Kesatuan sosial yang semakin besar, mengikat orang pada kegiatan-kegiatan sosial di antara anggota-anggota kesatuan tersebut.

  1. Bunuh Diri dalam Kesatuan Politik

Dari data yang dikumpulkan, Durkheim menyimpulkan bahwa di dalam situasi perang, golongan militer lebih terintegrasi dengan baik, dibandingkan dalam keadaan damai.Sebaliknya dengan masyarakat sipil.

Kemudian data tahun 1829-1848 disimpulkan bahwa angka bunuh diri ternyata lebih kecil pada masa revolusi atau pergolakan politik, dibandingkan dengan dalam masa tidak terjadi pergolakan politik.

Dalam studi ini Durkheim merumuskan beberapa tipe bunuh diri, antara lain :

  1. Egoistik

Egoisme merupakan sikap seseorang yang tidak berintegrasi dengan kelompoknya dan memilih untuk menyendiri dari kehidupan sekitar yang berinteraksi dengan dirinya, kelompok disini merupakan tempat untuk berhubungan antara individu yang satu dengan individu yang lainnya, terdiri dari keluarga, teman-teman yang dekat, dan masyarakat luas. Biasanya tipe bunuh diri semacam ini didasari oleh sikap yang tidak terbuka kepada orang lain, sehingga akan menyebabkan perasaan terasing dari masyarakat dan akan menyebabkan orang tersebut untuk memikirkan dan mengusahakan kebutuhannya sendiri tanpa memperhatikan kebutuhan maupun bantuan dari orang lain ataupun masyarakat.

Angka bunuh diri egoistik yang tinggi besar kemungkinan ditemukan di dalam masyarakat-masyarakat atau kelompok-kelompok tempat individu tidak terintegrasi dengan baik ke dalam kelompok sosial yang lebih besar. Kurangnya integrasi itu menyebabkan perasaan bahwa individu itu bukan bagian dari masyarakat,tetapi juga berarti bahwa masyarakat itu bukan bagian dari sang individu. Durkheim percaya bahwa bagian-bagian terbaik seorang manusia-moralitas,nilai-nilai,dan perasaan mempunyai maksud yang berasal dari masyarakat. Suatu masyarakat yang terintegrasi memberikan hal-hal itu kepada kita,dan juga perasaan umum mendapat dukungan moral memampukan kita menghadapi penghinaan-penghinaan kecil dan kekecewaan sepele dalam kehidupan sehari hari. Tanpa hal tersebut,besar kemungkinan kita melakukan bunuh diri karena frustasi dengan hal yang paling kecil sekalipun.

Dalam kehidupannya pasti ia tidak memiliki tujuan tujuan bersama dalam kehidupan kelompoknya selain kepentingannya sendiri, sehingga ia akan merasa tersudut yang disebabkan oleh egoisme yang berlebihan dan akan mengakibatkan terjadinya bunuh diri. Dari beberapa hal tersebut dapat di analisis bahwa kondisi integrasi antara pelaku bunuh diri tersebut dengan kelompoknya dapat dikatakan rendah.Misalnya : siswa yang bunuh diri karena tidak lulus sekolah.

  1.  Altruistik

Apabila bunuh diri egoistik disebabkan oleh kurangnya integrasi dengan kelompoknya, sementara bunuh diri altruistik adalah kebalikan dari tipe bunuh diri egoistik.Pengintegrasian antara individu yang satu dan lainnya berjalan secara lancar sehingga menimbulkan masyarakat yang memiliki integrasi yang kuat. Apabila kelompoknya menuntut bahwa mereka harus mengorbankan diri mereka, maka mereka tidak mempunyai jalan lain selain melakukannya karena mereka telah menjadi satu dengan kelompok mereka. Sehingga integrasi yang kuat tersebut akan menekan individualisme anggota kelompoknya ketitik dimana individu dipandang tidak pantas atau tidak penting dalam kedudukannya sendiri. Misalnya : perjuangan pahlawan Indonesia dalam meraih kemerdekanaan Indonesia.

  1.  Anomik

Anomik adalah keadaan moral dimana orang yang bersangkutan kehilangan cita-cita, tujuan, dan norma dalam hidupnya. Nilai-nilai yang semula memberi motivasi dan arah kepada perilakunya tidak berpengaruh lagi. Keadaan moral dimana orang bersangkutan kehilangan cita-cita, tujuan, dan norma dalam hidupnya sehingga akan menimbulkan kebimbangan pada diri seseorang. Keadaan anomi ini bisa melanda seluruh masyarakat ketika terjadi perubahan pada masyarakat tersebut secara cepat, tetapi di lain pihak masyarakat tersebut belum bisa mererima perubahan tersebut dikarenakan nilai-nilai lama pada masyarakat tersebut belum begitu mereka pahami sementara nilai-nilai yang baru belum jelas.

bunuh diri anomik (anomic suicide) bunuh diri yang dilakukan ketika tatanan, hukum-hukum, serta berbagai aturan moralitas sosial mengalami kekosongan.  Ada empat jenis bunuh diri akibat dari tipe anomik ini, antara lain:

  1. anomi ekonomis akut (acute economic anomie) yakni kemerosotan secara sporadis pada kemampuan lembaga-lembaga tradisional (seperti agama dan sistem-sistem sosial pra-industrial) untuk meregulasikan dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan sosial.
  2.  anomi ekonomis kronis (chronic economic anomie) adalah kemerosotan regulasi moral yang berjalan dalam jangka waktu yang cukup lama. Misalnya saja Revolusi Industri yang menggerogoti aturan-aturan sosial tradisional.Tujuan-tujuan untuk meraih kekayaan dan milik pribadi ternyata tidak cukup untuk menyediakan perasaan bahagia.Saat itu angka bunuh diri lebih tinggi terjadi pada orang yang kaya daripada orang-orang yang miskin.
  3. anomi domestik akut (acute domestic anomie) yang dapat dipahami sebagai perubahan yang sedemikian mendadak pada tingkatan mikrososial yang berakibat pada ketidakmampuan untuk melakukan adaptasi. Misalnya saja keadaan menjadi janda (widowhood) merupakan contohterbaik dari kondisi anomi semacam ini.
  4.  anomi domestik kronis (chronic domestic anomie) dapat dilihat pada kasus pernikahan sebagai institusi atau lembaga yang mengatur keseimbangan antara sarana dan kebutuhan seksual dan perilaku di antara kaum lelaki dan perempuan. Seringkali yang terjadi adalah lembaga perkawinan secara tradisional sedemikian mengekang kehidupan kalangan perempuan sehingga membatasi peluang-peluang dan tujuan-tujuan hidup mereka.

Terdapat empat alasan orang bunuh diri menurut Emile Durkheim, yaitu:

  1. a.       Karena alasan agama

Dalam penelitiannya, Durkheim mengungkapkan perbedaaan angka bunuh diri dalam penganut ajaran Katolik dan Protestan.Penganut agama Protestan cenderung lebih besar angka bunuh dirinya dibandingkan dengan penganut agama Katolik.Perbedaan ini dikarenakan adanya perbedaan kebebasan yang diberiakn oleh kedua agama tersebut kepada penganutnya.Penganut agama Protestan memperoleh kebebasan yang jauh lebih besar untuk mencari sendiri hakekat ajaran-ajaran kitab suci, sedangkan pada agama Katolik tafsir agama ditentukan oleh pemuka Gereja. Akibatnya kepercayaan bersama dari penganut Protestan berkurang sehingga menimbulkan keadaan dimana penganut agama Protestan tidak lagi menganut ajaran/tafsir yang sama. Integrasi yang rendah inilah yang menjadi penyebab laju bunuh diri dari penganut ajaran ini lebih besar daripada penganut ajaran agama Katolik dan Yahudi.

  1. b.       Karena alasan keluarga

Semakin kecil jumlah anggota dari suatu keluarga, maka akan semakin kecil pula keinginan untuk terus hidup. Orang yang menikah dan mempunyai anak angka bunuh dirinya akan lebih kecil dibandingkan orang yang menikah tapi belum atau tidak mempunyai anak. Kesatuan sosial yang semakin besar, semakin besar mengikat orang-orang kepada kegiatan sosial di antara anggota-anggota kesatuan tersebut. Kesatuan keluarga yang lebih besar biasanya lebih akan terintegrasi. Kemudian orang yang menikah

  1. c.       Karena alasan politik

Durkheim disini mengungkapkan perbedaan angka bunuh diri antara masyarakat militer dengan masyarakat sipil.Dalam keadaan damaiangka bunuh diri pada masyarakat militer cenderung lebih besar daipada masyarakat sipil.Dan sebaliknya, dalam situasi perang masyarakat militer angka bunuh dirinya rendah.Didalam situasi perang masyarakat militer lebih terintegrasi dengan baik dengan disipilin yang keras dibandingkan saat keadaan damai di dalam situasi ini golongan militer cenderung disiplinnya menurun sehingga integrasinya menjadi lemah.

  1. d.       Karena alasan kekacauan hidup (anomie)

Bunuh diri dengan alasan ini dikarenakan bahwa orang tidak lagi mempunyai pegangan dalam hidupnya.Norma atau aturan yang ada sudah tidak lagi sesuai dengan tuntutan jaman yang ada.

 

 

 

4. Fatalistik

Tipe bunuh diri ini tidak terlalu banyak dibahas oleh Dukheim. Kalau bunuh diri anomik terjadi dalam situasi di mana nilai dan norma yang berlaku di masyarakat melemah, namun sebaliknya bunuh diri fatalistik ini terjadi ketika nilai dan norma yang berlaku di masyarakat meningkat, sehingga menyebabkan individu ataupun kelompok tertekan oleh nilai dan norma tersebut. Dukheim menggambarkan seseorang yang melakukan bunuh diri fatalistik seperti seseorang yang masa depanya telah tertutup dan nafsu yang tertahan oleh nilai dan norma yang menindas.

Hubungan Empat Jenis Bunuh Diri menurut Durkheim

 

Integrasi Rendah Bunuh diri egoistis
Tinggi Bunuh diri altruistis
Regulasi Rendah Bunuh diri anomic
Tinggi Bunuh diri fatalistis

 

Dalam kasus bunuh diri, manusia berlaku sebagai pribadi dan manusai sosial. Manusia sosial mengandalkan adanya suatu masyarakat tempat ia mengungkapkan dan mengabdikan dirinya. Jika di dalam keadaan masyarakat ini tidak erat fakta sosialnya, maka individu tidak lagi merasakan kehadiran masyarakat sebagai pelindungnya, dan hilanglah tempat berpijak individu, yang tinggal hanyalah kesepian yang menekan.Makin lemah atau longgar ikatan sosial anggotanya anggotanya, makin kecil ketegantungan si individu terhadap masyarakat itu.Dalam keadaan seperti ini, individu bergantung pada dirinya sendiri, dan hanya mengakui aturan-aturan yang menurutnya benar dan menguntungkan dirinya.Dalam kasus bunuh diri altruistik, terjadi ketika adanya kewajiban untuk membunuh dirinya yang diakibatkan oleh ketatnya aturan adat. Disini integrai individualnya sangat kokoh.

Contoh bunuh diri pada kasus ini adalah bunuh diri seorang istri akan kematian suaminya, bunuh diri seorang pelayan pada kematian tuannya, atau seorang prajurit pada kematian pemimpinnya. Dalam kasus bunuh diri anomik, masyarakat bukanlah hanya merupakan tempat tumpuan perasaan individu, dan aktivitas sekelompok individu yang berkumpul menjadi satu, tetapi masyarakat juga memiliki kekuatan untuk menguasai individu-individu anggota masyarakat tersebut. Antara cara regulatif itu terlaksana dan jumlah bunuh diri terdapat kaitan yang sangat erat. Kurangnya kekuatan mengatur dari masyarakat terhadap individu, menyebabkan terjadinya kasus bunuh diri.Bunuh diri semacam ini terjadi dalam masyarakat modern.

Kebutuhan seorang individu dan pemenuhannya diatur oleh masyarakat.Kepercayaan dan praktek-praktek yang dipelajari individu membentuk dirinya dalam kesadaran kolektif.Jika pengaturan terhadap individu ini melemah, maka kondisi bunuh diri memuncak.Fakta menunjukkan bahwa krisis ekonomi membangkitkan kecenderungan bunuh diri dan sebaliknya, keadaan kemakmuran yang datangnya lebih cepat juga mempengaruhi kejiwaan anggota masyarakat.

Berdasarkan pembahasan di atas, maka bunuh diripun dapat dianalisis secara sosial, dalam bunuh diri egoistis, hidup individu seolah-olah kosong, karena pemikiran terserap ke dalam diri individu, tidak lagi mempunyai objek. Bunuh diri altruistik, individu  melepaskan diri sendiri dalam antusiasme kepercayaan religius, politik. Bunuh diri anomik, si individu telah kehilangan dirinya larut ke dalam nafsu yang tidak terbatas. Durkheim menyimpulkan studinya atas bunuh diri dengan suatu pemeriksaan mengenai  pembaruan-pembaruan apa yang dilakukan untuk mencegahnya. Sebagian besar usaha untuk mencegah bunuh diri telah gagal karena bunuh diri telah dilhat sebagai suatu masalah individu. Bagi Durkheim, usaha-usaha untuk meyakinkan secara langsung para individu agar tidak melakukan bunuh diri sia-sia, karena sebab-sebabnya yang nyata ada didalam masyarakat.

Durkheim mengakui bahwa bunuh diri adalah normal, tetapi dia berargumen bahwa masyarakat modrn mengalami peningkatan patologis dibidang bunuh diri egoistik dan anomik. Disini pendiriannya dapat dilacak kembali The Division Of Labour saat dia berargumen bahwa anomi menyebabkan keter asingan ketimbang interdependensi. Maka yang diperlukan ialah suatu cara unuk melestarikan keuntungan-keuntungn moderenitas tanpa terlalu meningkatkan bunuh diri sebagai suatu jalan yang enyeimbangkan arus-arus sosial. Dimasyarakat kita durkheim percaya arus-arus tersebut tidak seimbang. Khususnya, regulasi dan interkasi sosial terlalu rendah, yang menghasilkan angka bunuh diri anomie dan egositik yang abnormal.

Banyak lembaga yang ada yang berfungsi menghubungkan individu dengan masyarakat telah gagal, dan Durkheim melihat sedikit harapan untuk keberhasilannya.Negara modern terlalu jauh dari individu untuk dapat mempengaruhi kehidupannya dengan daya dan kontinuitas yang memadai. Bahkan keluarga, yang mungkin merupakan lembaga yang paling integratif didalam masyarakat modern, akan gagal melaksanankan tugas tersebut karena keluaraga tunduk kepada kondisi-kondisi merusak yang sama, yang meningkatkan bunuh diri. Sebagai gantinya hal yang dianjurkan durkheim adalah kebutuhan akan suatu lembaga yang berbeda, yang dasarkan kepada kelompok-kelompok pekerjaan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Emile Durkheim

TOTEMISME

Bentuk-bentuk Kehidupan Agamis Elementer

Teori Durkheimian Awal dan Belakangan

                Sebelum kita memasuki karya besar sosiologis terakhir Durkheim, The Elementary Forms of Religious Life, kami harus mengatakan beberapa hal mengenai cara penerimaan ide-idenya di dalam sosiologi Amerika. Seperti yang kami katakan, Durkheim dilihat sebagai ‘’ bapak’’ sosiologi modern, tetapi tidak seperti kebapakan biologis, asal-usul disiplin itu tidak peka terhadap tes DNA dan oleh karena itu harus dilihat sebagai suatu kostruksi sosial. Hingga pada derajat yang besar, Durkheim mendapat status ‘’bapak’’ oleh salah seorang teoris terbesar Amerika, Talcott Parsons dan hal itu memengaruhi pandangan-pandangan selanjutnya mengenai Durkheim.

Parsons menggambarkan Durkheim sedang mengalami perubahan teoretis di antara Suicide dan The Elementary Forms. Dia percaya bahwa Durkheim awalnya terutama adalah seorang positivis yang mencoba menerapkan metode-metode ilmu-ilmu alamiah dalam studi masyarakat, sementara Durkheim yang belakangan adalah seorang idealis yang melacak perubahan-perubahan sosial dalam perubahan-perubahan ide-ide kolektif. Meskipun Parson (1975) belakangan mengakui bahwa pembagian tersebut ‘’berlebihan’’, pembagian itu telah membentuk pemahaman banyak sosiolog mengenai Durkheim. Untuk sebagian besar, para sosiolog cenderung menemukan Durkheim awal atau belakangan yang mereka setujui dan menekankan aspek karyanya itu.

Ada kebenaran tertentu dalam periodisasi Durkheim, tetapi hal itu tampak sebagai masalah focus daripada perubahan besar teoritis. Durkheim selalu percaya bahwa kekuatan-kekuatan sosial serupa dengan daya-daya alam dan selalu percaya bahwa ide-ide kolektif membentuk praktik-praktik sosial dan juga sebaliknya. Akan tetapi, tidak diragukan bahwa setelah Suicide, persoalan agama menjadi hal yang sangat penting di dalam teori sosiologis Durkheim. Akan kelirulah melihat hal tersebut sebagai bentuk idealism. Dalam kenyataanya, Durkheim benar-benar cemas bahwa dia akan dipandang terlalu materialistic karena dia mengandaikan bahwa kepercayaan-kepercayaan agamis tergantung kepada praktik-praktik sosial yang konkret seperti ritual-ritual.

Selain itu, Durkheim, di dalam periodenya yang belakangan, membahas secara lebih langsung bagaimana para individu menginternalisasikan struktur-struktur sosial. Argumen-argumen Durkheim yang kerap haus sosiologi secara berlebihan dan menentang psikologi, telah membuat banyak orang menyatakan bahwa dia hanya memberikan sedikit penjelasan mengenai bagaimana fakta-fakta sosial memengaruhi kesadaran actor-aktor manusia (Lukes, 1972:228). Hal itu secara khusus benar di dalam karya awalnya, saat dia membahas hubungan antara fakta-fakta sosial dan kesadaran individual hanya dengan cara yang kabur dan sepintas. Namun demikian, tujuan akhir Durkheim adalah menjelaskan bagaimana manusia individual dibentuk oleh fakta-fakta sosial. Kita melihat pengumumannya yang jelas mengenai maksud itu berkenaan dengan The Elementary Forms of Religious Life . Secara umum, kita memandang bahwa sosiologi belum mencapai tugasnya secara lengkap selama sosiologi tidak menerobos ke dalam pikiran sang individu untuk menghubungkan lembaga-lembaga yang berusaha dijelaskan kondisi-kondisi psikologisnya. Manusia bagi kami kurang lebih merupakan titik tiba daripada titik tolak. Seperti yang akan kita lihat di dalam hal berikut ini, dia mengajukan suatu teori rirual dan semangat tinggi (effervescence) yang membahas hubungan antara fakta-fakta sosial dan kesadaran manusia, seperti yang dilakukan di dalam karyanya mengenai pendidikan moral.

Teori Agama-yang Sakral dan yang Profan

                Raymond Aron mengatakan tentang The Elementary Forms of Religious Life bahwa karya ini adalah karya Durkheim yang paling penting, paling mendalam, dan paling asli. Randall Collins dan Michael Malowsky menyebutnya mungkin buku tunggal terbesar abad kedua puluh.’ Di dalam buku itu, Durkheim mengajukan baik sosiologi agama maupun teori pengetahuan. Sosiologi agamanya merupakan suatu usaha untuk mengenali esensi agama yang abadi melalui suatu analisis atas bentuk-bentuknya yang paling primitif. Teori pengetahuannya berusaha menghubungkan kategori-kategori fundamental pikiran manusia dengan asal-usul sosialnya. Kejeniusan hebat Durkheimlah yang mengusulkan pengaitan sosiologis antara kedua teka-teki yang berlainan itu. Ringkasnya, dia menemukan esensi abadi agama dalam suatu latar yang memisahkan yang sakral dari semua hal yang diniawi. Yang sakral diciptakan melalui ritual-ritual yang mengubah kekuatan moral masyarakat ke dalam simbol-simbol agamis yang mengikat para individu pada kelompok. Argumen Durkheim yang paling berani adalah bahwa ikatan moral menjadi ikatan kognitif karena kategori-kategori untuk pemahaman, seperti klasifikasi, waktu, ruang, dan penyebab, juga berasal dari ritual-ritual agamis.

Marilah kita mulai dengan teori Durkheim mengenai agama. Masyarakat (melalui para individu) menciptakan agama dengan mendefinisikan fenomena tertentu sebagai hal yang sakral dan yang lainya sebagai duniawi. Aspek-aspek realitas sosial yang didefinisikan sebagai hal yang sakral, yakni terpisah dari hal kehidupan sehari-hari, membentuk esensi agama. Hal yang lainnya didefinisikan sebagai hal yang duniawi, hal yang biasa, utilitarian, aspek-aspek biasa kehidupan. Di satu sisi, yang sakral menghasilkan suatu sikap takzim, khidmat, dan kewajiban. Di sisi lain, sikap yang sesuai dengan fenomena itulah yang mengubah mereka dari duniawi menjadi sakral. Pertanyaan bagi Durkheim ialah, Apa sumber ketakziman, kekhidmatan, dan kewajiban itu?

Di sini dia bermaksud mempertahankan kebenaran esensial agama sambil menyingkapkan realitas sosiologinya. Durkheim menolak memercayai bahwa semua agama hanyalah suatu ilusi. Fenomena sosial yang bersifat meresapi itu pastilah mempunyai suatu kebenaran. Akan tetapi, kebenaran itu tidak perlu persis seperti yang dipercayai oleh para penganutnya. Sungguh, sebagai seorang agnistik yang kuat, Durkheim tidak bisa percaya bahwa sumber dari perasaan-perasan agamis itu adalah hal-hal yang bersifat adialamiah. Pasti ada suatu kekuatan moral yang lebih unggul yang mengilhami orang-orang beriman, tetapi itu masyarakat, bukan Tuhan. Durkheim berargumen bahwa agama secara simbolis mewujudkan masyarakat itu sendiri. Agama adalah sistem simbol-simbol yang melaluinya dan masyarakat menjadi sadar atas dirinya. Itu adalah cara satu-satunya yang membuat dia dapat menjelaskan mengapa setiap masyarakat mempunyai kepercayaan-kepercayaan agamis, tetapi masing-masing mempunyai kepercayaan-kepercayaan yang berbeda.

Masyarakat adalah suatu kekuatan yang lebih besar daripada kita. Ia melampaui kita, menuntut pengorbanan kita, menindas tendensi-tendensi egois kita, dan memenuhi kita dengan energi. Masyarakat, menurut Durkheim, melaksanakan kekuatan-kekuatan itu melalui representasi-representasi. Di dalam Tuhan, dia melihat ‘’hanya masyarakat yang diubah rupanya dan diungkapkan secara simbolis’’. Karena itu masyarakat adalah sumber dari yang sakral.

Kepercayaan-kepercayaan, Ritual-ritual, dan Gereja

                Perbedaan antara hal yang sakral dan duniawi dan penaikan beberapa aspek kehidupan sosial kepada level sakral perlu, tetapi bukan kondisi-kondisi yang memadai untuk perkembangan agama. Diperlukan tiga kondisi lainnya. Pertama, harus ada perkembangan sekumpulan kepercayaan agamis. Kepercayaan-kepercayaan itu adalah, ‘’ representasi-representasi yang mengungkapkan hakikat hal-hal yang sakral dan relasi-relasi yang mereka pertahankan, baik antara satu sama lain maupun dengan hal-hal yang duniawi’’. Kedua, dibutuhkan sekumpulan ritual agamis. Hal-hal itu adalah ‘’ aturan-aturan perilaku yang menetapkan bagaimana seorang manusia harus membawakan diri di dalam kehadiran objek-objek sakral tersebut’’. Akhirnya, suatu agama memerlukan sebuah gereja, atau suatu komunitas moral tunggal yang melingkupi. Antarhubungan di antara yang suci, keprcayaan-kepercayaan, ritual-ritual, dan gereja membawa Durkheim memberikan definisi agama berikut ini: ‘’ suatu agama adalah suatu sistem teroadu kepercayaan-kepercayaan dan praktik-praktik yang menyatukan semua penganutnya ke dalam satu komunitas moral tunggal yang disebut Gereja’’.

Ritual-ritual dan gereja penting  bagi teori agama Durkheim karena menghubungkan representasi-representasi sosial dengan praktik-praktik individual. Durkheim sering mengandaikan bahwa arus-arus sosial benar-benar diserap oleh para individu melalui sejenis penularan, tetapi di sini dia menerangkan dengan hati-hati cara kerja yang mungkin dari proses tersebut. Para individu belajar tentang yang sakral dan kepercayaan-kepercayaan terkait melalui berpartisipasi di dalam ritual-ritual dan di dalam komunitas gereja. Seperti yang akan kita lihat di bawah, ini juga adalah cara para individu mempelajari kategori-kategori pengertian. Selanjutnya , ritual-ritual dan gereja menjaga representasi-representasi sosial agar tidak menghilang dan kehilangan kekuatannya lewat penghidupan kembali secara dramatis ingatan kolektif kelompok. Akhirnya, mereka  menghubungkan kembali para individu dengan yang sosial, suatu sumber energi yang lebih besar yang mengilhami mereka ketika mereka kembali kepada pengejaran-pengejaran duniawinya.

Mengapa Primitif?

Meskipun riset yang dilaporkan di dalam The Elementary Forms bukan milik Durkheim sendiri, karena komitmenya terhadap ilmu empiris, dia merasa perlu menancapkan pemikirannya mengenai agama di dalam data yang sudah dipublikasi. Sumber-sumber utama datanya adalah studi-studi berbasis klan atau suku Australia, Arunta, yang bagi Durkheim, menggambarkan kebudayaan primitif. Meskipun sekarang ini kita sangat skeptic terhadap ide bahwa beberapa kebudayaan lebih primitif daripada kebudayaan lain, Durkheim ingin mempelajari agama di dalam suatu kebudayaan primitif karena beberapa alasan. Pertama, dia percaya bahwa jauh lebih mudah untuk mendapat wawasan ke dalam hakikat esensial agama di dalam suatu kebudayaan primitif karena beberapa alasan. Pertama, dia percaya bahwa jauh lebih mudah untuk mendapat wawasan kedalam hakikat esensial agama di dalam suatu kebudayaan primitif karena sistem-sistem ideology agama-agama primitif kurang berkembang dengan baik disbanding sistem-sistem agama modern, dengan hasil bahwa pengaburannya tidak begitu banyak. Bentuk-bentuk agamis di dalam masyarakat primitif dapat ditunjukan di dalam segala ketelanjangannnya dan hal itu akan memerlukan hanya usaha yang paling ringan untuk mengungkapkannya. Selain itu, sementara agama di dalam masyarakat modern mengambil bentuk-bentuk yang berbeda, di dalam masyarakat primitif ada persesuaian intelektual dan moral. Selain itu, sementara agama di dalam masyarakat modern mengambil bentuk-bentuk yang berbeda-beda, di dalam masyarakat primitif ada persesuaaian intelektual dan moral. Hal itu membuat lebih mudah menghubungkan kepercayaan-kepercayaan bersama kepada struktur-struktur sosial bersama.

Durkheim mempelajari agama primitif hanya agar dapat menjelaskan agama yang ada di dalam masyarakat modern. Agama di dalam suatu masyarakat nonmodern adalah suatu nurani kolektif yang serba meliputi. Akan tetapi, ketika masyarakat semakin terspesialisasi, agama semakin menempati wilayah yang kian sempit. Agama menjadi hanya salah satu dari sejumlah reperesentasi kolektif. Meskipun agama mengungkapkan beberapa sentiment kolektif, lembaga-lembaga lain (misalnya hukum dan sains) datang untuk mengungkapkan aspek-aspek lain dari moralitas kolektif. Durkheim mengakui bahwa agama dalam dirinya sendiri datang untuk menempati suatu ranah yang lebih sempit, tetapi dia juga berpendapat bahwa sebagian bessar, jika bukan seluruhnya, aneka representasi kolektif masyarakat modern berasal dari agama masyarakat primitif yang serba mencakup.

 

 

Totemisme

                Karena Durkheim percaya bahwa masyarakat adalah sumber agama, secara khusus dia tertarik kepada totemisme yang ada dikalangan orang Arunta Australia. Totemisme adalah suatu sistem agamis yang di dalam benda-benda tertentu, khususnya binatang-binatang dan tumbuh-tumbuhan, dipandang sebagai hal yang sakral dan sebagai lambang klan. Durkheim memandang totemisme sebagai bentuk agama yang paling sederhana dan paling primitif, dan dia percaya totemisme terkait dengan bentuk sederhana yang serupa dengan organisasi sosial, yakni klan.

Durkheim berargumen bahwa totem tidak lain adalah representasi klan itu sendiri. Para individu yang mengalami energi kekuatan sosial yang dipertinggi pada saat berkumpulnya klan mengusahakan penjelasan untuk keadaan itu. Durkheim percaya bahwa berkumpul itu sendiri adalah penyebab yang nyata, tetapi sekarang pun, orang enggan menghubungkan kekuatan tersebut dengan kekuatan-kekuatan sosial. Sebagai gantinya, anggota klan menghubungkan secara keliru energi yang dia rasakan dengan simbol-simbol klan. Totem-totem adalah representasi material dari kekuatan nonmaterial yang mendasarinya, dan daya-daya nonmaterial tidak lain adalah masyarakat. Totemisme dan agama secara lebih umum berasal dari moralitas kolektif dan menjadi kekuatan-kekuatan impersonal. Mereka tidak hanya serangkaian hewan, tumbuh-tumbuhan, kepribadian-keprobadian, roh-roh, atau dewa-dewa mistis.

Sebagai studi mengenai agama primitif, seluk-beluk penafsiran Durkheim telah dipertanyakan. Akan tetapi, meskipun totemisme bukan agama yang paling primitif, tentu saja itu merupakan wahana terbaik untuk mengembangkan teori baru Durkheim yang menautkan agama, pengetahuan, dan masyarakat.

Meskipun suatau masyarakat mungkin mempunyai sejumlah totem, Durkheim tidak melihat totem-totem itu menggambarkan serangkaian kepercayaan terpisah, yang terpecah-pecah tentang hewan-hewan atau tumbuh-tumbuhan yang spesifik. Sebagai gantinya, dia melihat mereka sebagai sekumpulan ide yang saling berhubungan yang memberikan kepada masyarakat suatu representasi dunia yang kurang lebih komplet. Di dalam totemisme, ada kelas-kelas benda-benda yang dihubungkan: simboltotemik, hewan atau tumbuhan, dan para anggota klan. Dalam dirinya sendiri, totemisme memberikan suatu cara untuk mengklasifikasi objek-objek alamiah dan mencerminkan organisasi sosial suku itu. Karena itu, Durkheim mampu berargumen bahwa kemampuan untuk mengklasifikasi alam kedalam kategori-kategori kognitif berasal dari pengalaman-pengalaman agamis dan pada akhirnya sosial. Kemudian, masyarakat mungkin mengembangkan cara-cara yang lebih baik untuk mengklasifikasi alam dan simbol-simbolnya, contohnya, ke dalam genus dan spesies ilmiah, tetapi ide dasar pengklasifikasian berasal dari pengalaman-pengalaman sosial. Di dalam esainya yang lebih awal, yang ditulis bersama keponakannya Marcell Mauss, berdasarkan ide tersebut, dia memperluas bahwa dunia sosial mendasari kategori-kategori mental kita.

Masyarakat bukan sekedar model yang diikuti oleh pemikiran yang mengklasifikasikan; pembagian-pembagian masyarakat itu sendirilah yang berlaku sebagai pembagian-pembagian bagi sistem klasifikasi. Kategori-kategori logis pertama adalah kategori-kategori sosial; kelas-kelas benda yang pertama adalah kelas-kelas manusia… Karena manusia berkelompok, dan pemikiran atas mereka sendiri di dalam bentuk kelompok-kelompok, maka di dalam ide-ide mereka mengelompokan benda-benda lain, dan pada mulanya kedua cara mengelompokan itu bergabung hingga pada titik yang tidak jelas.

Paradigma Durkheim

Definisi Agama Menurut Durkheim

Definisi agama menurut Durkheim adalah suatu “sistem kepercayaan dan praktek yang telah dipersatukan yang berkaitan dengan hal-hal yang kudus, dimanakepercayaan-kepercayaan dan praktek-praktektersebut bersatu menjadi suatu komunitas moral yang tunggal.” Dari definisi ini ada dua unsur yang penting, yang menjadi syarat sesuatu dapat disebut agama, yaitu “sifat kudus” dari agama dan “praktek-praktek ritual” dari agama. Agama tidak harus melibatkan adanya konsep mengenai suatu mahluk supranatural, tetapi agama tidak dapat melepaskan kedua unsur di atas, karena ia akan menjadi bukan agama lagi, ketika salah satu unsur tersebut terlepas. Di sini dapat kita lihat bahwa sesuatu itu disebut agama bukan dilihat dari substansi isinya tetapi dari bentuknya, yang melibatkan dua ciri tadi. Kita juga akan melihat nanti bahwa menurut Durkheim agama selalu memiliki hubungan dengan masyarakatnya, dan memiliki sifat yang historis.

 

Sifat Kudus Dari Agama

Sifat kudus yang dimaksud Durkheim dalam kaitannya dengan pembahasan agama bukanlah dalam artian yang teologis, melainkan sosiologis. Sifat kudus itu dapat diartikan bahwa sesuatu yang “kudus” itu “dikelilingi oleh ketentuan-ketentuan tata cara keagamaan dan larangan-larangan, yang memaksakan pemisahan radikal dari yang duniawi.” Sifat kudus ini dibayangkan sebagai suatu kesatuan yang berada di atas segala-galanya. Durkheim menyambungkan lahirnya pengkudusan ini dengan perkembangan masyarakat, dan hal ini akan dibahas nanti.

Di dalam totemisme, ada tiga obyek yang dianggap kudus, yaitu totem, lambang totem dan para anggota suku itu sendiri. Pada totemisme Australia, benda-benda yang berada di dalam alam semesta dianggap sebagai bagian dari kelompok totem tertentu, sehingga memiliki tempat tertentu di dalam organisasi masyarakat. Karena itu semua benda di dalam totemisme Australia memiliki sifat yang kudus. Pada totemisme Australia ini tidak ada pemisahan yang jelas antara obyek-obyek totem dengan kekuatan kudusnya. Tetapi di Amerika Utara dan Melanesia, kekuatan kudus itu jelas terlihat berbeda dari obyek-obyek totemnya, dan disebut sebagai mana.

Dunia modern dengan moralitas rasionalnya juga tidak menghilangkan sifat kudus daripada moralitasnya sendiri. Ciri khas yang sama, yaitu kekudusan, tetap terdapat pada moralitas rasional. Ini terlihat dari rasa hormat dan perasaan tidak bisa diganggu-gugat yang diberikan oleh masyarakat kepada moralitas rasional tersebut. Sebuah aturan moral hanya bisa hidup apabila ia memiliki sifat “kudus” seperti di atas, sehingga setiap upaya untuk menghilangkan sifat “kudus” dari moralitas akan menjurus kepada penolakan dari setiap bentuk moral. Dengan demikian, “kekudusan”-pun merupakan prasyarat bagi suatu aturan moral untuk dapat hidup di masyarakat. Ini menunjukkan bahwa “kekudusan” suatu obyek itu tidak tergantung dari sifat-sifat obyek itu ‘’an sich’’ tetapi tergantung dari pemberian sifat “kudus” itu oleh masyarakatnya.

 

Ritual Agama

Selain daripada melibatkan sifat “kudus”, suatu agama itu juga selalu melibatkan ritual tertentu. Praktek ritual ini ditentukan oleh suatu bentuk lembaga yang pasti. Ada dua jenis praktek ritual yang terjalin dengan sangat erat yaitu pertama, praktek ritual yang negatif, yang berwujud dalam bentuk pantangan-pantangan atau larangan-larangan dalam suatu upacara keagamaan, serta praktek ritual yang positif, yang berwujud dalam bentuk upacara-upacara keagamaan itu sendiri dan merupakan intinya.

Praktek-praktek ritual yang negatif itu memiliki fungsi untuk tetap membatasi antara yang kudus dan yang duniawi, dan pemisahan ini justru adalah dasar dari eksistensi “kekudusan” itu. Praktek ini menjamin agar kedua dunia, yaitu yang “kudus” dengan yang “profan” tidak saling mengganggu. Orang yang taat terhadap praktek negatif ini berarti telah menyucikan dan mempersiapkan dirinya untuk masuk ke dalam lingkungan yang kudus. Contoh dari praktek negatif ini misalnya adalah dihentikannya semua pekerjaan ketika sedang berlangsung upacara keagamaan. Adapun praktek-praktek ritual yang positif, yang adalah upacara keagamaan itu sendiri, berupaya menyatukan diri dengan keimanan secara lebih khusyu, sehingga berfungsi untuk memperbaharui tanggung-jawab seseorang terhadap ideal-ideal keagamaan.

Hubungan Antara Agama Dengan Kondisi Masyarakat

Di atas tadi sudah dijelaskan bahwa agama dan masyarakat memiliki hubungan yang erat. Di sini perlu diketahui bahwa itu tidak mengimplikasikan pengertian bahwa “agama menciptakan masyarakat.” Tetapi hal itu mencerminkan bahwa agama adalah merupakan implikasi dari perkembangan masyarakat. Di dalam hal ini agama menurut Durkheim adalah sebuah fakta sosial yang penjelasannya memang harus diterangkan oleh fakta-fakta sosial lainnya.

Hal ini misalnya ditunjukkan oleh penjelasan Durkheim yang menyatakan bahwa konsep-konsep dan kategorisasi hierarkis terhadap konsep-konsep itu merupakan produk sosial. Menurut Durkheim totemisme mengimplikasikan adanya pengklasifikasian terhadap alam yang bersifat hierarkis. Obyek dari klasifikasi seperti “matahari”, “burung kakatua”, dll., itu memang timbul secara langsung dari pengamatan panca-indera, begitu pula dengan pemasukkan suatu obyek ke dalam bagian klasifikasi tertentu. Tetapi ide mengenai “klasifikasi” itu sendiri tidak merupakan hasil dari pengamatan panca-indera secara langsung. Menurut Durkheim ide tentang “klasifikasi yang hierarkis” muncul sebagai akibat dari adanya pembagian masyarakat menjadi suku-suku dan kelompok-kelompok analog.

Hal yang sama juga terjadi pada konsep “kudus”. Konsep “kudus” seperti yang sudah dibicarakan di atas tidak muncul karena sifat-sifat dari obyek yang dikuduskan itu, atau dengan kata lain sifat-sifat daripada obyek tersebut tidak mungkin bisa menimbulkan perasaan kekeramatan masyarakat terhadap obyek itu sendiri. Dengan demikian, walaupun di dalam buku Giddens tidak dijelaskan penjelasan Durkheim secara rinci mengenai asal-usul sosial dari konsep “kekudusan’, tetapi dapat kita lihat bahwa kesadaran akan yang kudus itu, beserta pemisahannya dengan dunia sehari-hari, menurut Durkheim dari pengatamannya terhadap totemisme, dilahirkan dari keadaan kolektif yang bergejolak. Upacara-upacara keagamaan, dengan demikian, memiliki suatu fungsi untuk tetap mereproduksi kesadaran ini dalam masyarakat. Di dalam suatu upacara, individu dibawa ke suatu alam yang baginya nampak berbeda dengan dunia sehari-hari. Di dalam totemisme juga, di mana totem pada saat yang sama merupakan lambang dari Tuhan dan masyarakat, maka Durkheim berpendapat bahwa sebenarnya totem itu, yang merupakan obyek kudus, melambangkan kelebihanmasyarakat.

Hubungan antara agama dengan masyarakat juga terlihat di dalam masalah ritual. Kesatuan masyarakat pada masyarakat tradisional itu sangat tergantung kepada conscience collective (hati nurani kolektif), dan agama nampak memainkan peran ini. Masyarakat menjadi “masyarakat” karena fakta bahwa para anggotanya taat kepada kepercayaan dan pendapat bersama. Ritual, yang terwujud dalam pengumpulan orang dalam upacara keagamaan, menekankan lagi kepercayaan mereka atas orde moral yang ada, di atas mana solidaritas mekanis itu bergantung. Di sini agama nampak sebagai alat integrasi masyarakat, dan praktek ritual secara terus menerus menekankan ketaatan manusia terhadap agama, yang dengan begitu turut serta di dalam memainkan fungsi penguatan solidaritas.

Agama juga memiliki sifatnya yang historis. Menurut Durkheim totemisme adalah agama yang paling tua yang di kemudian hari menjadi sumber dari bentuk-bentuk agama lainnya. Seperti misalnya konsep kekuatan kekudusan pada totem itu jugalah yang di kemudian hari berkembang menjadi konsep dewa-dewa, dsb. Kemudian perubahan-perubahan sosial di masyarakat juga dapat merubah bentuk-bentuk gagasan di dalam sistem-sistem kepercayaan. Ini terlihat dalam transisi dari masyarakat tradisional ke masyarakat modern, di mana diikuti perubahan dari “agama” ke moralitas rasional individual, yang memiliki ciri-ciri dan memainkan peran yang sama seperti agama.

 

 

 

Max weber

Teori Tindakan Sosial

Max Weber (1864-1920) lahir di Erfurt di Thungiria, Jerman, telah di didik di bidang hukum dan ekonomi. Ia menjadi mahaguru di universitas-universitas di Berlin, Freiburg, dan Heidelberg. Max Weber adalah anak seorang liberal Jerman dari kelas menengah yang terpandang dikalangan politik Partai Liberal Nasional (National Liberal Party) di masa Bismark. Max Weber belajar ilmu hukum dan kemudian ditunjuk sebagai dosen Universitas Berlin. Pada tahun 1893 ia menjadi guru besar ilmu ekonomi di Heidelberg. Ia menggantikan seorang ekonom terkemuka yaitu Karl Knies. Pada tahun 1900, ia mengalami guncangan jiwa dan untuk beberapa tahun ia tinggal sebagai seorang sarjana dalam keadaan tidak sehat di Heidelberg. Lalu setelah perang dunia I ia kembali menjalankan tugas-tugas mengajar.

Teori tindakan sosial, cabang penting ketiga dari behaviorisme sosial merupakan tanggapan independen terhadap permasalahan-permasalahan sama yang memunculkan pluralisme, behavioral dan interaksionisme simbolik. Ia mewakili sebuah pemecahan teoritik khusus bagi permasalahan-permasalahan  umum dari aliran itu. Dalam analisis mereka mengenai kepribadian, struktur sosial, dan prilaku kolektif. Aliran keprilakuan pluralistic membangun titik tolak mereka melalui beberapa pandangan seperti halnya imitasi, inovasi, sugesti, difusi, pertentangan inovasi-inovasi, dan kesadaran akan kebaikan, aliran interaksionis simbolik, memilih tingkah laku-tingkah laku, harapan bersama, bahasa sebagai sebuah mekanisme antar keprilakuan dan peranan sosial sebagai hal penting dalam pendekatan mereka terhadap persoalan-persoalan yang sama.

Mengenai teori perilaku sosial Max Weber atau sering kita dengar dengan Tindakan sosial, sebelumnya kita melihat apa yang disebut dengan sosiologi menurut Max Weber. Max Weber mendefinisikan sosiologi sebagai ilmu tentang institusi-institusi sosial, sosiologi Weber adalah ilmu tentang perilaku sosial. Menurutnya terjadi suatu pergeseran tekanan ke arah keyakinan, motivasi, dan tujuan pada diri anggota masyarakat, yang semuanya memberi isi dan bentuk kepada tindakannya.

Kata tindakan dipakai oleh Weber untuk perbuatan-perbuatan yang bagi si pelaku mempunyai arti subyektif. Pelaku hendak mencapai suatu tujuan, atau ia didorong oleh motivasi. Tidakan menjadi sosial menurut Weber terjadi hanya kalau dan sejauh mana arti maksud subyektif dari tingkahlaku membuat individu memikirkan dan menunjukan suatu keseragaman yang kurang lebih tetap. Pelaku individual mengarahkan tindakannya kepada penetapan penetapan atau harapan harapan tertentu yang berupa kebiasaan umum atau dituntut dengan tegas atau bahkan dibekukan dengan undang undang.

Orang yang dimotivir untuk membalas atas suatu penghinaan di masa lampau, mengorientasikan tindakannya kepada orang lain. Itu tindakan sosial. Menurut Weber tindakan sosial juga berakar dalam kesadaran individual dan bertolak dari situ. Tingkah laku individu merupakan kesatuan analisis sosiologis. Bukan keluarga, negara, partai, dll.

Weber berpendapat bahwa studi kehidupan sosial yang mempelajari pranata dan struktur sosial dari luar saja, seakan-akan tidak ada inside-story, dan karena itu mengesampingkan pengarahan diri oleh individu, tidak menjangkau unsur utama dan pokok dari kehidupan sosial itu. Sosiologi sendiri  haruslah berusaha menjelaskan dan menerangkan kelakuan manusia dengan menyelami dan memahami seluruh arti sistem subyektif.

Sebagian besar tindakan manusia berkaitan dengan orang lain. Tindakan yang berhubungan dengan orang lain disebut sebagai tindakan sosial (sosial action). Suatu tindakan dianggap sebagai tindakan sosial apabila tindakan tersebut memengaruhi atau dipengaruhi oleh orang lain. Bila kamu tersenyum di depan cermin seorang diri, maka tindakan kamu tersebut tidak dapat digolongkan sebagai tindakan sosial.

Dalam khazanah sosiologi, pengertian tindakan sosial di atas dipengaruhi oleh definisi Max Weber. Max Weber seperti dikutip oleh George Ritzer  mengartikan tindakan sosial sebagai tindakan manusia yang dapat memengaruhi individu-individu lainnya dalam masyarakat. Pemikiran Max Weber itu berbeda dengan pemikiran sosiolog lainnya. Mari kita bandingkan dengan pemikiran Emile Durkheim. Emile Durkheim seperti dikutip oleh Gorge Ritzer  menunjuk tindakan sosial sebagai perilaku manusia yang diarahkan oleh norma-norma dan tipe solidaritas kelompok tempat ia hidup.

Sementara itu, pemikir besar Karl Marx seperti dikutip oleh Gorge Ritzer  mengartikan tindakan sosial sebagai aktivitas manusia yang berusaha menghasilkan barang, atau mencoba sesuatu yang unik, maupun untuk mengejar tujuan tertentu.

Konsep tindakan sosial menjadi salah satu konsep dasar yang sangat penting dalam sosiologi. Bermula dari perbedaan definisi tentang tindakan sosial inilah muncul berbagai aliran dalam sosiologi. Hal ini disebabkan karena konsep ini berpengaruh terhadap teori selanjutnya. Namun, pada saat ini kalian hanya diajak memahami pengertian pokok dari tindakan sosial.

Max Weber membedakan tindakan dengan perilaku yang murni reaktif. Mulai sekarang konsep perilaku dimaksudkan sebagai perilaku otomatis yang tidak melibatkan proses pemikiran. Stimulus datang dan perilaku terjadi, dengan sedikit saja jeda antara stimulus dan respons.Ia memusatkan perhatiannya pada tindakan yang jelas-jelas campur tangan proses pemikiran antara terjadinya stimulus dan respons.

Dalam teori tindakannya, tujuan Weber tak lain adalah memfokuskan perhatian pada individu, pola regulitas tindakan, dan bukan pada kolektivitas. Yang terpenting adalah pembedaan yang dilakukan Weber terhadap kedua tipe dasar tindakan rasional yaitu :

  1. Rasionalitas nilai

Tindakan yang ditentukan oleh keyakinan penuh kesadaran akan nilai perilaku-perilaku etis, estetis, religius atau bentuk perilaku lain, yang terlepas dari prospek keberhasilannya.

  1. Tindakan afektual

Tindakan yang ditentukan oleh emosi actor.

  1. Tindakan tradisional

Tindakan yang ditentukan oleh cara bertindak aktor yang biasa dan telah lazim dilakukan.

 

Tumpuan dasar yang dengan ini Weber membuat peralihan dari aksi sosial ke kehidupan sosial umum adalah tipologi aksi.Aksi diklasifikasikan ke dalam empat macam untuk keperluan penyusunan komponen-komponen yang mencakup di dalamnya.

Jenis-Jenis Tindakan Sosial

Manusia bertindak didorong oleh tujuan tertentu. Perbedaan tujuan melahirkan tindakan sosial yang beraneka ragam. Max Weber seperti dikutip oleh George Ritzer membedakan tindakan sosial ke dalam empat kategori sebagai berikut.

1.     Zwerk Rational (Rasionalitas Instrumental)

Kelakuan yang diarahkan secara rasional kepada tercapainya suatu  tujuan. Dengan kata lain dapat dikatakan sebagai kesesuaian antara cara dan tujuan.

Contohnya :

  1. Ibu Guru Nurhayati membeli sepeda motor agar ia dapat sampai di sekolah lebih awal.
  2. Fauzi memutuskan untuk belajar materi fisika yang akan diujikan besok daripada menonton aksi Jet Li di televisi.

Dua bentuk tindakan sosial tersebut termasuk Zwerk Rational. Tindakan tersebut dilaksanakan setelah melalui pertimbangan matang mengenai tujuan dan cara yang akan ditempuh untuk meraih tujuan itu. Jadi, Zwerk Rational melekat pada tindakan yang diarahkan secara rasional untuk mencapai suatu tujuan tertentu.

  1. 2.      Werk Rational (Rasionalitas Nilai)

Kelakuan yang berorientasi kepada nilai. Berkaitan dengan nilai – nilai dasar dalam masyarakat, nilai disini seperti keindahan, kemerdekaan, persaudaraan, dll. Tindakan sosial jenis ini hampir serupa dengan kategori atau jenis tindakan rasionalitas instrumental. Hanya saja dalam Werk Rational tindakan-tindakan sosial ditentukan oleh pertimbangan pertimbangan atas dasar keyakinan individu pada nilai-nilai estetis, etis, dan keagamaan.

Contohnya :

Seorang pemuda memberikan tempat duduknya kepada seorang nenek karena ia memiliki keyakinan etis bahwa anak muda harus hormat kepada orang tua. Atau, seorang pertapa rela berpuasa sekian hari untuk mendapatkan berkah sesuai dengan kepercayaannya.

 

  1. 3.        Affectual Action (Tindakan yang Dipengaruhi Emosi)

Kelakuan yang menerima orientasi dari perasaan atau emosi atau Afektif .

Contohnya :  seperti orang yang melampiaskan nafsu mereka.

  1. 4.       Traditional Action (Tindakan karena Kebiasaan)

Kelakuan Tradisional bisa dikatakan sebagai Tindakan  yang tidak memperhitungkan pertimbangan Rasional. Tindakan sosial ini dilakukan semata-mata mengikuti tradisi atau kebiasaan yang sudah baku. Seorang bertindak karena sudah rutin melakukannya. Misalnya, tradisi mudik saat Lebaran atau Hari Raya Idul Fitri. Orang tetap memaksakan diri untuk pulang kampung meski harus bersusah payah untuk mewujudkannya. Contoh lainnya berupa peringatan hari kelahiran, mitoni bagi masyarakat Jawa, atau kegiatan upacara yang telah dilakukan sejak nenek moyang dahulu.

Makna merupakan suatu hubungan yang terasa secara sadar antara cara-cara dan tujuan-tujuan. Berbagai makna dapat diorganisasikan dengan sejumlah cara, dengan efisiensi dengan menetapkan keunggulan tujuan-tujuan dan cara-cara sebagaimana dalam tujuan-tujuan yang benar menurut agama dan melakukan cara-cara untuk mencapainya berdasarkan agama, dengan munculnya emosi, dan dengan penetapan tradisi-tradisi dan kebiasaan-kebiasaan.

Weber merupakan pelopor yang sangat handal.Baginya hanya individu dan aksi individu yang tampak.Berbagai keteraturan dalam tindak tanduk antar manusia hanyalah merupakan stabilitas perilaku dalam kaitannya dengan rasionalitas, kepastian etik, emosionalitas, atau kebiaasaan. Menjadi jelas, perilaku akan selalu menampilkan sebuah penyempurnaan bagi orang-orang, tidak ada yang lebih rasional dan lebih emosional; kedua-duanya dan pertanyaannya adalah sering merupakan salah satu ketetapan yang akan menjadi paling menentukan. Dikarenakan hanya aksi-aksi individu yang tampil; disini tidak ada sosok individu super. Beberapa permasalahan yang paling sering muncul secara teoritis dari sosiologi Weber terpendam dalam tipologinya. Ini merupakan bukti bahasa bermacam-macam cara penstabilan atau pengaturan tindak tanduk yang berbeda merupakan dorongan. Rasionalisasi dapat menjadikan jalannya, sering hanya dengan cara merombak pola-pola tradisional tindak tanduk sebuah kepastian tujuan dapat mendorong sebuah rasionalisasi yang cepat di beberapa bidang kehidupan. Tak diragukan Weber hidup untuk melaksanakan programnya suatu sosiologi murni, analisisnya mengenai isu-isu seperti yang dikemukakan merupakan salah satu yang paling fundamental dari permasalahan-permasalahan teoritisnya.

Langkah teoritis utama berikutnya dalam sosiologi Weber adalah pengenalan konsep dukungan sosial.Ini merupakan konsep dasar untuk membuat peralihan dari aksi-aksi perolehan kepada pola-pola perilaku.Ini merupakan konsep penting ilmu seseorang berubah secara serta merta dari aksi sosial ke orang sosial atau kelompok-kelompok sosial atau lembaga-lembaga dan komunitas-komunitas.

Konsep hubungan sosial itu dipergunakan untuk menandai perilaku pluralitas dan para pelaku sejauh, di dalam isinya yang bermakna, aksi tiap-tiap orang merupakan bagian dari perilaku yang lain dan berorientasi pada makna itu. Hubungan sosial meliputi keberadaan suatu kemungkinan yang akan terjadi, dalam pengertian yang dapat dipahami secara maknawi suatu lingkup aksi sosial. Makna yang didapat adalah baik itu yang bersifat aktual maupun suatu yang secara teoritis tergolog tipe murni. Makna yang dibutuhkan tidaklah sama bagi semua kalangan. Hubungan sosial dapat bersifat sementara atau permanen. Disaat tidak ada lebih dari satu peluang bahwa jenis perilaku tertentu akan muncul; tidak ada hubungan yang dapat dikatakan muncul.

Weber memerlukan konsep hubungan sosial itu untuk mengadakan transisi dari konsepnya mengenai aksi sosial, kepada struktur sosial tersebut. Dari konsepnya mengenai aksi sosial itu Weber mengarah ke suatu tipologi aksi sosial yang mengacu pada keteraturan-keteraturan yang diamati secara empirik, kemudian ia langsung mengarah, dari konsepnya mengenai hubungan sosial ke kategori-kategori keseragaman-keserangaman empirik di dalam aspek sosial. Dia menjelaskan:

  1. Seragam sebuah keseragaman aktual daripada hubungan sosial.
  2. Kebiasaan-kebiasaan yang mengacu pada kekeluargaan diri atau kebiasaan yang telah berjalan kuno.
  3. Kebiasaan rasional manakala kebiasaan dilakukan oleh aksi-aksi sosial para pelakunya (dalam kondisi-kondisi yang sama)
  4. Gaya suatu kebiasaan yang ditentukan oleh penampilan kekinian dalam keserasian perilaku.
  5. Konvensi kebiasaan yang lebih dari keinginan-keinginan terhadap kebanggan sosial.
  6. Hukum kebiasaan yang ditentukan oleh adanya pelaksanaan kekuasaan yang dirancang.

Kesemua itu merupakan kategori-kategori yang diamati secara empirik dan hubungan sosial. Konsep Weber mengenai hubungan sosial dan penjelasannya antara keseragaman-keseragaman empiris hubungan sosial dipergunakan di dalam pendefinisian sebuah tatanan yang sah, catatan tambahan hanya diperlukan untuk membatasi kelompok (group). Aksi yang melibatkan hubungan sosial dapat diarahkan oleh pelaku pada saat keyakinan (Verstellung) mengenai keberadaan sebuah tatanan yang sah kemungkinan bahwa aksi akan terjadi kemudian diarahkan dinamakan keabsahan. Seperti halnya sebuah tatanan adalah konvensional, manakala hal itu dijamin oleh bahwa penyimpangan akan muncul dalam bentuk relatif umum dan reaksi-reaksi signifikan yang tidak menarik.

Arti sebuah tatanan itu disebut hukum manakala kesepakatan-kesepakatan dilaksanakan dalam bentuk sanksi dalam arti fisik ditangan seorang yang ditugasi untuk melaksanakan tugas tersebut.Gagasan tentang tatanan yang sah diperlukan untuk menyusun pola-pola hubungan sosial masyarakat luas.Keabsahan dari tatanan adalah kemungkinannya dapat diterapikan atau dilaksanakan.

Sebagaimana dalam definisi Weber mengenai hubugan sosial ini merupakan suatu jawaban atas kekhawatirannya.Yang penting secara mendasar adalah jalan bagaimana tatanan itu ditegakkan apakah itu dengan kekuatan moral atau dengan wewenang yang diatur secara legal hukum. Suatu sosok signifikan dari analisis tentang tatanan-tatanan yang sah adalah cara menilai permasalahan-permasalahan makna. Landasan pengesahan, sebuah tatanan dikemukakan untuk menggantikan tradisi, keyakinan rasional terhadap nilai-nilai absolut, kepastian emosional dan para pendukungnya dengan suatu cara yang diterima sebagai hukum.

Suatu hubungan sosial diperlukan sebagai pertentangan sehingga aksi yang menampilkannya itu ditentukan oleh intensnya pelaku melakukan perlawanan terhadap tantangan orang lainnya.Hubungan – hubungan pertentangan beragam mulai dari bentuk-bentuk yang sangat mungkin didamaikan seperti pertandingan hingga bentuk-bentuk pertentangan berdarah. Hubungan sosial adalah komunal sepanjang orientasi aksinya didasarkan atas perasaan subjektif yang mereka miliki bersama. Jenis hubungan ini beragam mulai dari asosiasi yang relatif rasional hingga hubungan komunal berukuran besar.Hubungan sosial, baik itu komunal maupun asosiatif, terbuka bagi orang luar sebatas sesuai dengan makna subjektif, aksi sosial itu sesuai dengan tatanan yang sesuai bagi mereka.

Keseluruhan sosiologi Weber didasarkan pada konsepsinya atas tindakan sosial.Dia membedakan diantara tindakan sosial dan perilaku reaktif belaka. Konsep perilaku disediakan, pada waktu itu seperti sekarang, untuk perilaku otomatis yang tidak melibatkan proses pemikiran. Suatu stimulus disajikan dan terjadilah perilaku, dengan sedikit campur tangan diantara stimulus dan respons. Perilaku demikian tidak diperhatikan dalam sosiologi Weber. Dia memerhatikan tindakan yang jelas-jelas melibatkan campur tangan atas proses pemikiran dan tindakan bermakna yang dihasilkan diantara kejadian suatu stimulus dan respons terakhir. Dinyatakan dengan cara yang agak berbeda, tindakan dikatakan terjadi bila para individu melekatkan makna-makna subjektif kepada tindakan mereka. Bagi Weber, tugas analisis sosiologis mencakup penafsiran tindakan dari segi makna subjektifnya. Contoh yang baik dan lebih spesifik pemikiran Weber mengenai tindakan tersebut ditemukan didalam diskusinya mengenai tindakan ekonomi, yang dia definisikan sebagai orientasi yang sadar, terutama kepada pertimbangan ekonomi masalah yang penting bukan kebutuhan objektif untuk membuat persediaan ekonomi, tetapi kepercayaan bahwa hal itu perlu.

Dalam menancapkan analisisnya di dalam proses mental dan tindakan bermakna yang dihasilkan, Weber berhati-hati dalam menunjukkan bahwa kelirulah bila memandang psikologi sebagai fondasi penafsiran sosiologis atas tindakan. Weber tampak membuat poin yang sama secara esensial seperti yang dibuat Durkheim dalam mendiskusikan setidaknya beberapa fakta sosial nonmaterial. Yakni para sosiolog tertarik pada proses-proses mental, tetapi itu tidak sma dengan perhatian psikolog pada pikiran, personalitas, dan seterusnya. Meskipun Weber menyiratkan bahwa dia mempunyai perhatian yang besar kepada proses-proses mental, sebenarnya dia menghabiskan sedikit waktu untuk itu.Weber melihat dalam konsep personalitas perhatian yang banyak disalahgunakan yang mengacu kepada suatu pusat kreativitas yang sangat tidak rasional, dihadapan pusat itulah penyelidikan analitis berhenti.

Di dalam teorinya tentang tindakan, jelaslah Weber ingin berfokus pada para individu, pola-pola dan regularitas-regularitas tindakan dan bukan pada kolektivitas. Tindakan di dalam arti orientasi perilaku yang dapat dipahami secara subjektif, ada hanya sebagai perilaku seorang atau lebih manusia individual .Weber siap untuk mengakui bahwa untuk maksud-maksud tertentu mungkin kita harus memperlakukan kolektivitas-kolektivitas sebagai para individu.Tetapi untuk penafsiran subjektif tindakan didalam kerja sosiologis, kolektivitas-kolektivitas itu harus diperlakukan hanya sebagai hasil-hasil dan cara-cara pengorganisasian tindakan-tindakan khusus pribadi-pribadi individual, karena hal-hal itu sajalah yang dapat diperlakukan sebagai agen-agen didalam serangkaian tindakan yang dapat dipahami secara subjektif. Akan tampak bahwa Weber nyaris tidak pernah dapat lebih eksplisit lagi: sosiologi tindakan pada akhirnya memerhatikan para individu, bukan kolektivitas – kolektivitas.

Weber menggunakan metodelogi tipe idealnya untuk menjelaskan makna tindakan dengan memperkenalkan empat tipe dasar tindakan. Tipologi penting itu tidak hanya untuk memahami apa yang dimaksud Weber dengan tindakan, tetapi sebagian juga merupakan dasar bagi perhatian Weber pada struktur-struktur sosial dan lembaga-lembaga yang lebih besar. Yang paling penting ialah pembedaan yang dilakukan Weber diantara dua tipe tindakan rasional.Yang pertama adalah rasionalitas alat-tujuan, atau tindakan yang ditentukan oleh pengharapan – pengharapan mengenai perilaku objek-objek di dalam lingkungan dan perilaku manusia lainnya, pengharapan-pengharapan itu digunakan sebagai kondisi-kondisi atau alat-alat untuk pencapaian tujuan sang aktor sendiri yang dikejar dan diperhitungkan secara rasional. Kedua adalah rasionalitas nilai, atau tindakan yang “ditentukan oleh kepercayaan yang sadar akan nilai tersendiri suatu bentuk perilaku yang etis, estetis, religius, atau bentuk lainnya, terlepas dari prospek-prospek kebehasilannya. Tindakan afektual ditentukan oleh keadaan emosional sang aktor. Tindakan tradisional ditentukan oleh cara-cara berperilaku sang aktor yang biasa dan lazim.

Meskipun Weber membedakan empat bentuk tindakan yang khas-ideal, dia sadar betul bahwa setiap tindakan tertentu biasanya memuat kombinasi keempat tipe-tipe ideal tindakan. Selain itu, weber mengatakan bahwa para sosiolog mempunyai peluang yang jauh lebih baik untuk memahami tindakan dari varietas  yang lebih rasional daripada untuk memahami tindakan yang didominasi oleh perasaan atau tradisi. Dalam pandangan banyak ahli sosiologi, Max Weber merupakan ilmuwan sosial terbesar pada masa paruh pertama abad dua puluh.Sebenarnya Weber ditokohkan sebagai titik keberangkatan karir dari banyak ahli sosiologi kontemporer terkemuka. Diantara ilmuwan sosial terkemuka yang memijakkan titik keberangkatannya adalah Karl Mennheim, Hans Spencer, Hans Gerth, Talcot Parsons, Robert Merton, C. Wright Mills  dan masih banyak lagi yang lainnya. Penghargaan yang tinggi atas kekayaan karya Weber semata-mata diperoleh melalui suatu pengetahuan dari kajian-kajian empiriknya yang konsep-konsep teoretis dan metodologis digambarkan disini dikombinasikan dengan suatu penghargaan yang benar-bemar luar biasa dalam hal menjadikan data kesejarahan pada fokus baru yang lebih tajam. Beberapa diantara kecenderungan yang signifikan dalam ilmu sosial kontemporer merupakan kelanjutan dari karya yang dirintis oleh Max weber diantaranya adalah teori stratifikasi sosial.Kajian mengenai birokrasi dan organisasi berskala besar, kajian mengenai legitimasi wewenang, sosiologi hukum, sosiologi politik, sosiologi agama, dan sosiologi musik.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

MAX WEBER

ETIKA PROTESTAN

The Protestant Ethic And The Spirit Of Capitalism

Karya utamanya berhubungan dengan rasionalisasi dalam sosiologi agama dan pemerintahan, meski ia sering pula menulis di bidang ekonomi. Karyanya yang paling populer adalah esai yang berjudul Etika Protestan dan Semangat Kapitalisme, yang mengawali penelitiannya tentang sosiologi agama. Weber berpendapat bahwa agama adalah salah satu utama bagi perkembangan yang berbeda antara budaya Barat dan budaya Timur. Dalam karyanya yang terkenal lainnya, Politik sebagai Panggilan, Weber mendefinisikan negara sebagai sebuah lembaga yang memiliki monopoli dalam penggunaan kekuatan fisik secara sah, sebuah definsi yang menjadi penting dalam sebuah studi tentang ilmu politik Barat modern.

Protestan adalah sebuah mashab dalam agama kristen. Mashab atau denominasi ini muncul setelah protes Martin Luther pada tahun 1517 dengan 95 dalilnya. Kata Protestan berarti Pro-testanum yang berarti kembali ke Injil (testanum). Kristen Protestan itu sendiri memiliki 2 ciri khas yaitu iman dan asas. Asas tersebut mengenai sistematis dan rasional, sebagai suatu panggilan yang bernilai religius yang mempertahankan suatu disiplin yang teguh untuk tidak menyerah begitu saja pada godaan- godaan materiil, dan percaya bahwa nilai religius dapat diukur dengan tingkat keberhasilan yang dicapai dalam tugas pekerjaannya. Hal ini mendorong Max Weber untuk mengungkapkan opininya berupa etika protestan dimana menurut Max Weber, etika protestan mendorong seseorang untuk bekerja sungguh-sungguh, tidak berfoya-foya, tidak konsumtif, sehingga hal-hal tersebut mendorong kesuksesan.

Dalam bukunya yang berjudul ”Etika Protestan dan Semangat Kapitalisme”, Weber mengemukakan bahwa etika dan gagasan Puritan telah memberikan pengaruh terhadap perkembangan kapitalisme. Ia mendefinisikan semangat kapitalisme sebagai gagasan dan kebiasaan yang bisa menunjang pengejaran keuntungan ekonomi secara rasional. Weber menunjukkan bahwa semangat  yang hanya ingin mengejar keuntungan secara rasional tidaklah terbatas hanya ada di budaya Barat. Bila hal tersebut dipandang sebagai sikap individual, maka ia tidak dapat dengan sendirinya membentuk suatu tatanan ekonomi baru (yaitu kapitalisme). Melainkan adanya kecendurungan-kecenderungan umum yaitu keserakahan terhadap keuntungan dengan upaya yang minimal dengan gagasan tentang kerja yang merupakan suatu “kutukan” dan beban yang mana harus dihindari khususnya ketika hasil yang diperoleh melebihi kebutuhan untuk kehidupan yang sederhana.

Weber memperlihatkan bahwa tipe-tipe Protestanisme tertentu mendukung pengejaran keuntungan ekonomi yang rasional dan bahwa kegiatan-kegiatan duniawi telah memperoleh makna yang spiritual dan moral yang positif. Ini bukanlah tujuan dari gagasan keagamaan tersebut, melainkan hanya sebagai “produk sampingan” saja. Max Weber berpendapat bahwa kapitalisme berevolusi ketika etika protestan (terutama calvinis) mempengaruhi sejumlah orang untuk bekerja dalam dunia sekuler, mengembangkan perusahaan mereka sendiri dan turut beserta dalam perdagangan dan pengumpulan kekayaan untuk investasi. Dalam kata lain,etika Protestan adalah sebuah kekuatan belakang dalam sebuah aksi masal tak terencana dan tak terkoordinasi yang menuju ke pengembangan kapitalisme. Pemikiran ini juga dikenal sebagai “Thesis Weber”. Seperti penjelasan di atas dalam Etika Protestan dan Semangat Kapitalisme, Weber mengajukan tesis bahwa etika dan gagasan-gagasan telah mempengaruhi perkembangan kapitalisme. Namun demikian, devosi keagamaan biasanya disertai dengan penolakan terhadap urusan-urusan duniawi, termasuk pengejaran akan harta kekayaan. Ia mendefinisikan semangat kapitalisme sebagai gagasan dan kebiasaan yang menunjang pengejaran keuntungan ekonomi secara rasional. Weber menunjukkan bahwa semangat seperti itu tidaklah terbatas pada budaya Barat bila hal itu dipandang sebagai sikap individual, namun bahwa upaya individual yang heroik “ demikian ia menyebutnya ” tidak dapat dengan sendirinya membentuk suatu tatanan ekonomi yang baru (kapitalisme). Kecenderungan-kecenderungan yang paling umum adalah keserakahan akan keuntungan dengan upaya yang minimal dan gagasan bahwa kerja adalah suatu kutukan dan beban yang harus dihindari khususnya ketika hasilnya melebihi dari kebutuhan untuk kehidupan yang sederhana. Seperti yang ditulisnya dalam esainya: Agar suatu gaya hidup yang teradaptasi dengan sifat-sifat khusus dari kapitalisme dapat mendominasi gaya hidup yang lainnya, ia harus muncul dari suatu tempat tertentu, dan bukan dalam pribadi-pribadi yang terpisah saja, melainkan sebagai suatu gaya hidup yang umum dari keseluruhan kelompok manusianya. Karya Weber tentang The Protestan Ethic and Spirit of Capitalism menunjukkan dengan baik keterkaitan doktrin agama dengan semangat kapitalisme.

  1. 1.     Pengaruh Agama Terhadap Perkembangan Ekonomi

Karyanya yang pertama berawal melalui sebuah esai yaitu yang membahas mengenai etika protestan dan semangat kapitalisme. Weber mengatakan bahwa agama merupakan salah satu alasan utama adanya perbedaan antara budaya barat dan timur. Dimana yang kemudian Weber pun mengaitkan efek pemikiran agama dalam kegiatan ekonomi, hubungan antara stratifikasi sosial dan pemikiran agama serta pembedaan karakteristik budaya barat. Dimana tujuannya tersebut untuk menemukan alasan mengapa budaya barat dan timur berkembang pada jalur yang berbeda. Kemudian Weber pun menjelaskan temuanya terhadap dampak pemikiran agama puritan (protestan) yang memiliki pengaruh besar dalam perkembangan sistem ekonomi di Eropa dan Amerika Serikat, namun tentu saja ini ditopang dengan faktor lain di antaranya adalah rasionalitas terhadap upaya ilmiah, menggabungkan pengamatan dengan matematika, ilmu tentang pembelajaran dan yurisprudensi, sistematisasi terhadap administrasi pemerintahan dan usaha ekonomi. Studi agama menurut Weber hanyalah usaha untuk meneliti satu emansipasi dari pengaruh magi, yaitu pembebasan dari pesona. Hal ini menjadi sebuah kesimpulan yang dianggapnya sebagai aspek pembeda yang sangat penting dari budaya yang ada di barat.

Dalam dinamika agama dan perubahan sosial, agama bisa dijadikan obyek ataupun subyek. Menurut Weber, perubahan mengalir dari suprastruktur menuju infrastruktur. Ide dan pola pikir mempengaruhi tingkah laku praktis. Begitu pula dengan agama, menurut dia agama merupakan sebuah gagasan yang berimplikasi pada tingkah laku manusia.

Adanya sebuah korelasi yang terjadi antara afiliasi agama protestan pada kondisi pra kapitalis, pada kemajuan inilah yang menjadikannya dasar dari teori tersebut dimana fenomena empiris itulah yang sering dan banyaknya dijumpai munculnya pemimpin-pemimpin perusahaan, komersial terlatih, serta tenaga teknisi yang hampir sebagian besarnya didominasikan oleh orang-orang protestan yang mendorong seseorang agar dapat bekerja sungguh-sungguh. Dari situlah menurut Weber hal yang paling dianggap memiliki pengaruh yang besar bagi peralihan perekonomian dari perekonomian tradisional ke arah perekonomian yang modern.

 

–        Pengaruh Ide Agama

Dalam kehidupan segala sesuatunya pasti memiliki fungsi ataupun konsekuensi logis, baik itu termasuk dalam konsekuensi yang positif maupun negatif. Hal serupa pun terjadi dalam agama, dimana agama tersebut sudah pasti memiliki konsekuensi pada berbagai macam bagian kehidupan.

Dalam kehidupan agama memiliki nilai sentral, menurut Karl Marx, perjuangan antar kelas merupakan kunci untuk mengerti perubahan sejarah serta transisi dari satu tipe ke tipe struktur sosial lainnya. Perjuangan kelas mencerminkan kepentingan-kepentingan ekonomi obyektif yang berlawanan dalam kelas yang berbeda. Kepentingan-kepentingan ini ditemukan oleh kondisi-kondisi materil  di mana para anggota dari kelas-kelas yang berbeda itu berada.

Dalam bukunya The Protestant Ethic and The Spirit of Capitalism dimana Weber menganalisa, ia mengatakan bahwa terdapat pengaruh keagamaan yang cukup besar pada perekonomian yang terjadi ketika itu. Dari analisisnya itulah ia memusatkan perhatiannya lebih kepada protestanisme sebagai sebuah gagasan atau pemikira, dan mengetahui seberapa pengaruhkah hal tersebut terhadap kemunculannya sebuah system gagasan lain yang yaitu kapitalisme dan juga terhadap system ekonomi kapitalis dari gagasan kapitalisme tersebut.

The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism, dalam karyanya tersebut Weber mengadakan sebuah dikotominasi dari pengaruh-pengaruh orientasi keagamaan dalam ranah kegiatan ekonomi antara Protestan dan Katolik.   Weber menemukan kenyataan bahwa dalam konteks Eropa modern pemimpin-pemimpin niaga dan pemilik modal, maupun meraka yang tergolong sebagai buruh terampil tingkat tinggi, perusahaan-perusahaan modern yang terlatih dalam bidang teknis dan niaga, kebanyakan adalah para pengikut Protestan.

Jika kita lihat pada awal-awal abad ke 16, maka akan terlihat bahwa terdapatnya orang-orang Protestan sebagai orang yang memegang kekuasaan dan keterampilan dalam bidang teknis dan perniagaan. Jadi ini bukan merupakan fenomena keberagamaan Protestan pada masa kontemporer saja, di mana Weber mencetuskan statemennya, melainkan ini merupakan fakta sejarah.

Begitu sangat besarnya pengaruh ide keagamaan pada kehidupan di mata Weber. Sebagaimana asumsinya bahwa dinamika sosial sosial itu mengalir dari suprastruktur menuju infrastruktur. Konsep ide dimanifestasikan pada berbagai macam kehidupan.

 

2. Studi Pada Masyarakat Calvinis di Eropa

Pengaruh internasional Yohanes Calvin dalam perkembangan doktrin-doktrin Reformasi Protestan dimulai ketika ia berusia 25 tahun, ketika ia mulai menulis edisi pertamanya dari Institusi Agama Kristen pada 1534 (diterbitkan pada 1536). Karya ini mengalami sejumlah revisi pada masa hidupnya, termasuk terjemahan yang mengesankan ke dalam bahasa Perancis sehari-hari. Lewat Institusi bersama dengan karya-karya polemik dan penggembalaan Calvin, sumbangan-sumbangannya terhadap dokumen-dokumen konfesional untuk digunakan di gereja-gereja, dan sumbangannya yang besar dalam bentuk tafsir Alkitab, Calvin memberikan pengaruh secara pribadi yang besar terhadap Protestanisme. Ia hanyalah salah satu di antara banyak tokoh lainnya yang memengaruhi doktrin-doktrin gereja-gereja Hervormd, meskipun akhirnya ia menjadi yang paling terkemuka.

Gereja-gereja Hervormd, dan juga Calvin, tergolong pada tahap kedua dari Reformasi Protestan, ketika gereja-gereja Injili mulai tebentuk setelah Martin Luther dikucilkan dari Gereja Katolik. Calvin adalah seorang pengungsi Perancis di Jenewa. Ia telah menandatangani Pengakuan Augsburg Lutheran setelah direvisi oleh Melanchton pada 1540, tetapi pengaruhnya pertama-tama dirasakan dalam Reformasi Swiss, yang tidak bersifat Lutheran, melainkan lebih mengikuti Ulrich Zwingli. Sejak awal telah jelas bahwa doktrin gereja-gereja Hervormd berkembang dalam arah yang bebas dari Luther, di bawah sejumlah penulis dan pembaharu, termasuk Calvin yang kelak menjadi sangat menonjol. Jauh di kemudian hari, ketika kemashyurannya dihubungkan dengan gereja-gereja Hervormd, seluruh kumpulan ajarannya kemudian disebut sebagai “Calvinisme”. Calvinisme adalah versi protestanisme yang paling banyak menarik perhatian Weber. Satu ciri Calvinisme ialah ide bahwa hanya sekelompok kecil manusia yang terpilih untuk mendapat keselamatan. Selain itu, Calvinisme menganut ide takdir; manusia ditakdirkan untuk selamat atau masuk neraka. Tidak ada yang dapat dilakukan individu atau agama secara keseluruhan untuk memengaruhi takdir itu. Namun, ide takdir membuat orang merasa tidak pasti tentang apakah mereka termasuk di antara orang yang selamat atau tidak. Untuk mengurangi perasaan tidak pasti itu, para Calvinis mengembangkan ide bahwa tanda-tanda dapat digunakan sebagai indikator apakah seseorang telah selamat. orang didesak untuk bekerja keras, karena jika mereka rajin, mereka akan meenyingkapkan tanda-tanda keselamatan, yang ditemukan di dalam keberhasilan ekonomi. Ringkasnya kaum Calvinis didesak untuk telibat secara bersemangat di dalam kegiatan duniawi dan menjadi seorang “manusia yang menekuni profesi”.

Akan tetapi tindakan-tindakan saja tidak cukup. Calvinisme, sebagai suatu etika memerlukan pengendalian diri dan suatu gaya hidup yang tersistem yang meliputi suatu rentetan kegiatan terpadu, khususnya kegiatan-kegiatan bisnis. Hal ini kontras dengan cita-cita Kristen Abad Pertengahan, yaitu para individu hanya melakukan tindakan-tindakan yang terpisah-pisah bila ada kesempatan untuk bertobat dari dosa-dosa tertentu dan meningkatkan peluang mereka untuk mendapat keselamatan. “Tuhan Calvinisme meminta orang-orang beriman tidak hanya melakukan pekerjaan-pekerjaan baik yang tunggal, tetapi kehidupan dengan pekerjaan-pekerjaan baik yang digabungkan ke dalam suatu sistem terpadu”. Calvinisme menghasilkan suatu sistem etika dan pada akhirnya, sekelompok orang yang merupakan kaum kapitalis yang mulia lahir. Calvinisme “memberi apresiasi etis tertinggi kepada orang yang tenang, kelas menengah, yang berusaha sendiri”. Weber merangkum dengan rapi pendiriannya sendiri mengenai Calvinisme dan hubungannya dengan kapitalisme.

Penilaian religius bahwa makna tertinggi asketisme adalah panggilan duniawi untuk berkarya secara sistematik, tidak kenal henti dan berkesinambungan, dan pada saat yang sama sebagai bukti paling meyakinkan dan paling jelas bagi kelahiran kembali dan iman sejati, tentulah merupakan daya ungkit paling kuat dan dapat dibayangkan yang menyebabkan meluasnya semangat kapitalisme.

Selain hubungannya yang umum dengan semangat kapitalisme, Calvinisme mempunyai beberapa hubungan yang lebih spesifik. Pertama, seperti yang sudah disebutkan, para kapitalis dapat mengejar kepentingan-kepentingan ekonomi mereka dengan kejam dan merasa bahwa pengejaran demikian bukan sekedar kepentingan diri tetapi sesungguhnya merupakan tugas etis mereka. Hal itu tidak hanya mengijinkan tindakan-tindakan mementingkan diri yang tidak kenal belas kasihan yang belum pernah terjadi sebelumnya di dalam bisnis, tetapi juga membungkam para pengkritik potensial, yang tidak dapat mereduksi tindakan-tindakan itu hanya kepada kepentingan diri. Kedua, Calvinisme menyediakan kepada kaum kapitalis yang sedang bangkit “para pekerja yang tenang, bersungguh-sungguh dan luar biasa rajin yang bertaut kepada pekerjaan mereka seperti halnya kepada suatu tujuan hidup yang diinginkan Tuhan”. Dengan tenaga kerja seperti itu, sang kapitalis yang sedang muncul dapat meningkatkan level eksploitasi hingga ke puncak-puncak yang  belum pernah terjadi sebelumnya. Ketiga, Calvinisme melegitimasi suatu sistem stratifikasi yang tidak adil dengan memberi sang kapitalis “jaminan yang menentramkan hati bahwa distribusi makanan yang tidak sama di dunia ini adalah dispensasi istimewa dari Penyelenggara Illahi “.

Weber juga mempunyai rasa keberatan terhadap sistem kapitalisme, seperti yang dilakukan terhadap semua aspek dunia yang rasionalisasi. Contohnya dia harus menunjukkan bahwa kapitalisme cenderung menghasilkan “para spesialis tanpa semangat, para sensualis tanpa hati; ketidaksahan itu membayangkan bahwa kapitalisme telah mencapai level peradaban yang belum pernah dicapai sebelumnya “.

Meskipun di dalam The Protestant Ethic Weber berfokus pada efek Calvinisme dalam semangat kapitalisme, dia menyadari dengan baik bahwa kondisi-kondisi sosial dan ekonomi mempunyai dampak resiprokal pada agama. Dia memilih tidak membahas hubungan-hubungan itu di dalam buku tersebut, tetapi dia menjelaskan bahwa tujuannya bukan untuk mengganti suatu penafsiran spiritualis yang bersisi satu dengan penjelasan meterialis bersisi satu yang dia tautkan dengan kaum Marxis. The Protestan Ethic memunculkan sejumlah isu yang luas termasuk ke jantung teori sosiologi kontemporer.

 

–        Pengaruh Agama Ascetis Protestanisme

Weber membedakan empat aliran utama dari agama Protestan ascetic yaitu: Calvinisme, Metodisme, Pietisme dan sekte Baptis. Bagian penting dalam analisa Weber, terpusat kepada Calvinisme. Ia lebih menitikberatkan kepada doktrin-doktrin yang diwujudkan dalam ajaran-ajaran kaum Calvin yang terjadi pada akhir abad ke-16 dan abad ke-17. Weber kemudian melanjutkan mengidentifikasi tiga ajaran utama yang sangat penting dalam Calivinisme yaitu:

Doktrin yang mengajarkan bahwa alam semesta ini diciptakan untuk lebih meningkatkan keagungan Tuhan yang hanya mempunyai arti jika dikaitkan dengan maksud-maksud Tuhan. Tuhan itu tidak ada demi manusia, tetapi manusia itu ada demi kepentingan Tuhan.

Prinsip bahwa maksud-maksud yang Maha Kuasa, berada di luar jangkauan pengertian manusia. Manusia hanya bisa mengetahui butiran-butiran kecil dari kebenaran Tuhan, bilamana dikehendakinya untuk diketahui oleh manusia.

Percaya kepada nasib yang telah ditakdirkan oleh Tuhan; hanya sedikit orang yang terpilih untuk memperoleh kasih sayang yang abadi. Hal ini merupakan sesuatu yang telah diberikan tanpa bisa diambil kembali dari saat pertama penciptaan; kasih sayang abadi ini tidak terpengaruh oleh kegiatan manusia, karena bila ada anggapan bahwa kegiatan-kegiatan manusia bisa mempengaruhinya maka ini berarti mempunyai pikiran bahwa kegiatan-kegiatan manusia bisa mempengaruhinya, penilaian Tuhan yang kudus.

Weber berargumentasi bahwa akibat dari doktrin ini, terutama point ke tiga maka muncullah dua tanggapan mengenai hal tersebut. Pertama tanggapan bahwa individu harus merasakan sebagai suatu kewajiban untuk menganggap dirinya sebagai yang terpilih: tiap keragu-raguan tentang kepastian pemilihan itu merupakan bukti dari kepercayaan yang tidak sempurna dan oleh karenanya tidak ada kasih sayang. Kedua tanggapan bahwa kegiatan duniawi yang sangat mendalam merupakan sarana yang cocok untuk mengembangkan dan mempertahankan keharusan memilih kepercayaan kepada diri sendiri. Dengan demikian, penyelesaian “karya bajik” menjadi dianggap sebagai suatu ‘tanda’ terpilih – bukannya suatu metode untuk memperoleh keselamatan dalam segi apapun, akan tetapi lebih bersifat penghapusan kesangsian tentang keselamatan.

Weber menjelaskan hal ini, mengacu kepada tulisan-tulisan Richart Baxter. Baxter memperingatkan tentang godaan-godaan kekayaan, akan tetapi menurut Weber, peringatan ini semata-mata ditujukan kepada penggunaan kekayaan untuk menopang cara hidup yang bermalas-malasan dan santai. Malas-malasan dan membuang-buang waktu merupakan dosa yang paling utama. Doktrin ini belum dapat disamakan dengan apa yang dikatakan Franklin “waktu adalah uang,” akan tetapi dalil ini berlaku karena setiap jam disia-siakan berarti hilangnya waktu untuk kerja demi kemuliaan Tuhan. Calvinisme menuntut dari para pemeluknya suatu kehidupan berdisiplin yang masuk akal dan berkesinambungan, dan demikian menghapuskan kemungkinan menyesal dan bertobat untuk dosa-dosa yang dibuat mungkin oleh cara pengakuan dalam agama Katholik. Agama Katholik secara efektif membolehkan suatu sikap hidup yang sembrono, oleh karena si pemeluk agama itu bisa mengandalkan diri kepada pengetahuan bahwa penengahan lewat pendeta bisa memberikan pembebasan dari akibat-akibat kehilangan moral.

Bagi penganut Calvinisme, kerja di dunia materiil berkaitan dengan penilaian etika positif tertinggi. Memiliki kekayaan tidak memberikan suatu pengecualian apapun kepada seorang dari perintah Tuhan untuk bekerja tekun dan taat dalam panggilannya. Penting sekali dan menentukan bagi analisis Weber, bahwa ciri-ciri khas ini tidak ‘logis’, akan tetapi merupakan akibat-akibat psikologis dari doktrin orisinil mengenai takdir seperti yang dirumuskan oleh Calvin. Dengan demikian asal mula semangat kapitalis harus dicari dalam etika agama, yang paling penting cermat dikembangkan dalam aliran Calvinisme.

The Protestan Ethic dimaksudkan oleh Weber sebagai karya yang bersifat pragmatik. Ada beberapa hal pokok dalam karya Weber dalam The Protestant Ethic and The Spirit of Capitalism, bahwa karya ini berisi dukungan semangat kapitalisme adalah suatu yang tidak direncanakan dari etika keagamaan Calvin, dan secara umum dari konsepsi panggilan duniawi, yang menyebabkan agama Protestan memutuskan hubungan dengan pandangan tentang kebiaraan dari agama Katholik. Weber juga dalam karya ini, memperlihatkan bahwa rasionalisasi kehidupan ekonomi, yang menjadi ciri khas dari kapitalisme modern, berkaitan dengan komitmen-komitmen nilai yang tidak rasional.

 

3. Studi Robert N Bellah di Jepang

Robert N Bellah, menerbitkan buku berjudul Tokugawa Religion: The Cultural Roots of Modern Japan (1957) yang menganalisis kemajuan Jepang berdasar teori Max Weber yaitu Die Protestantische Ethik und der “Geist” des Kapitalismus (1905), menjelaskan peranan nilai agama pramodern itu dalam proses modernisasi.

 

–        Religi Jepang Pada Masa Tokugawa

Shogun Tokugawa berkuasa selama 250 tahun sejak tahun 1600. Kekuasaan keshogunan dimulai ketika Tokugawa Ieyasu berkuasa. Kekuasaan mereka berpusat di tokyo. Sementara itu yang seharunya memiliki kekuasaan mutlak secara teori yaitu kaisar bertempat di kyoto. Sejak tahun 1600 Jepang dikuasai oleh klan Tokugawa dan para pengikutnya seperti para samurai sebagai pemegang militer pada masa itu. Meskipun mereka berkuasa, kecemasan akan legitimasi kaisar tetap mereka takuti. Namun pada saat itu kaisar tidak melakukan banyak hal dan karena para Shogun tetap berkuasa selama beratus tahun yang menjadi sejarah panjang bagi tumbuhnya masyarakat Jepang.

Tahun 1603, Tokugawa Ieyasu diangkat sebagai Shogun yang kemudian membentuk pemerintahan di Edo ( Tokyo), sedangkan Kaisar tetap berada di Kyoto. Shogun yang berasal dari klan Tokugawa ini memerintah Jepang selama 250 tahun. Pemerintahannya juga disebut sebagai “Pemerintahan Periode Edo” (1603-1866).

Tahun 1633 Tokugawa Iemetsu (Shogun Ketiga) mengumumkan larangan bagi orang Jepang untuk bepergian ke luar negeri dan tahun 1639 mulai menerapkan politik isolasi untuk tidak berhubungan dengan dunia luar, kecuali memberi kebebasan yang sangat terbatas kepada pedagang china dan Belanda di lingkungan pelabuhan Nagasaki saja. Masa Tokugawa ini mulai berkembang ajaran Neo-Confucianisme yang menekankan pentingnya moral, pendidikan dan hirarki dalam kelas sosial.

Samurai memiliki hirarki paling tinggi di masyarakat, diikuti oleh kelas petani, kemudian kelas pengrajin (antara lain pembuat senjata pedang dan kerajinan) dan yang terakhir adalah kelas pedagang. Mereka yang sudah menduduki keempat kelas sosial tersebut tidak diperkenankan mengubah status sosialnya, sedangkan penduduk yang macam profesinya tidak termasuk dalam kelas sosial tersebut dianggap sebagai penduduk kelas lima.

Atas tekanan kaum intelektual Jepang, tahun 1702 pemerintah mengijinkan masuknya kesusasteraan asing dari China, Amerika Serikat dan Eropa (Belanda), dan untuk mengimbanginya semua sekolah di Jepang dalam kurikulumya memberi tekanan pada elemen nasionalisme yang dilandasi oleh ajaran Shintoisme dan  Confucianisme.

Religi Jepang memiliki dua konsep dasar mengenai ketuhana. Yaitu Tuhan sebagai suatu entitas lebih tinggi yang memelihara, memberikan perlindungan dan cinta. Contoh-contoh untuk mencakup dewa-dewa langit dan bumi dari penganut Konfusius, Amida dan Budha-Budha yang lain, dewa-dewa shinto, selain para dewa pelindung lokal dan para nenek moyang. Kategori ini secara perlahan-lahan dan tanpa terasa bergeser menjadi tokoh-tokoh negara dan orang tua yang dalam beberapa hal diperlakukan secara sakral.

Konsep yang kedua yaitu dia merupakan dasar dari segala yang ada atau inti terdalam dari realitas. Contoh-contoh untuk ini adalah Tao China, Li dari Neo-Konfusius yang sering diterjemahkan sebagai nalar, dan Hsin hati atau pikiran kalau dikaitkan dengan Li, konsep Budha tentang hakikat Budha, dan istilah kami dalam shinto dalam pengertiannya yang paling filosofis.

Pandangan tentang kemanunggalan manusia, alam dan ketuhanan sebagaimana dikemukakan hendaknya tidak dipandang sebagai suatu identitas statis, melainkan adalah suatu harmoni dalam ketegangan. Rasa syukur seseorang terhadap entitas yang maha tinggi dan maha baik bukanlah suatu kewajiban yang ringan, tetapi menyangkut pengorbanan langsung dari kepentingan terdalam seseorang atau bahkan hidupnya.

Ketiga tradisi religi di atas dikaitkan dengan sejarah masa lalu ketika semua hal dianggap lebih baik dari saat sekarang ini. Bagi pengikut Konfusius masa itu adalah abad paling bijak, bagi kaum Budha, masa kini atau Mappo adalah masa yang bobrok di mana orang jarang bisa memahami ajaran Budha. Para Shintois pembaharu mengingatkan kepada masa ketika para kaisar memerintah jepang dalam kesederhanaan yang murni. Kepercayaan shinto tidak bersifat Siklis, melainkan satu arah. Hanya dia di antara religi-religi besar tersebut percaya kepada konsep penciptaan walaupun dalam bentuk mitologi yang agak primitive, oleh orang jepang penganut Shinto, sejarah dipandang sebagai saat berlakunya kehendak para dewa, dan tujuan akhir religi akan tercapai bersama perjalanan waktu dan sejarah nasib rakyat jepang.

 

 

–        Organisasi Religius pada Masa Tokugawa

Pada masa Tokugawa agama kristen dilarang dan orang Jepang diharuskan untuk beragama Budha yang resmi diakui. Padahal agama Budha pada masa itu telah mengalami masa surut sejak tahun 1600. Di dalam tradisi religius yang besar ini terdapat banyak sub-sekte yang berpangkal dari perbedaan-perbedaan doktrinal kecil, pertikaian antar kuil, persaingan para pendiri, dan sebagainya. Setiap sekte memiliki kuil utama untuk mengontrol pengaturan administratif setiap sekte. Aspek-aspek struktur sosial Shinto cenderung lebih rumit dibanding yang ada pada Budhisme. Shinto adalah suatu nama yang digunakan untuk merangkum satu keberagaman fenomen. Pertama, siklus tahunan kaum tani pedesaan disebut shinto, walaupun banyak elemen Budha dan China yang masuk dalam agama rakyat ini. Kedua, pemujaan yang luas terhadap dewa-dewa tertentu seperti Jizo atau Inari. Ketiga, mungkin terdapat kultus-kultus yang mempunyai kuil pusat yang dipersembahkan kepada dewa-dewa utama dalam mitologi Shinto.

Shinto nasional berpusat di sekitar istana dan pribadi kaisar. Ajaran-ajarannya disusun berdasarkan karya-karya “sejarah” yang menggabungkan mitologi nasional dan sejarah awal istana penguasa. Sebagian dari pusat-pusat kultus besar tergabung dalam struktur Shinto nasional, dengan beberapa figur sucinya yang berbeda.

Pada intinya masa Tokugawa merupakan era di mana munculnya ajaran rakyat yaitu Shintoisme. Ajaran ini banyak memasukkan ajaran Budha dan ajaran Konfusius dalam prakteknya. Hal tersebut karena kuatnya pengaruh ajaran tersebut ketika era Tokugawa. Namun pada tahun 1600an Budha tidak terlalu diminati namun lama-kelamaan rakyat mulai memandang agama ini. Dua konsep religi jepang yaitu mengenai Tuhan sebagai Entitas yang lebih tinggi dan yang kedua yaitu sebagai dasar dari segala inti sesuatu yang terdalam. Jepang berkembang pesat karena agama mendorong perkembangan:

  • Etika :     – tekun dan sungguh dalam kerja,

–  hemat dalam konsumsi

–  boleh cari keuntungan asal halal.

 

4. Pro Kontra Teori Max Weber

Dalam beberapa sudut pandang ada banyak kontradiksi antara Karl Marx dan Max Weber. Sebuah asumsi yang kontradiktif dengan Marx, salah satunya menurut weber infrastrukturlah yang menentukan suprastruktur. Hal ini dikarenakan Marx merupakan seorang materialis tulen, yang menganggap basis kehidupan adalah besifat materil.

Weber mengakui pentingnya kondisi materil dan posisi kelas ekonomi  dalam mempengaruhi  kepercayaan, nilai dan perilaku manusia. Weber memperluas perspektif Marx  mengenai stratifikasi. Namun Weber benpendapat bahwa teori Marx terlalu memihak, yang hanya mengakui pengaruh ekonomi dan materi, serta menyangkal bahwa ide-ide, bahkan ide agama dapat mempengaruhi yang independen terhadap perilaku manusia. Weber menekankan bahwa orang cenderung mempunyai kepentingan ideal dan juga materil.

Kepentingan ideal dapat mempengaruhi motivasi manusia secara independen. Meskipun terkadang bertentangan dengan kepentingan materilnya. Namun dia tidak menerima posisi idealis  seperti Hegel, yang mengecilkan kekuatan-kekuatan materil  dan sebaliknya melihat sejarah manusia hanyalah merupakan manifestasi ideal-ideal  budaya. Weber sebaliknya merasa perlu mengakui pengaruh timbal-balik antara kepentingan ideal dan kepentingan materil dan menentukan secara empiris dalam kasus individu, apakah kepentingan ideal atau materil itu yang lebih dominan.

Teori Marx dan Weber sama pentingnya untuk perkembangan teori sosiologi. Keduanya memiliki unsur kebenaran. Dalam hal tertentu Weber menentang Marx dan di sisi lain Weber memperluas gagasan Marx.

Kekurangan dari teori Weber :

  1. Teori ini hanya menjelaskan secara parsial variabel tingkat afiliasi seseorang pada etika protestan, tanpa berusaha menggali variabel lain yang bekerja seperti misalnya budaya masyarakat, konflik sosial, aspek politis dan variabel yang lain yang masih mungkin berpengaruh.
  2. Teori ini tidak memberikan saran/ kejelasan teknis pencapaian, padahal spiritualitas, kepatuhan pada agama merupakan sesuatu yang bersifat personal dan sulit dikontrol oleh lembaga-lembaga sosial maupun Negara. Karena itu teori ini lebih kearah hanya pembuktian dari suatu fenomena tanpa arahan yang jelas untuk mengkondisikan pada suatu fenomena.

 

Kelebihan dari teori Weber :

1. Memberikan alternatif pemikiran dan pembuktian bahwa tidak selamanya spiritualitas dan kepatuhan pada agama bersifat oposan dengan kemajuan. Hal tersebut juga dapat memberikan jawaban pada para Marxism yang selama ini beranggapan bahwa spiritualitas agama hanya merupakan ampas dari Super struktur.

2. Agama seringkali memberikan efek-efek pada stabilitas sosial, kenyamanan sosial sehingga ketika teori ini memberikan kejelasan bahwa terdapat keselarasan antara agama dengan kemajuan, maka agama dapat menjalankan peran aktifnya dalam mengamankan kemajuan dari efek-efek negatif yang kemungkinan terjadi seperti misalnya ketidak-nyamanan sosial dan distabilitas sosial.

Sejak Weber memperkenalkan teori etika protestan pada tahun 1905, tesis yang memperlihatkan kemungkinan adanya hubungan antara ajaran agama dengan perilaku ekonomi, sampai sekarang masih merangsang berbagai perdebatan dan penelitian empiris. Tesisnya dipertentangkan dengan teori Karl Marx tentang kapitalisme, demikian pula dasar asumsinya dipersoalkan, kemudian ketepatan interpretasi sejarahnya juga digugat. Samuelson, ahli sejarah ekonomi Swedia, tanpa segan-segan menolak dengan keras keseluruhan tesis Weber. Dikatakannya dari penelitian sejarah tak bisa ditemukan dukungan untuk teori Weber tentang kesejajaran doktrin Protestanisme dengan kapitalisme dan konsep tentang korelasi antara agama dan tingkah laku ekonomis. Hampir semua bukti membantahnya.

Para pengeritiknya yang lain juga terus mencari kelemahan dari teori weber dan dengan memunculkan teori geografi/iklim ini pengeritiknya menyanggah teori etika protestan. Dalam teori iklim terdapat empat musim yaitu musim panas, musim gugur, musim dingin dan musim semi. Dikatakan bahwa masyarakat modern yang cenderung maju biasanya tinggal dan menetap di daerah yang beriklim sedang. Kemudian jika dilihat dari segi produksi secara alami hanya bisa dilakukan pada musim panas dan gugur, karena pada musim dingin masyarakat cenderung berdiam diri dan menikmati timbunan hasil produksi yang telah dilakukannya pada musim panas dan gugur. Konsumsi yang dibutuhkan oleh masyarakat berlangsung sepanjang taun namun hanya dua musim yang dapat digunakan dalam kegiatan produksi, situasi seperti inilah yang mendorong mereka untuk bekerja keras dan hidup hemat.  Agar berkembangnya kehidupan modern mereka juga harus hidup rasional, disiplin dan future oriented. Hal ini didukung oleh non Calvinis yang ada di daerah beriklim sedang yang menganut etika protestan dan Calvinis di daerah tropis yang tidak menganut etika protestan.

 

 

 

Georg Simmel

Teori Interaksi Sosial

 

Simmel lahir di Berlin, 1 Maret 1858. Ia mempelajari berbagai cabang ilmu di Universitas Berlin. Tetapi upaya pertamanya untuk menyusun disertasi ditolak dan salah seorang profesornya pernah mengatakan “Kami akan banyak membantunya bila tak mendorongnya ke arah ini”. Meski proposal pertamanya ditolak, ia mempertahankan disertasi dan menerima gelar doktor filsafat tahun 1881. Hingga 1914 ia tetap di Universitas Berlin berstatus tenaga pengajar meskipun hanya menduduki jabatan yang relatif penting sebagai “dosen privat” dari 1885-1900. Dia kemudian menjadi dosen yang tak digaji, yang kehidupannya tergantung pada honor dari mahasiswa. Meski honornya kecil, dalam jabatan ini kehidupan ekonominya agak baik karena ia seorang dosen yang cerdas dan menarik banyak mahasiswa yang membayarnya. Gaya mengajarnya demikian populer, hingga bahkan anggota terpelajar masyarakat Berlin pun menghadiri kuliahnya.

Keterpinggiran Simmel paralel dengan fakta bahwa Simmel agak kontradiktif dan merupakan pribadi yang membingungkan.

Simmel menulis banyak artikel (“The Metropolis and Mental Life”) dan buku The Philosophy of Money. Ia terkenal di kalangan akademisi Jerman, mempunyai pengikat internasional, terutama di Amerika. Di situ karyanya berpengaruh besar dalam kelahiran sosiologi. Tahun 1900 ia menerima penghargaan resmi gelar kehormatan murni dari Universitas Berlin yang tak memberinya status akademisi penuh. Simmel mencoba mendapatkan berbagai status akademisi, namun ia gagal meski mendapat dukungan sarjana seperti Max Weber. Salah satu alasan yang menyebabkan Simmel gagal adalah karena ia keturunan Yahudi, sementara di abad 19 Jerman sedang dilanda paham anti-Yahudi. Begitulah, dalam sebuah laporan tentang Simmel yang ditulis untuk menteri pendidikan, Simmel dilukiskan sebagai seorang “Israel tulen dalam penampilan luarnya, dalam sikapnya dan dalam cara berpikirnya”. Alasan lain adalah jenis karya yang dihasilkan. Banyak artikelnya dimuat di koran dan majalah; yang ditulis untuk konsumen lebih umum ketimbang untuk sosiolog semata. Lagi pula karena ia tak memegang jabatan akademis reguler ia terpaksa mencari nafkah melalui ceramah umum. Peminat tulisannya maupun ceramahnya lebih banyak intelektual publik ketimbang sosiolog profesional dan ini menimbulkan penilaian yang melecehkan dari rekan seprofesinya misalnya salah seorang rekan sesamanya mengutuknya karena  pengaruhnya terhadap suasana umum dan terutama terhadap jurnalisme kegagalan personal Simmel pun dapat dikaitkan dengan rendahnya penghargaan akademisi Jerman terhadap sosiologi ketika itu. Tahun 1914 Simmel akhirnya diangkat sebagai dosen tetap di Universitas kecil (Strasbourg), tetapi sekali lagi ia merasa sebagai orang asing. Di satu sisi ia menyesal meninggalkan peminat ceramahnya di Berlin. Istrinya menyurati Max Weber : Georg meninggalkan peminatnya dalam sedih…. Mahasiswa di Berlin itu sangat simpati dan setia…. Inilah keberangkatan ke puncak kehidupan. Di sisi lain Simmel tak merasa menjadi bagian kehidupan dari Universitas barunya itu. Ia menyurati istri Weber “Hampir tak ada yang dapat kami laporkan, kami hidup … menyendiri, tertutup, acuh tak acuh, terpencil dari kehidupan luar. Kegiatan akademis = 0, orangnya… asing dan bermusuhan secara diam-diam.”

 

Minat – Minat Utama

Simmel adalah seorang filsuf, dan banyak publikasinya berkeaan dengan isu-isu filosofis (contohnya  etika) dan dengan para filsuf lainnya (contohnya Kant).

Georg Simmel paling dikenal sebagai mikrososiolog yang memainkan suatu peran signifikan di dalam perkembangan riset kelompok kecil-kecil, interaksionisme simbolik, dan teori pertukaran. Semua sumbangan Simmel di wilayah tersebut mencerminkan kepercayaannya bahwa para sosiolog harus mempelajari terutaa bentuk-bentuk dan tipe-tipe interaksi sosial. Robert Nisbet menyajikan pandangannya atas sumbangan Simmel bagi sosiologi :

Karakter mikrososiologis karya Simmel itulah yang mungkin selalu memberi dia suatu tepi waktu yang tiada habisnya melebihi para pelopor lainnya. Dia tidak meremehkan unsur-unsur asosiasi manusia yang kecil dan akrab, dia juga tidak pernah mengabaikan pentingnya manusia, individu-individu konkret, di dalam analisisnya atas lembaga-lembaga.

 

 

Level-level dan Wilayah-wilayah Perhatian

Tom Bottomore dan David Frisby  menyatakan bahwa ada 4 level dasar perhatian di dalam karya Simel.

  1. Asumsi-asumsi mikroskopiknya tentang komponen-komponen psikologis kehidupan sosial.
  2. Komponen-komponen sosiologis hubungan antar pribadi.
  3. Karyanya mengenai struktur dari, dan perubahan di dalam, “semangat” sosial dan budaya zamannya.

 

Simmel tidak hanya bekerja dengan gambaran megenai realitas sosial berstrata-tiga tersebut, dia menganut prinsip emergensi, ide bahwa level-level yang lebih tinggi muncul dari level-level yang lebih rendah. Melingkupi ketiga strata tersebut adalah strata keempat yang meliputi prinsip-prinsip metafisis fundamental kehidupan.

Karyanya yang paling mikroskopik berkenaan dengan bentuk-bentuk yang diambil interaksi dan juga dengan tipe-tipe orang yang terlibat di dalam interaksi. Bentuk-bentuk itu mencakup subordinasi, superordinasi, pertukaran, konflik, dan keramahan. Di dalam karyanya mengenai tipe-tipe, dia membedakan membedakan antara posisi-posisi di dalam struktur interaksional, seperti pesaing, wanita genit dan orientasi-orientasi kepada dunia, seperti orang kikir, pemboros, orang asing dan petualang. Di level menengah adalah sosiologi “umum” Simmel, yang membahas produk-produk sosial dan budaya sejarah manusia. Di sini Simmel mewujudkan perhatiannya yang berskala besar di dalam kelompok, struktur dan sejarah masyarakatdan kebudayaan-kebudayaan. Akhirnya, di dalam sosiologi “filosofis” Simmel, dia membahas pandangan-pandangannya mengenai hakikat dasar dan takdir yang tidak terhindarkan  umat manusia.

 

Pemikiran Dialektis

Pendekatan dialektis adalah multikausal dan multidireksional yang menggabungkan fakta dan nilai, menolak ide bahwa ada garis-garis pemisah yang tidak dapat diubah antara fenomena sosial, berfokus pada relasi-relasi sosial, tidak hanya melihat masa sekarang, tetapi juga masa lampau dan masa depan, dan memerhatikan secara mendalam baik konflik-konflik maupun kontradiksi-kontradiksi.

Simmel mewujudkan komitmennya pada dialektika di dalam berbagai cara. Untuk satu hal, sosiologi Simmel selalu memerhatikan hubungan-hubungan, khususnya interaksi. Secara lebih umum, Simmel adalah seorang “relasionis metodologis” yang bekerja dengan prinsip bahwa segi sesuatu berinteraksi dalam suatu cara dengan segala sesuatu yang lain. Secara keseluruhan dia selalu membiasakan diri dengan dualisme, konflik-konflik, dan kontradiksi-kontradiksi di dalam setiap ranah dunia sosial yang kebetulan dia garap. Donal Levine menyatakan bahwa perspektif itu mencerminkan kepercayaan Simmel bahwa dunia dapat dipahami lebih baik dalam kerangka konflik dan kontras diantara kategori-kategori yang berlwanan. Dialektika di dalam pemikiran Simmel mengenai kebudayaan subjektif-objektif dan konsep-konsep lebih-hidup dan melampaui-kehidupan.

 

Fesyen

Simmel berargumen bahwa dualisme tidak hanya terdapat di dalam usaha orang-orang yang mengikuti fesyen, tetapi juga di dalam usaha orang-orang yang tidak mengikuti fesyen. Orang yang tidak mengikuti fesyen memandang orang-orang yang mengikuti fesyen sebagai peniru dan mereka sendiri sebagai orang yang tidak memihak, tetapi Simmel menyatakan bahwa orang yang belakangan hanya terlibat dalam suatu peniruan terbalik.

 

Kebudayaan Individual (Subjektif) da Kebudayaan Objektif

Kebudayaan objektif mengacu kepada hal-hal yang dihasilkan manusia (seni, ilmu, filsafat, dan seterusnya). Sedangkan kebudayaan individual (subjektif) merupakan kemempuan sang aktor untuk menghasilan, menyerap, dan mengendalikan unsur-unsur kebudayaan objektif. Dalam pengertian yang ideal, kebudayaan individual membentuk, dan dibentuk oleh, kebudayaan objektif.

 

Lebih – Hidup dan Melampaui – Kehidupan

Isu mengenai lebih-hidup dan melampaui-kehidupan sangat enting di dalam esai Simmel “Sifat Transenden Kehidupan”. Seperti yang dikesankan judulnya dan dibuat jelas oleh Simmel, “Transendensi imanen di dalam kehidupan”. Manusia memiliki suatu kecakapan transenden secara rangkap. Pertama, karena kecakapan kreatif mereka yang gelih (lebih-hidup), manusia mampu melampaui dirinya sendiri. Kedua, kemampuan kreatif yang gelisah tersebut memungkinkan manusia untuk terus-menerus menghasilkan sekumpulan objek yang melampaui mereka.

 

Komponen-komponen Utama Realitas Sosial

Kesadaran Individual

Simmel berfokus pada pada bentuk-bentuk asosiasi dan memberi perhatian yang agak sedikit kepada isu mengenai kesadaran individual, yang jarang dibahas secara langsung di dalam karyanya. Namun, Simmel dengan jelas bekerja dengan suatu pengertian bahwa manusia memiliki kesadaran kreatif. Seperti dinyatakan Frisby, dasar kehidupan sosial bagi Simmel adalah “para individu atau kelompok individu yang sadar, yang saling berinteraksi karena bermacam motif, maksud, dan kepentingan”.

Minat pada kreativitas tersebut terwujud dalam diskusi Simmel mengenai bentuk-bentuk interaksi yang bermacam-macam, kemampuan para aktor menciptakan struktur sosial, dan juga efek-efek yang membahayakan yang dimiliki struktur-struktur itu pada kreatifitas individu.

 

Interaksi sosial (“Asosiasi”)

George Simmel dikenal baik dalam sosiologi kontemporer karena sumbangan-sumbangannya bagi pemahaman kita atas pola-pola, dalam bentuk-bentuk, interaksi sosial. Simmel menjelaskan bahwa salah satu perhatian utamanya ialah interaksi dikalangan aktor-aktor yang sadar dan maksud Simmel ialah melihat sederetan luas interaksi yang mungkin tampak sepele pada suatu ketika tetapi sangat penting pada saat lainnya. Oleh karena itu, Simmel kadang-kadang mengambil pendirian yang berlebih-lebihan mengenai pentingnya interaksi didalam sosiologinya, banyak orang yang tidak memperhatikan wawasan-wawasannya kedalam aspek-aspek realita sosial bersekala besar. Didalam sosiologinya yang umum maupun sosiologi filosofisnya, Simmel menganut suatu konsepsi masyarakat dan juga kebudayaan yang berskala jauh lebih besar.

 

Interaksi  : Bentuk-Bentuk dan Tipe-Tipe

Salah satu perhatian Simmel yang dominan adalah bentuk ketimpangan isi interaksi sosial. Perhatian itu berasal dari identifikasi Simmel dengan tradisi Kantian di dalam filsafat, uang banyak memuat perbedaan antara bentuk dan isi. Dari sudut pandang Simmel dunia nyata terdiri dari peristiwa-peristiwa, tindakan-tindakan, interaksi-interaksi, dan seterusnya yang tidak terhitung banyaknya.  Di dalam pandangan Simmel tugas para sosiolog adalah melakukan secara persis apa yang dilakukan orang awam, yakni memaksakan sejumlah terbatas bentuk-bentuk pada realitas sosial, pada interaksi secara khusus, sehingga ia dapat dianalisis dengan lebih baik. Metodelogi itu pada umumnya mencakup perumusan sifat-sifat yang sama yang ditemukan dalam sederetan luas interaksi-interaksi spesifik. Contohnya bentuk-bentuk perordinasi dan subordinasi interaksi yang ditemukan didalam sederetan luas latar, “di dalam negara dan juga di dalam komunitas religius, di dalam geromnolan persekongkolan seperti di dalam asosiasi ekonomi, didalam aliran seni seperti di keluarga.

Perhatian Simmel pada bentuk-bentuk interaksi sosial telah menjadi sasaran berbagai kritik. Akan tetapi, ada sejumlah cara untuk mendefinisikan pendekatan Simmel kepada sosiologi formal yaitu:

  1. Pendekatan itu dekat dengan kenyataan, seperti yang dicerminkan oleh contoh-contoh kehidupan nyata yang tidak terhitung banyaknya yang digunakan oleh Simmel.
  2. Pendekatan itu tidak memaksakan kategori-kategori yang serampangan dan kaku pada realitas sosial. Akan tetapi, sebagai gantinya berusaha mengizinkan bentu-bentuk itu mengalir dari realitas sosial.
  3. Pendekatan Simmel tidak menggunakan suatu skema teoritis umum yang memaksakan semua aspek dunia sosial masuk kedalamnya.

 

Akhirnya sosiologi formal menghalang-halang empirisme yang dikonseptualisasi dengan cara yang buruk, yang sudah menjadi sifat kebanyakan sosiologi. Simmel tentu saja menggunakan data empiris, tetapi hal itu disubordinasikan pada usahanya untuk memakasakan keteraturan tertentu pada dunia realitas sosial yang membingungkan.

 

Geometri Sosial

                Di dalam sosiologi formal Simmel, orang melihat secara jelas usahanya untuk mengembangkan sesuatu”geometri” relasi-relasi sosial. Dua dari koefisien geometrik yang menarik perhatiannya adalah jumlah dan jarak (yang lainnya adalah posisi, valensi, keterlibatan diri, dan simetri).

 

 

 

  1. Jumlah

Perhatian Simmel pada dampak jumlah orang pada kualitas interaksi dapat dilihat dalam diskusinya mengenai perbedaan antara suatu diade (kelompok terdiri dari dua orang) dan triade (kelompok yang terdiri dari tiga orang).

Diade dan Triade             

Simmel berpendapat bahwa unit terkecil dalam kehidupan manusia yang menjadi perhatian sosiologi adalah Dyad. Dyad merupakan unit terkecil yang terdiri dari 2 orang. Contohnya adalah suami istri, dua orang sahabat karib, dan seterusnya. Dalam dyad kemungkinan besar salah satu pihak akan tenggelam dalam kehidupan dan kedudukan pada pihak lain. Dalam dyad terjadinya hubungn yang sangat erat dan menyatu, maka ada pula kemungkinan terjadinya konflik itu karena keterlibatan pribadi yang sangat mendalam dalam hubungan antara dua belah pihak.

Ketiadaan pihak ketiga menimbulkan situasi ketiadaan pemisah apabila terjadi gangguian pada keserasian  hubungan dalam dyad tersebut. Ketiadaan pihak ketiga memang menimbulkan keakraban dalam dyad. Akan tetapi bila terjadi konflik, timbul kebutuhan akan adanya pihak ketiga. Taraf keakraban dalam dyad agak menurun karena adanya pihak ketiga, tidak mungkin terjadi kesatuan perasaan sebagai mana terjadi antara dua pihak saja. Akan tetapi, kemungkinan terjadinya konflik akan dapat dibatasi dengan hadirnya pihak ketiga.

Selain itu simmel juga berpendapat bahwa triad cenderung tidak stabil, oleh karena secara heterogen terkait dengan pembentukan koalisi dua pihak yang berhadapan dengan satu fihak lain. Paling tidak, fihak ketiga secara konteporer dikesampingkan. Fihak yang ditempatkan dalam kedudukan ketiga atau situasi yang tersingkir senantiasa berubah. Dalam situasi tertentu dalam keluarga, sebagaimana disebutkan sebagai contoh di atas, ada kemungkinan ayah yang menjadi fihak ketiga, pada situasi lain ibu menjadi fihak ketiga, dan seterusnya.

Proses yang dimulai di dalam peralihan dari suatu diade ke suatu triade berlanjut ketika kelompok-kelompok semakin besar dan pada akhirnya muncullah di masyarakat. Didalam struktur-struktur sosial yang sebesar itu sang individu semakin terpisah dari suatu masyarakat, semakin sendirian, terasing, dan terpecah-pecah. Hal ini pada akhirnya menghasilkan suatu hubungan dialektis diantara para individu dan struktur-struktur sosial lainnya.

  1. Ukuran kelompok

Pada level yang lebih umum, ada sikap Simmel yang ambivalen kepada dampak ukuran kelompok.  Suatu kelompok kecil atau masyarakat besar kemungkinan mengendalikan individu secara komplet. Akan tetapi, didalam masyarakat yang lebih besar , induvidu lebih dimungkinkan terlibat di dalam sejumlah kelompok, yang masing-masing kelompok hanya mengendalikan bagian kecil dai seluruh personalitasnya. Akan tetapi, Simmel mempunyai pandangan bahwa masyarakat-masyarakat yang lebih besar menciptakan sekumpulan masalah yang akhirnya mengancam individu.

  1. Jarak

Perhatian Simmel yang lain pada geometri sosial ialah jarak. Levine memberikan suatu rangkuman yang baik mengenai pandangan-pandangan Simmel dalam hal peran jarak di dalam hubungan-hubungan sosial: “Sifat bentuk-bentuk dan makna benda-benda adalah suatu fungsi jarak-jarak relatif diantara individu dan individu atau benda-benda lain”.

Di dalam The Philosophy of Money, Simmel menyebutkan beberapa prinsip umum tentang nilai dan tentang apa membuat benda-benda berniali yang berfungsi sebagai dasar bagi analisisnya atas uang. Objek-objek yang paling bernilai adalah yang dapat dicapai tetapi hanya dengan usaha yang besar.

Jarak juga memainkan suatu peran sentral di dalam “The Stranger”nya Simmel, esai mengenai suatu tipe aktor yang tidak terlalu dekat juga tidak terlalu jauh. Jika dia terlalu dekat, dia tidak akan menjadi orang asing lagi, tetapi jika dia terlalu jauh dia tidak akan mempunyai kontak lagi dengan kelompok. Interaksi yang melibatkan orang asing mempunyai dengan para anggota kelompok meliputi suatu kombinasi kedekatan dan jarak. Jarak khas orang asing dari kelompok memungkinkan dia mempunyai serangkaian pola interaksi yang tidak lazim dengan para anggotanya.

Meskipun dimensi-dimensi geometris memasuki sejumlah tipe dan bentuk-bentuk yang dibuat Simmel, masih ada lagi yanglain pada tipe-tipe dan bentuk-bentuk itu selain geometri belaka. Tipe-tipe dan bentuk-bentuk adalah konstruk-konstruk yang digunakan Simmel untuk memperoleh suatu pengertian lebih besar atas deretan pola-pola interaksi yang lebih luas.

 

 

 

Tipe-tipe Sosial

Kita sudah menjumpai salah satu dari tipe-tipe Simmel, orang asing, orang-orang termasuk orang kikir, pemboros, petualang, dan bangsawan. Untuk menggambarkan cara berpikirnya diwilayah itu, kita akan berfokus pada salah satu dari tipenya, orang miskin.

Orang miskin. Sebagaimana yang khas dalam tipe tipe yang ada dalam karya Simmel, orang miskin didefinisikan dari segi hubungan-hubungan sosial sebagai orang yang dibantu oleh orang lain setidaknya mempunyai hak atas bantuan itu. Disini sangat jelas Simmel tidak menganut pandangan bahwa kemiskinan didefinisikan oleh suatu kuantitas, atau tepatnya kekurangan kuantitas uang.

 

Bentuk-bentuk Sosial

Seperti halnya dengan tipe-tipe sosial, Simmel memerhatikan deretan luas bentuk-bentuk sosial termasuk, pertukaran, konflik, pelacuran, dan keramahan. Kita dapat menggambarkan karya Simmel mengenai bentuk-bentuk sosial melalui diskusinya mengenai dominasi, yakni superordinasi dan suborninasi.

Superordinasi dan Subordinasi mempunyai hubungan timal balik. Sang pemimpin tidak ingin menentukan secara lengkap pemikiran pemikiran dan tindakan-tindakan orang lain.

Bagi sebagian besar orang, superordinasi meliputi suatu usaha untuk melenyapkan secara lengkap independensi orang-orang bawahannya, tetapi Simmel berargumen bahwa suatu hubungan social akan berhenti berada jika hal itu benar-benar terjadi. Simmel menemukan bahwa subordinasi di bawah suatu prinsip objektif adalah yang paling menyakitkan, mungkin karena hubungan-hubungan manusia dan interaksi-interaksi social dilenyapkan. Simmel melihat subordinasi kepada seorang individu lebih membebaskan dan spontan.

Bentuk-bentuk sosial dan problematika Simmel yang lebih besar. Oakes berpendapat bahwa pada akhirnya konflik mengancam meniadakan hubungan di antara kehidupan dan bentuk, dan dengan demikian menghancurkan kondisi-kondisi yang memungkinkan diwujudkannya proses kehidupan di dalam struktur-struktur yang otonom.

 

Struktur-struktur Sosial

Simmel tidak banyak membicarakan secara langsung tentang struktur-struktur masyarakat berskala besar. Hal tersebut disebabkan fokusnya hanya pada interaksi, dan dia menyangkal adanya level realitas sosial. Simmel tidak merasa nyaman dengan konsepsi nominalis bahwa masyarakat tidak lain dari suatu himpunan individu-individu yang terisolasi. Terdapat kontradiksi mendasar di dalam karya Simmel mengenai level struktur-sosial. Simmel mencatat, masyarakat melampaui individu dan menjalani kehidupannya sendiri yang mengikuti hukum-hukumnya sendiri. Masyarakat juga menghadapi individu dengan keteguhan historis, imperative. Simmel jauh lebih condong untuk melihat masyarakat sebagai suatu struktur sosial independen yang bersifat memaksa. Simmel mengaitkan pertumbuhan struktur-struktur social dengan penyebaran kebudayaan objektif.

Kebudayaan Objektif

Dalam pandangan Simmel, manusia menghasilkan kebudayaan, tetapi karena kemampuan mereka untuk mereifikasi realitas sosial, dunia budaya dan dunia sosial akhirnya mempunyai kehidupannya sendiri, kehidupan yang semakin mendominasi para aktor yang menciptakannya, dan terus menciptakannya setiap hari.

Kebudayaan objektif bertumbuh dan membentang dalam berbagai cara yaitu:

  1. Ukuran absolutnya bertumbuh seiring dengan peningkatan modernisasi, seperti dalam kasus pengetahuan ilmiah.
  2. Jumlah komponen-komponen ranah budaya yang berbeda juga bertumbuh.

 

Simmel tidak hanya tertarik dalam melukiskan pertumbuhan kebudayaan objektif, tetapi juga sangat terganggu olehnya. Yang dicemaskan Simmel adalah ancaman terhadap kebudayaan individu yang diajukan oleh pertumbuhan kebudayaan objektif. Inilah yang dilukiskan Simmel sebagai “Tragedi Kebudayaan”.

Kita dapat menghubungkan argument umum Simmel tentang kebudayaan objektif dengan analisisnya yang lebih mendasar atas bentuk-bentuk interaksi. Di dalam salah satu esainya yang paling terkenal, “Metropolis dan Kehidupan Mental”, Simmel menganalisis bentuk-bentuk interaksi yang terjadi di dalam kota modern. Dia melihat metropolis modern sebagai “arena sejati” pertumbuhan kebudayaan objektif dan kemunduran kebudayaan individual. Hal itu adalah pemandangan dominasi ekonomi uang dan uang sehingga mempunyai efek yang mendalam pada hubungan-hubungan manusia. Penggunaan uang menyebabkan hubungan-hunbungan sosial cenderung di dominasi oleh sikap diam dan bosan. Kota sebagai pusat pembagian kerja sehingga dianggap “penyamarata yang menakutkan”, tempat hamper setiap orang disusutkan untuk menekan kalkulabilitas yang tidak berperasaan.

Simmel menekankan fakta bahwa orang lebih bebas di dalam kota modern dari pada di dalam batas-batas sosial yang ketat di kota kecil. Salah satu dari banyak ironi pengaruh Simmel pada perkembangan sosiologi adalah bahwa karya mikro-analitiknya digunakan, tetapi implikasi-implikasinya yang lebih luas diabaikan nyaris secara total. Contohnya, karya Simmel mengenai hubungan-hubungan pertukaran. Dia melihat pertukaran sebagai jenis interaksi paling murni dan paling maju. Pemikiran Simmel mengenai pertukaran sosial mencakup keuntungan dan kerugian. Dan penjelasan paling mendalam mengenai hal tersebut adalah dalam pembahasan uang seperti dalam esainya “The Philosophy of Money”. Menurutnya, uang adalah bentuk pertukaran paling murni.

 

The Philosophy of Money

Meskipun judul karya menjelaskan fokus Simmel adalah uang, minatnya pada fenomenon itu tertancap di dalam sekumpulan perhatian teoritis dan filosofisnya yang lebih luas. Simmel tertarik pada dampak uang terhadap sederetan fenomena yang luas seperti “dunia batin” para aktor dan kebudayaan objektif secara keseluruhan. Simmel melihat uang sebagai suatu komponen kehidupan spesifik yang mampu membantu kita memahami totalitas kehidupan.

Pemikiran Simmel disini jauh lebih dekat dengan pemikiran Weber. Simmel berpendapat bahwa sosialisme bukan memperbaiki situasi, malah akan mempertinggi jenis-jenis masalah. Dalam esai ini dimulai dengan diskusi mengenai bentuk-bentuk umum uang dan nilai. Kemudian bergeser ke dampak uang pada “dunia batin” para actor dan pada kebudayaan secara umum.

 

Uang dan Nilai

Secara umum, Simmel berargumen bahwa mamanusia menciptakan nilai dengan membuat objek-objek, memisahkan diri dari objek-objek itu dan kemudian berusaha mengatasi “jarak, rintangan-rintangan, dan kesulitan-kesulitan. Semakin besar kesulitan memeroleh suatu objek, semakin besar nilainya. Akan tetapi, kesulitan pencapaian mempunyai suatu batas yang lebih rendah dan lebih tinggi.

Di ranah ekonomi, uang berlaku baik untuk menciptakan jarak dari objek-objek maupun untuk memberikan alat-alat mengatasinya. Nilai uang yang melekat pada objek-objek di dalam suatu ekonomi modern, menempatkan onjek-objek itu berjarak pada kita, kita tidak dapat memperoleh mereka tanpa uang yang kita miliki. Kesulitan dalam memperoleh uang, yang berarti kesulitan dalam memperoleh objek-objek itu, sehingga membuat objek itu bernilai bagi kita.

 

Uang, Reifikasi, dan Rasionalisasi

Di dalam proses penciptaan nilai, uang juga memberikan dasar untuk pengembangan pasar, ekonomi modern dan pada akhirnya masyarakat modern. Simmel melihat proses reifikasi hanya sebagai bagian dari proses yang lebih umum melalui mana pikiran mewujudkan dan menyimbolakan dirinya di dalam objek-objek. Ekonomi uang menumbuh kembangkan suatu penekanan pada factor-faktor kuantitaif daripada kualitatif.

 

Kerahasiaan dan hubungan-hubungan sosial

Simmel memeriksa berbagai bentuk hubungan sosial dari sudut pandang pengetahuan dan kerahasiaan timbal balik.

Di dalam hubungan impersonal yang khas dalam masyarakat modern yang objektivitas yaitu:

  1. Kepercayaan

Kepercayaan sebagai suatu bentuk interaksi, menjadi semakin penting di di masyarakat modern. Bagi simmel “kepercayaan adalan penengah dari pengetahuan dan ketidaktahuan tentang seorang manusia.

  1. Pengenalan sekilas

Kita mengetahui kenalan-kenalan kita, tetapi kita tidak memiliki pengetahuan yang akrab atas mereka. “orang mengetahui orang lain hanya bagian luarnya, baik dalam penggambaran sosial murni, atau di dalam arti yang di tunjukan kepada kitaa”

  1. Keberjarakan

Kita berjarak dari kenelan-kenalan kita,tetap tidak mengetahui semua hal yang di ungkapkan orang lain dengan sengaja kepada kita. Keberjarakan tidak mengacu kepada hal khusus yang tidak di ijinkan kita ketahui, tetapi kepada satu sikap hati-hati yang sangat umum berkenaan dengan kepribadian total.

  1. Persahabatan

Simmel melawan asumsi bahwa pewrsahabatan didasarkan pada keakraban total, pengetahuan timbal balik yang penuh.

  1. Perkawinan

Simmel berargumen bahwa ada suatu godaan di dalam perkawinan untuk menyingkapkan seluruhnya kepada pasangan, untuk tidak memiliki rahasia. Akan tetapi, di dalam pandangannya, berbuat hal itu akan merupakan kesalahan.

Pemikiran- pemikiran lain mengenai kerahasiaan

Simmel melihat rahasia sebagai salah satu prestasi terbesar manusia. Rahasia menghasilkan suatu pembesaran kehidupan yang luar biasa. Rahasia menghasilkan suatu pembesaran kehidupan yang luar biasa. Interaksi manusia pada umumnya di bentuk oleh kerahasiaan dan lawan logisnya penghianatan. Penghianatan dapat berasal dari dua sumber.

  1. Secara eksternal, orang lain dapat menemukan rahasia kita.
  2. Secara internal, selalu ada kemungkinan bahwa kita akan menyingkapkan rahasia kita kepada orang lain.

Simmel memenghubungkan ide-idenya mengenai kebohongan dengan  pandangannya mengenai masyarakat yang lebih besar dalam dunia modern. Bagi Simmel, dunia moderm jauh lebih tergantung  pada kejujuran dari pada masyarakat-masyarakat terdahulu. Oleh karena itu, di bawah kondisi-kondisi modern, kebohongan menjadi suatu yang lebih jauh menghancurkan dari pada zaman dahulu, sesuatu yang mempertanyakan persis fondasi-fondasi kehidupan kita.

Simmel menghubungkan rahasia dengan ekonomi modern.

  1. Kemampuan untuk dipadatkan

Yang dimiliki uang memungkinkannya membuat orang lain kaya hanya dengan menyelipkan cek kepada mereka tanpa di ketahui orang lain.

  1. Sifat abstrak dan kualitas uang

Hal ini memungkinkan uang menyambunyikan transaksi-transasi, perolehan-perolehandan perubahan-perubahan di dalam pemilikan yang tidak dapat di sembunyikan seandainya yang di pertukarkan adalah objek-obkek yang nyata.

  1. Uang dapat di investasikan

Uang dapat di tanamkan di dalam benda-benda yang sangat jauh oleh karena itu membuat transaksi tidak terlihat bagi orang-orang yang ada di lingkungan dekat.

Simmel juga melihat bahwa dunia modern, masalah-masalah publik, seperti masalah yang berkaitan dengan politik, cenderung telah kehilangan kerahasiaannya dan ketertutupannya. Sebaliknya urusan pribadi jauh lebih rahasia dari pada di dalam masyarakat-masyarakat modern.

Kritik

  1. Penekanannya pada bentuk-bentuk memaksakan keteraturan di tempat yang tidak ada aturan.
  2. Selain itu perbedaan marx dan simmel mengenai alianisme, yang menyatakan kritik marxis primer atas simmel. Kritik itu ialah bahwa Simmel tidak menganjurkan suatu cara untuk keluar dari tragedi kebudayaan, karena dia menganggap alianisme hal yang alami bagi kondisi manusia. Oleh karena itu, marxis percaya bahwa alianisme akan tersapu bersih dengan datangnya sosialisme, sedangkan simmel tidak mempunyai harapan politis demikian.
  3. Kritik yang paling sering dikutip untuk simmel ialah sifat karyanya yang terpecah-pecah. Simmel di tuduh tidak memiliki pandangan teoritis yang koheren, tetapi malah sekumpulan pendekatan yang terpecah-pecah atau “inpresionistik”.

Meskipun dalam kenyataanya para simmelians hanya segelintir, simme; sering di anggap sebagai inovator ide-ide dan pemimpin teoritis.

Di dalam karya-karya simmel ada unsur humanisme yang lebih besar yang tidak dapat direduksi dan akan selalu mungkin untuk memperolah suatu yang penting dari dia secara langsung yang tidak dapat di serap melalui proposisi-proposisi ilmu yang tidak berpribadi.

Mudah untuk melipatgandakan contoh-contoh yang melukiskan dominasi kategori kuantitas yang semakin besar terhadap kategori kualitas, atau secara lebih persis kecenderungan untuk melebur kualitas ke dalam kuantitas, yang semakin banyak menghilangkan unsur-unsur dari kualitas, memberi unsur-unsur itu hanya bentuk-bentuk gerakan spesifik dan menafsirkan segala sesuatu yang ditentukan secara spesifik, secara individual, dan secara kualitatif sebagai hal yang lebih atau kurang, yang lebih besar atau lebih kecil, yang lebih luas atau lebih sempit, unsur-unsur yang kurang lebih tidak berwarna dan kesadaran yang hanya dapat dimasuki penentuan numeris-meskipun kecenderungan itu tidak pernah mencapai tujuannya secara mutlak melalui alat-alat manusiawi.

Oleh karena itu, salah satu dari kecenderungan utama kehidupan – reduksi kualitas menjadi kuantitas – mencapai penggambarannya yang tertinggi dan sangat sempurna di dalam uang. Di sini uang adalah puncak rangkaian perkembangan historis budaya yang menentukan arahnya secara tegas.

Secara kurang jelas, uang menyumbang bagi rasionalisasi dengan meningkatkan pentingnya intelektualitas di dalam dunia modern. Di satu sisi, perkembangan ekonomi uang mengandaikan suatu perluasaan signifikan proses-proses mental. Contohnya, simmel menunjukan proses mental yang rumit yang diperlukan oleh transaksi-transaksi uang yang menjamin uang kertas dengan cadangan uang tunai. Di sisi lain, ekonomi uang menyumbang bagi perubahan luar biasa di dalam norma-norma dan nilai-nilai masyarakat: ekonomi uang membantu dalam “reorientasi fundamental kebudayaan kearah intelektualitas”. Sebagian karena ekonomi uang, intelek telah dianggap sebagai hal yang paling bernilai dari energi-energi mental kita.

Simmel melihat signifikansi kemunduran individual ketika transaksi-transaksi uang menjadi bagian masyarakat yang semakin penting dan ketika struktur-struktur yang direifikasi meluas. Hal itu adalah bagian dari argumen umumnya mengenai kemunduran kebudayaan subjektif individual dalam menghadapi perluasan kebudayaan objektif (“tragedy kebudayaan”): sirkulasi uang yang cepat menimbulkan kebiasaan menghabiskan dan memperoleh; hal ini membuat kuantitas spesifik uang secara psikologis kurang penting dan bernilai, sementara uang secara umum menjadi semakin penting karena masalah-masalah uang kini mempengaruhi individu secara lebih vital daripada yang mereka lakukan di dalam gaya hidup yang kurang terhasut. Di sini kita dihadapkan dengan fenomena yang sangat umum; yakni, bahwa nilai total sesuatu bertambah seiring dengan berkurangnya nilai bagian-bagian individualnya. Contohnya, ukuran dan signifikansi suatu kelompok sosial sering menjadi lebih besar jika kehidupan dan kepentingan-kepentingan para anggota individualnya semakin kurang bernilai; kebudayaan objektif, keberagaman dan keaktifan isinya mencapai titik tertinggi melalui pembagian kerja yang sering menghukum perwakilan individual dan peserta di dalam kebudayaan itu mengalami spesialisasi yang monoton, kesempitan, dan pertumbuhan yang kerdil. Keseluruhan menjadi lebih sempurna dan harmonis, bila individu semakin kurang harmonis.

Menyatakan isu tersebut dengan istilah yang agak berbeda. Arditi mengakui tema rasionalisasi yang semakin bertambah di dalam karya simmel, tetapi berargumen bahwa hal ituharus dilihat di dalam konteks pemikiran simmel mengenai hal yang tidak rasional. menurut simmel, tidak rasional adalah suatu unsur kehidupan utama yang hakiki, suatu aspek integral dari kemanusiaan kita. Maka kemundurannya yang berangsur-angsur di dalam perluasan dunia modern yang sangat terasionalisasi menyiratkan suatu pemiskinan sifat yang tidak dapat disangkal. Satu contoh dari tidak rasional adalah cinta (yang lainnya adalah emosi dan iman), dan cinta adalah tidak rasional karena, diantara hal-hal lain, tidak praktis, sering berlawanan dengan pengalaman intelektual, tidak harus mempunyai nilai nyata, bersifat dorongan hati, tidak ada campur tangan sosial atau buadaya di antarapecinta dan yang dicintai, dan ia berasal “dari kedalaman kehidupan yang sama sekali tidak rasional. Dengan rasionalisasi yang terus bertambah, kita mulai kehilangan yang tidak rasional dan bersamanya kita kehilangan…yang paling bermakna dari sifat-sifat kita manusia: keaslian/otentisitas kita. Hilangnya keaslian, hal yang tidak rasional tersebut, adalah suatu tragedi manusia yang nyata.

Belum pernah ada suatu objek yang menerima nilainya sepenuhnya dari kualitasnya sebagai suatu alat, dari kemampuannya ditukar dengan nilai-nilai yang lebih jelas, yang berkembang begitu saksama dan diterima begitu saja menjadi suatu nilai psikologis yang absolut, menjadi suatu maksud akhir yang benar-benar mengikat yang mengatur kesadaran praktis kita. Kerinduan fundamental akan uang apasti bertambah hingga mencapai tingkat bahwa uang menerima kualitas sebagai suatu alat murni. Karena hal itu menyiratkan bahwa akan semakin banyak deretan objek yang tersedia untuk uang, bahwa benda-benda akan semakin tunduk tidak berdaya kepada kekuasaan uang, bahwa uang sendiri akan semakin tidak berkualitas namun pada saat yang sama ia menjadi semakin kuat dalam relasi dengan kualitas benda-benda.

 

Efek-efek Negatif

Suatu masyarakat yang menjadikan uang sebagai tujuan di dalam dirinya sendiri, benar-benar tujuan terakhir, mempunyai sejumlah efek negative pada individu, dua hal yang paling menarik dari efek-efek itu adalah bertambahnya sinisme dan sikap bosan. Sinisme muncul ketika aspek-aspek yang paling tinggi maupun paling rendah dari kehidupan sosial diperjualbelikan, direduksi ke suatu bilangan pembagi – uang. Dengan demikian, kita dapat membeli keindanhan atau kebenaran atau kecerdasan nyaris semudah kita dapat membeli kerupuk atau deodorant. Penyamarataan segala sesuatu kepada suatu bilangan pembagi menyebabkan sikap sinis bahwa segalanya ada harganya. Bahwa apapun dapat dibeli atau dijual dipasar. Suatu ekonomi uang juga menyebabkan sikap bosan, “semua hal sama menjemukannya dengan warna abu-abu, sehingga tidak menggembirakan bila memperolehnya”. Orang yang bosan telah kehilangan secara lengkap kemampuannya untuk membuat perbedaan-perbedaan nilai diantara tujuan-tujuan dasar pembelian. Diajukan dengan cara agak berbeda, uang adalah musuh absolut estetika, mereduksi segalanya menjadi ketidakberbentukan, kepada fenomena kuantitatif murni.

Efek negatif lain ekonomi uang adalah hubungan-hubungan yang semakin impersonal diantara manusia. Bukannya berurusan dengan para individu dengan kepribadian-kepribadian mereka sendiri, kita semakin mungkin berhubungan hanya dengan posisi-posisi – tukang antar, pembakar roti, dan seterusnya – tanpa melihat siapa yang menduduki posisi itu. Dalam pembagian kerja modern yang mencirikan ekonomi uang, kita mempunyai situasi paradoksikal bahwa sementara kita semakin tergantung pada posisi-posisi orang lain agar kita dapat bertahan hidup, semakin sedikit yang kita ketahui tentang orang yang menduduki posisi-posisi itu. Individu spesifik yang mengisi suatu posisi tertentu menjadi semakin tidak penting

Isu yang masih ada kaitannya ialah dampak ekonomi uang pada kebebasan individual. Suatu ekonomi uang menyebabkan peningkatan didalam perbudakan individu. Individu di dunia modern menjadi teratomiskan dan terisolasi. Tidak lagi tertanam di dalam suatu kelompok, individu berdiri sendirian menghadapi suatu kebudayaan objektif yang terus meluas dan semakin memaksa. Sang individu di dunia modern lalu diperbudak oleh kebudayaan objektif sangat luas.

Dampak lain dari ekonomi uang adalah reduksi semua nilai manusiawi kepada istilah-istilah dolar, kecenderungan mereduksi nilai manusia kepada ungkapan moneter”. Contohnya, Simmel menawarkan kasus penebusan dosa di dalam masyarakat primitive untuk pembunuhan dengan pembayaran uang. Akan, tetapi, contohnya yang terbaik ialah penukaran untuk seks untuk uang. Perluasaan pelacuran sebagian dapat dilacak kepada pertumbuhan ekonomi uang.

Beberapa wawasan Simmel yang paling menarik terletak pada pemikiran-pemikirannya mengenai dampak uang terhadap gaya hidup masyarakat. Contohnya, suatu masyarakat yang didominasi oleh ekonomi uang cenderung mereduksi apa pun kepada rangkaian hubungan-hubungan kausal yang dapat dipahami secara intelektual, bukan secara emosional. Terkait dengan hal itu ialah apa yang disebut Simmel watak menghitung dalam kehidupan di dalam dunia modern. Bentuk spesifik intelektualitas yang secara khusus cocok dengan ekonomi uang ialah cara berpikir matematis. Hal itu, pada gilirannya, terkait dengan kecenderungan untuk menekankan faktor-faktor kuantitatif ketimbang kualitatif di dalam dunia sosial. Simmel menyimpulkan bahwa kehidupan banyak orang diserap oleh kegiatan seperti mengevaluasi, memberi bobot, mengalkulasi, dan mereduksi nilai-nilai kualitatif kepada nilai-nilai kuantitatif.

Kunci bagi diskusi Simmel mengenai dampak uang pada gaya hidup ialah terletak di dalam pertumbuhan kebudayaan objektif yang mengorbankan kebudayaan individual. Jurang di antara keduanya bertambah lebar dengan kecepatan yang semakin tinggi:

Pertentangan ini tampak terus-menerus meluas. Setiap hari dari setiap sisi, kekayaan kebudayaan objektif bertambah, tetapi pikiran individual dapat memperkaya bentuk-bentuk dan isi-isi perkembangannya sendiri hanya dengan semakin menjauhkan diri dari kebudayaan itu dan mengembangkan kebudayaannya sendiri dengan langkah yang jauh lebih lambat.

 

Tragedi Kebudayaan

Penyebab utama perbedaan yang terus bertambah tersebut adalah meningkatnya pembagian kerja di dalam masyarakat modern. Spesialisasi yang bertambah menyebabkan suatu kecakapan yang meningkat untuk menciptakan berbagai komponen dunia budaya. Akan tetapi, pada saat yang sama sang individu yang sangat terspesialisasi kehilangan pengertian atas kebudayaan total dan kehilangan kemampuan untuk mengendalikannya. Ketika kebudayaan objektif bertumbuh, kebudayaan individual terhenti. Para individu yang sangat terspesialisasi dihadapkan dengan suatu dunia produk-produk yang semakin tertutup dan terinterkoneksi yang hanya sedikit mereka kendalikan atau mereka tidak punya kendali sama sekali. Dunia mekanis yang tanpa spiritualitas akhirnya mendominasi para individu, gaya hidup mereka dipengaruhi berbagai cara.

Perluasaan besar-besaran kebudayaan objektif telah menimbulkan efek dramatis pada ritme kehidupan. Secara umum, ketidakrataan mencirikan zaman-zaman sebelumnya telah diratakan dan digantikan di dalam masyarakat modern dengan suatu pola kehidupan yang jauh lebih konsisten.

Dimasa lampau, konsumsi makanan bersifat siklis dan sering sangat tidak pasti. Sekarang, dengan metode-metode yang meningkat di bidang pengawetan dan transportasi, kita dapat mengonsumsi hamper setiap makanan dan kapan saja sehingga membantu mengimbangi kekacauan-kekacauan yang disebabkan oleh panen yang buruk, bencan alam dan seterusnya.

Di bidang komunikasi kereta pengantar surat yang jarang datang dan tidak dapat diperkirakan telah digantikan oleh telegraf, telepon, layanan surat harian, mesin fax, ponsel dan e-mail, yang membuat komunikasi tersedia setiap saat.

Pada masa lebih awal, malam dan siang memberi kehidupan ritme alamiah. Sekarang, dengan penerangan buatan kini bisa juga dilaksanakan pada malam hari.

Rangsangan intelektual, yang dulu terbatas pada percakapan sesekali, kini tersedia sepanjang waktu karena ketersediaan buku-buku dan majalah-majalah yang selalu siap. Situasi ini semakin nyata sejak zaman Simmel, dengan adanya radio, televise, videotape dan DVD player dan recorder, dan computer..

Unsur-unsur positif pada semua itu adalah mempunyai kebebasan yang jauh lebih banyak karena mereka kurang dibatasi oleh ritme alamiah kehidupan. Akan tetapi unsur negatifnya masalah-masalah muncul karena semua perkembangan berada dilevel kebudayaan objektif dan merupakan bagian-bagian integral dari proses yang membuat kebudayaan objektif bertumbuh dan memiskinkan lebih lanjut kebudayaan individual.

Pada akhirnya, uang telah menjadi symbol, dan suatu faktor utama di dalam pengembangan cara berada yang relativistik. Dengan kata lain, uang memungkinkan kita merelatifkan segala sesuatu. Cara hidup kita yang relativistic bertentangan dengan metode-metode hidup terdahulu ketika prang percaya pada sejumlah kebenaran abadi. Ekonomi uang menghancurkan kebenaran-kebenaran abadi yang demikian. Keuntungan-keuntungan yang diperoleh manusia dari segi kebebasan yang  bertambah dari ide-ide absolut jauh lebih sedikit dibandingkan kerugian-kerugiannya. Alienasi yang endemic bagi perluasan kebudayaan objektif ekonomi uang modern adalah suatu ancaman yang jauh lebih besar terhadap manusia, dimata Simmel, daripada keburukan-keburukan absolutisme. Simmel tidak menghendaki kita ke zaman yang lebih awal, tetapi dia mengingatkan agar kita waspada terhadap bahaya-bahaya yang menggoda yang terkait dengan pertumbuhan ekonomi uang dan kebudayaan objektif di dunia modern.

Menurut beilharz ekonomi modern juga mempunyai aspek-aspek yang membebaskan, yaitu:

  1. Mengizinkan kita berurusan dengan lebih banyak orang di dalam suatu pasar yang banyak diperluas.
  2. Kewajiban-kewajiban kita terhadap satu sama lain sangat terbatas daripada serba mencakup.
  3. Mengizinkan orang untuk menemukan kepuasan yang tidak tersedia di dalam system-sistem ekonomi yang terdahulu.
  4. Orang mempunyai kebebasan yang lebih besar di dalam lingkungan demikian utnuk mengembangkan individualitasnya pada tingkat yang lebih penuh.
  5. Orang mampu lebih baik memelihara dan melindungi pusat subjektifnya karena mereka terlibat hanya di dalam hubungan yang sangat sedikit.
  6. Pemisahan pekerja dari alat-alat produksi.

Akhirnya uang membantu orang bertumbuh semakin bebas dari paksaan-paksaan kelompok-kelompok sosialnya. Contohnya, di dalam suatu ekonomi barter orang sebagian besar dikendalikan oleh kelompoknya, tetapi di dalam dunia ekonomi modern paksaan-paksaan demikian dilonggarkan, dengan hasilnya orang lebih bebas membuat urusan-urusan ekonominya sendiri.

 

Kerahasiaan Suatu studi kasus di dalam sosiologi Simmel

The philosophy of Money memperlihatkan bahwa Simmel mempunyai lingkup teoritis yang bersaing dengan lingkup teoritis Marx Weber dan Durkheim, tetapi itu tetap merupakan contoh tidak lazim dari karyanya. Suatu tipe kesarjanaan Simmelian yang lebih khas ialah karyanya mengenai suatu bentuk spesifik interaksi kerahasiaan. Kerahasiaan di definisikan sebagai kondisi ketika seorang mempunyai maksud menyembunyikan sesuatu sedang orang lain berusaha menyingkapkan hal yang sedang disembunyikannya itu.

Simmel mulai dengan fakta dasar bahwa orang harus mengetahui beberapa hal tentang orang lain agar dapat berinteraksi dengan mereka. Contohnya, kita harus mengetahui dengan siapa kita sedang berurusan (misalnya  seorang teman, seorang kerabat dan seorang penjaga toko). Simmel melihat suatu hubungan dialektis diantara interaksi dan gambaran mental yang kita miliki atas orang lain (membayangkan). Dengan demikian hubungan-hubungan kita berkembang diatas dasara pengetahuan timbal balik, dan pengetahuan itu berlandaskan hubungan-hubungan actual.

Di dalam semua aspek kehidupan kita, kita memperoleh bukan hanya kebenaran tetapi juga ketidaktahuan dan kesalahan. Akan tetapi, di dalam interaksi dengan orang lainlah ketidaktahuan dan kesalahan itu memperoleh suatu sifat yang khas. Hal itu terkait dengan kehidupan batin orang yang kita ajak berinteraksi.

Faktanya ialah bahwa sekalipun orang ingin menyingkapkan semuanya (dan mereka nyaris tidak selalu demikian), mereka tidak dapat melakukannya karena begitu banyak informasi “akan mendorong setiap orang masuk rumah sakit jiwa. Oleh karena itu, orang harus memilih hal-hal yang mereka laporkan kepada oranglain.

Hal itu membuat kita kepada kebohongan, suatu bentuk interaksi saat si pembohong dengan sengaja menyembunyikan kebenaran dari orang lain. Di dalam kebohongan, oranglain tidak hanya ditinggalkan dengan konsepsi yang keliru, tetpai juga bahwa kekeliruan itu dapat diusut kepada fakta bahwa si pembohong bermaksud agar orang lain tertipu.

Simmel mendiskusikan kebohongan dari segi geometris sosial, khususnya ide-idenya mengenai jarak. Contohnya, dalam pandangan Simmel, kita dapat menerima dengan lebih baik dan menyetujui kebohongan-kebohongan orang-orang yang jauh dari kita. Oleh karena itu, kita tidak begitu kesulitan mengetahui bahwa para politisi yang terbiasa di Washington D.C, sering berbohong kepada kita. Sebaliknya, jika orang yang paling dekat kepada kita berbohong, kehidupan menjadi tidak tertahankan. Kebohongan seorang pasangan, kekasih, atau anak mempunyai dampak yang jauh lebih menghancurkan kepada kita daripada kebohongan seorang pejabat pemerintah yang hanya kita kenal melalui layar televisi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KARL MANHEIM

Teori Sosiologi Sistematis

Karl Manheim lahir pada tahun 1893 di Budapest, Hongaria .Ayahnya orang Hongaria sedangkan ibunya berasal dari Jerman. Manheim lahir dan besar di Budapest hingga ia melanjutkan studi di Perguruan Tinggi kemudian mengikuti teman-temannya ke Freiburg, Heidelberg dan tinggal beberapa lama di Kota Paris. Istrinya adalah teman sekawannya di Perguruan Tinggi, istrinya itu bernama Juliska Lang, seorang psikolog dan banyak membantu Manheim dalam kariernya sebagai ilmuwan. Pada awalnya Manheim tertarik pada dunia filsafat terutama epistemologi, namun kemudian perhatiannya beralih pada ilmu-ilmu sosial, khususnya ajaran-ajaran yang dikembangkan oleh Max Weber, Max Scheler, dan Karl Marx. Pada tahun 1929 dia menjadi guru besar sosiologi dan ekonomi di Frankrut. Pada tahun 1933 dia diberhentikan atas perintah Adolf Hitler dan akhirnya menetap di London dan mengajar sosiologi di London School of Economics. Selama tinggal di Inggris, Manheim menyunting The International Library of Sociology and Sosial Recontruction, dan mempunyai pengaruh besar terhadap perkembangan Sosiologi di Inggris, sehingga menjadi suatu ilmu yang dihormati. Manheim menerbitkan beberapa buku yang berkaitan dengan filsafat, sosial, dan proses-proses sosial yang mempengaruhi pengetahuan.

Manheim meninggal dunia dalam usia yang tidak terlalu tua, namun hasil karyanya sangat berpengaruh. Beberapa dasar pemikirannya adalah bagaimana memediasikan pribadi yang unik, atau suatu kelompok, atau suatu kurun waktu, atau pandangan hidup. Semua itu tergantung bagaimana mengadakan penafsiran  atau menangani gejala spiritual.

Bahan-bahan kuliahnya selama berada di Inggris diterbitkan pada tahun 1957 setelah dia meninggal, disunting oleh bekas mahasiswanya J.S. Eros dan W.A.C. Stewart dengan judul Sistematic Sociology: An Introduction to the Study of Society. Dalam buku tersebut diungkapkan ruang lingkup sosiologi sistematis, yakni berbagai bentuk kehidupan-bersama manusia. Bagi Mannheim bentuk bentuk kehidupan-bersama tidaklah berdiri sendiri, melainkan dipengaruhi oleh faktor-faktor psikologis dan kebudayaan. Mannheim mengonsepsikan sosiologi sebagai alat perencanaan masyarakat untuk menghindari bahaya totalitarianisme dan sistem kelas.

RUANG LINGKUP SOSIOLOGI SISTEMATIS

  1. 1.     Manusia dan Aspek Fisiknya
    1. Perilaku, Situasi dan Penyesuaian

Disamping menyesuaikan diri dengan keadaan alam, manusia juga menyesuaikan diri dengan lingkungan psiko-sosial, dengan respon yang bervariasi. Keanekaragaman pola penyesuaian diri merupakan suatu ciri khas yang dimiliki manusia. Manusia memerlukan waktu untuk melatih dirinya. Pola-pola perilaku dan penyesuaian diperoleh manusia dari masyarakat. Dalam perjalanan hidupnya, manusia mungkin mengubah pola perilaku yang semula dianutnya. Perubahan itu mungkin berlangsung berdasarkan pikirannya sendiri atau melalui hubungan dengan pihak lain. Contohnya ketika kita masuk pada Negara lain kita merasa bingung karena asing bagi kita, dan patutnya rasa bingung itu disertai oleh rasa malu. Rasa malu ini yang yang merupakan gejala ketidakmampuan untuk menyesuaikan pada situasi yang baru.

  1.  Kebiasaan dan Masalah Naluri

Kebiasaan merupakan pola perilaku yang tidak diwariskan, namun merupakan hasil pengalaman.Kebiasaan merupakan pola perilaku yang tertentu dan didapat, seringkali dirancu dengan naluri. Kecenderungan untuk hidup bersama yang merupakan naluri manusia, seringkali dipandang sebagai kebiasaan.

  1. Mekanisme Pembentukan Kebiasaan

Pola perilaku atau kebiasaan terbentuk melalui tanggapan-tanggapan terhadap stimuli, dan kombinasi stimuli yang baru akan menyebabkan terjadinya kombinasi tanggapan yang baru. Ada stimuli sederhana yang menyebabkan terjadinya respon secara alamiah. Selain itu juga imitasi perilaku pihak lain merupakan stimulus bagi terbentuknya kebiasaan seorang individu.

  1. Deskripsi Manusia Secara Sosiologis dan Psikoanalitis

Manusia dalam masyarakat mengalami hubungan timbal-balik antara tekanan internal dan eksternal yang serba rumit dan reaksi terhadap gejala itu mempunyai aspek individual dan sosial yang penting.Manheim menganalisa melalui pendekatan perilaku dengan  hanya melihat aspek eksternal belaka. Reaksi senantiasa dikaitkan dengan stimuli.Menurut Mannheim ada beberapa pandangan penting dalam perilaku yaitu ketidaksadaran, represi dan sublimasi

  1. Represi

Represi merupakan salah satu teknik pertahanan yang dipergunakan individu untuk melindungi kehidupan terhadap keinginan-keinginan yang mungkin mengakibatkan terjadinya konflik yang menyakitkandalam kesadarannya. Menurut Mannheim semua keinginan fisik tidak dapat dipenuhi dengan sekehendak hati sehingga represi merupakan suatu proses normal yang menyertai setiap tanggapan terhadap stimuli.

  1. Neurosis, Formasi Reaksi dan Proyeksi

Suatu penyaluran bagi represi yang tidak serasi adalah neurosis, ketidakmampuan untuk menyesuaikan diri.Cara lain untuk mengatasi represi yang lemah atau tidak wajar adalah dengan formasi reaksi, yaitu dengan mengalihkan perhatian yang kuat terhadap masalah-masalah yang dihadapi. Teknik lazim lainnya disebut proyeksi, memproyeksikan pikiran dan emosinya kepada pihak lain dan mengkritik pihak lain secara tajam.

  1. Rasionalisasi

Merupakan cara lain untuk menghindarkan diri dari konflik yaitu dengan penjelasan yang merupakan pembenaran terhadap perbuatan yang dilakukan. Rasionalisasi juga bisa dikatakan mengingkari keadaan sebenarnya.

  1. Simbolisasi dan Lamunan

Penciptaan lambang (simbolisasi) merupakan cara untuk melepaskan diri dari energi yang tertekan. Manusia kadang menipu dirinya sendiri dengan jalan menemukan pengganti keinginan yang terlarang. Dalam proses simbolisasi suatu objek menggantungkan objek lain dengan asosiasi atau pertentangan. Lamunan adalah merupakan kreasi suatu dunia penuh angan-angan yang meungkinkan berkembangnya segala perasaan yang terhalang.

  1. Sublimasi dan Idealisasi

Sublimasi merupakan suatu proses yang berkaitan dengan pengarahan kembali dorongan dalam diri manusia, sedangkan idealisai memusatkan perhatian pada suatu objek dan mengalihkan ego ke ego yang ideal.

  1. B.      Tipe-tipe Perilaku Sosiologis
    1. Sikap-sikap dan Keinginan

Sikap-sikap yang rumit berasal dari kecenderungan elementer, dorongan-dorongan atau lazimnya disebut naluri. Sedangkan keingingan atau kehendak manusia bervariasi dapat diklasifikasikan kehendak untuk mempunyai pengalaman baru, kehendak akan keamanan, kehendak untuk ditanggapi, kehendak untuk diakui.

  1. Kepentingan-kepentingan

Kepentingan mempunyai implikasi keuntungan diri sendiri.Kepentingan memaksa orang untuk mengatur perilakunya untuk mencapai tujuan yang telah dikalkulasi.Salah satu masalah penting yang dihadapi masyarakat adalah bagaimana mengubah suatu kepentingan menjadi kepentingan bersama.Bagaimana mengubah persaingan menjadi kerjasama.

  1. Bimbingan Sosial Terhadap Energi Psikis

Energi psikis ini timbul dari diri seseorang di mana energi psikis ini dapat mempengaruhi obyek-obyek sosial yang disetujui, energi psikis ini tergantung dari karakter individunya itu sendiri.Ini menjadi masalah bagaimana caranya untuk menggunakan energi psikis itu pada obyek-obyek sosial terlaksana dengan baik. Hal yang pokok dalam ini di mana yang pertama pembentukan individu ini ditentukan lebih dahulu dengan bantuan-bantuan lembaga tertentu yang akan menghasilkan tipe individu tertentu. Yang kedua mengadakan asumsi di mana sebab-sebab tertentu akan menghasilkan efek-efek tertentu, namun disini harus diperhitungkan sejauh mana kebebasan pertumbuhan manusia. Pada masayarakat yang bersahaja energi ini dipergunakan dengan baik, contohnya pembagian kerja yang salah satunya membantu perkembangan masyarakat itu sendiri dengan jalan mempengaruhi waktu istirahat dan lain sebagainya.

  1. Obyek Penentuan Dan Peraliham Libido

Seiring perkembangan waktu begitupun juga dengan manusia mengalami perkembangan dalam hidupnya. Menyambung point F di mana penentuan obyek ini bias diberi contoh rasa cinta anak terhadap ibunya atau keluarganya, jika penentuan ini terjadi maka ikatan yang terjadi juga akan kuat walaupun kemungkinan mengalihkannya masih ada. Disini ada keterhubungan di mana penentuan obyek tertentu juga dapat berubah seiring perkembangan waktu dengan pealihan libido, dimulai dari anak-anak yang memasuki model-model imitasi dari lingkungan sekitarnya sampai memasuki remaja di mana waktu anak-anak melihat payudara wanita itu hal yang biasa namun ketika remaja hal ini berbeda memiliki energi psikis yang berbeda, di mana disini memang perlu ada pengarahan energi psikis itu kepada hal yang lebih baik. Hal tersebut merupakan perubahan libido yang dialami oleh seseorang.Di mana dalam keremajaan ini menurut Rutter bukan berdasarkan kematangan secara fisik namun penekanan terhadap pengalaman-pengalaman sosial.Bila dilihat dari sosiologis masa remaja ini merupakan pelepasan dari pengendalian orang tua dan ketika dia sudah dapat mengambil keputusan dengan kemandiriannya ini sudah bergeser menjadi dewasa, namun dewasa juga seringkali masih belum bisa melepaskan keremajaannya.

Terlepasnya libido ini menjadi ketegangan dengan mencari integrasi-integrasi yang baru, peralihan-peralihan ini menurut sosiologi patut diarahkan pada yang lebih baik dari motif-motif keluarga kepada motif-motif umum lain, banyak terjadi yang keluarganya dibenci karena mendapatkan integrasi yang baru.

  1. 2.     PROSES-PROSES SOSIAL PALING ELEMENTER
    1. A.    Kontak Sosial dan Jarak Sosial
      1. Kontak primer dan sekunder

Kontak primer dikembangkan dalam asosiasi-asosasi tatap muka yang hubungannya erat, di mana prasaan visual dan oditor senantiasa terlibat.Kontak sekunder ditandai dengan eksternalitas dan jarak.

  1. Kontak- kontak simpatik dan kategoris

Kontak-kontak simpatik terjadi ketika individu atau kelompok berinteraksi dengan individu atau kelompok lain (orang asing), sehingga menimbulkan kategori simpati dan antipati.

  1. Jarak sosial

Jarak sosial terjadi pada setiap kontak sosial.Baik itu yang berupa jarak fisik maupun jarak internal atau mental.Jarak yang bersifat internal atau mental dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu jarak yang bertujuan mempertahankan tertib sosial dan hierarki, jarak eksistensial, jarak yang diciptakan pribadi.

  1. Jarak untuk mempertahankan hierarki sosial

Penciptaan jarak terwujud oleh terhalangnya hubungan sosial dan dengan cara mempertahankan jarak obyek-obyek lingkungan kebudayaan tertentudalam masyarakat. Hubungan sosial dapat dihalangi dengan membatasi atau menghapuskan kerja sama antar dua kelompok, dengan mengembangkan kebiasaan-kebiasaan yang rumit.

  1. Jarak eksistensial

Jarak eksistensial menunjuk pada hubungan antar manusia yang secara ekslusif timbul dari kualitas aspek bathiniah manusia.

  1. Penciptaan jarak dalam pribadi

Penciptaan jarak dalam pribadi dekat atau jauh adalah hakikat dari esensialnya, sebagaimana halnya dengan esensi pada pihak-pihak lain.

  1. B.    Isolasi

Isolasi merupakan situasimarjinal kehidupan sosial, yang meniadakan atau menanggalkan kontak-kontak sosial.

  1. Fungsi-fungsi sosial isolasi

Seorang yang melakukan isolasi bertujuan untuk menemukan keutuhan dirinya. Namum apabila sepenuhnya menarik diri, maka akan terjadi retardasi pada evolusi dirinya.

  1. Berbagai isolasi sosial

Isolasi terbagi menjadi isolasi spatis (paksaan dari orang lain), organis ( karena kondisi yang kurang dari individu)

  1. Bentuk-bentuk kesendirian

Kesendirian adalah salah satu bentuk isolasi parsial.

  1. C.    Individualisasi

Individualisasi merupakan proses sosial yang cenderung mengakibatkan individu menjadi mandiri dan tidak tergantung kepada kelompoknya, sehingga mampu menciptakan kesadaran diri pribadi.

  1. Individualisasi sebagai proses untuk menjadi berbeda
  2. Individualisasi pada taraf diri sendiri
  3. Individualisasi kehendak melalui obyek-obyek
  4. Individualisasi sebagai suatu jenis introversi
  5. D.    Individualisasi dan Sosialisasi

Sosialisasi merupakan kebalikan daripada individualisasi, oleh karena merupakan proses yang menyangkut perluasan hakikat diri.

  1. E.    Persaingan dan Monopoli
    1. Fungsi persaingan

Untuk menyalurkan fungsi sosial seleksi, terutama dalam penempatan-penempatan pada posisi yang terdapat dalam sistem sosial.

  1. akibat persaingan

Bisa mengakibatkan individu menjadi aktif dan melemahnya kekuatan individu.

  1. Restriksi terhadap metode-metode persaingan

Persaingan yang bebas mengakibatkan hasil-hasil yang terbalik dan menjadi sarana untuk melakukan seleksi negatif.

  1. Monopoli sosial

Yang membatasi kemungkinan keberhasilan yang berlaku dalam lingkup sosial tertentu dari tindakan sejumlah orang tertentu.

  1. F.    Seleksi

Seleksi adalah proses pemilihan kualitas dan kemampuan manusia yang menyerasikan diri dengan tugas-tugas dan kondisi-kondisi sosial di dalam mana persaingan terjadi. Seleksi seperti mesin pencetak, maka seleksi akan mengubah individu secara langsung dan memaksa menggunakan kemampuannya menurut cara-cara yang tepat.

  1. G.   Efek utama persaingan dan seleksi kehidupan mental

Menghilangkan isolasi dan integrasi kelompok tertutup dan menghilangkan stratifikasi yang semula ada.

  1. H.    Kerja sama dan pembagian kerja
    1. Tujuan kerja sama

Untuk memenuhi kebutuhan kelompok tertentu.

  1. Kerja sama, paksaan dan saling membantu

Kerja sama di efektifkan dengan paksaan agar terjadi tolong menolong dalam kelompok.

  1. Fungsi sosial pembagian kerja

Sebagai suatu tipe pembagian fungsi yang tegas tanpa profesional adalah pembagian kerja pada masyarakat bersahaja berdasarkan jenis kelamin.Pria berburu dan berperang sedangkan wanita menyiapkan makan.

Faktor utama pembagian kerja adalah peningkatan efisiensi tenaga kerja.Tahap tahap evolusi dan unit-unit kerja sama:

  1. Tahap pertama evolusi adalah keluarga atau unit ekonomis keluarga yang menetap.
  2. Tahap kota kecil, di mana tempat tumbuh kerajinan tangan yang mengembangkan pembagian kerja yang relatif tinggi tarafnya.
  3. Tahap ekonomi nasional, dalam sistem ini berbagai cabang industri memproduksi bahan mentah sendiri, tanpa menunggu pesanan.
  4. Penilaian sosial terhadap tenaga kerja

Perbedaan-perbedaan antara profesi terhormat dengan profesi biasa senantiasa muncul kembali dalam sejarah sosial. Pada masyarakat-masyarakat patriarchal, khususnya pada tahap perkembangan lebih lanjut, merupakan keadaan yang biasa untuk memberikan tekanan pada ciri kehormatan pekerjaan seorang prajurit atau pemburu.

  1. Fungsi integratif  pembagian kerja

Pertama solidaritas mekanis, yang didasarkan pada tundukannya individu terhadap kelompok. Kedua solidaritas organis, yang didasarkan pada diferensiasi sosial, merupakan suatu sistem dalam suatu organ tertentu mendukung fungsi-fungsi organ lainnya.

 

3.  INTEGRASI SOSIAL

1. SOSIOLOGI KELOMPOK

Masalah – masalah yang berkaitan dengan kekuatan sosial umum dan proses – proses yang mempersatukan manusia, atau yang menyebabkan  manusia menentang pihak lain. Namun, belum dijelaskan hasil berprosesnya kekuatan – kekuatan itu, yang kemungkinan menimbulkan berbagai bentuk integrasi.

Seringkali pembahasan sosiologis membuat kekeliruan yang sama dengan menganggap berbagai bentuk kehidupan bersama seperti keluarga, partai politik dan sebagainya, sebagai unit-unit itu merupakan integrasi berbagai kekuatan kecenderungan. Teori sosiologis mengenal kelompok harus diawali dengan pembahasan mengenai kekuatan – kekuatan itu, sebab tanpa itu maka akan sulit sekali menganalisanya dan menjabarkan secara seksama. Oleh karena itu diperlukan suatu pengamatan terhadap berbagai tahap integrasi sosial dan berbagai bentuk kelompok – kelompok sosial yang relatif kompak dan stabil.

1. Kerumunan

Kerumunan merupakan agregasi fisik yang kompak, yang bersifat sementara, di mana kontak terjadi secara tidak teratur, yang bereaksi terhadap stimuli yang sama dengan cara yang sama. Suatu kerumunan yang tidak terorganisasi lazimnya terlibat dalam suatu proses dalam mana perasaan meningkat dan kemampuan untuk mengadakan refleksi melahan menurun.

2. Publik atau khalayak umum

Suatu publik atau khalayak umum merupakan integrasi banyak orang yang tidak didasarkan pada integrasi pribadi, namun pada reaksi terhadap stimuli yang sama. Timbulnya reaksi itu tidak perlu timbul pada orang – orang yang secara fisik saling berdekatan.

3. Masa dan publik abstrak

Orang – orang yang mendengar siaran radio, menyaksikan siaran televisi, atau mendengar pidato yang disiarkan diberbagai tempat, merupakan massa atau publik abstrak. Mereka juga merupakan suatu massa oleh karena kesatuannya terbentuk oleh reaksi bersama terhadap stimuli yang sama, tidak seluruh kepribadiannya terlibat, namun hanya sebagian.

4. Kelompok – kelompok Terorganisasi

Kelompok – kelompok ini merupakan suatu bentuk integrasi sosial yang secara lama, yang bereaksi sesuai dengan perangkat kekuatan – kekuatan sosial tertentu. Mereka tidak hanya bereaksi terhadap stimuli eksternal akan tetapi juga terhadap sesamanya. Contoh – contoh kelompok demikian adalah misalnya keluarga, klen, suku, rukun tetangga, gereja, sekte, partai politik, birokrasi dan Negara. Apabila kelompok itu diamati, maka kelompok itu terikat oleh :

  1. Tanggapan, kebiasaan dan lembaga sosial yang sama
  2. Fungsi – fungsi komplementer
  3. Organisasi yang ketat
  4. Perangkat kaidah, kepentingan dan ideologi

Bentuk paling sederhana integrasi kelompok adalah sikap – sikap kolektif yang mencakup  dua kelompok, yaitu:

  1. Yang relative permanen, yang disebut sikap – sikap institusional
  2. Yang berubah dengan cepat, yakni sikap – sikap non institusional

 

  1. 2.       TIPE-TIPE PENGELEMPOKAN

Dalam suatu artikel yang berjudul The Number of Members as Determining the Group (terjemahan A. Small), G. Simmel menyatakan bahwa pengelompokan tergantung pada jumlah anggota – anggotanya. Artinya, terdapat perbedaan – perbedaan mendasar antara kelompok yang beranggotakan dua orang, tiga orang, empat orang, atau banyak orang.

Pertama-tama perlu dibahas perihal kelompok-kelompok kecil yang dapat disebut kelompok semu.Sekelompok semu yang paling kecil terdiri dari orang atau satu pasangan.Contohnya adalah pasangan suami istri, namun kelompok semu terkecil itu mungkin juga terdiri dari ayah atau ibu dengan seorang anak atau dua orang bersaudara kandung. Kelompok lainnya adalah yang terdiri dari tiga orang jenis kelompok ini dapat di anggap sebagai perkembangan lebih lanjut dari suatu pasangan.

Secara sosiologis tidak terdapat klasifikasi definitif dan eksklusif kelompok – kelompok sosial.Semua klasifikasi tergantung pada sudut pandangan dengan masing – masing pertimbangannya.Kegunaan suatu klasifikasi tergantung pada tujuan pada tujuan pengamatan ilmiah dan pada hakikat obyek itu sendiri.

  1. 3.       NEGARA

Dasar pembenaran mungkin berbeda di berbagai negara, hal yang mungkin mencakup kepercayaan tradisional, hukum, pendapat umum, dan seterusnya.Kekerasan dan paksaan yang dijalankan oleh Negara dianggap sah, selama didasarkan pada aturan – aturan yang diakui.

 

4. MASALAH KELAS

Suatu kelas sebenarnya lebih merupakan lapisan daripada kelompok.Dalam membicarakan masalah kelas, perlu diadakan pembedaan antara posisi sosial, masalah kelas, perlu diadakan pembedaan antara posisi sosial, masalah integrasi, dan partai politik sebagai sarana aktivitas kelas.

1. Posisi Sosial

Orang – orang yang mempunyai posisi – posisi yang sama dalam tertib sosial mempunyai kesempatan yang lebih besar untuk mendapatkan pengalaman, apabila dibandingkan dengan pihak – pihak lain.

2. Kesadaran kelas dan partai politik

Kesadaran kelas semata – mata tidak akan menimbulkan kelas yang beraksi. Hal itu hanya merupakan dasar untuk lebih memudahkan perkembangan aktivitas yang sama, dan bagi perkembangan gerakan – gerakan sosial tertentu.

 

  1. 5.     STABILITAS SOSIALDAN PERUBAHAN SOSIAL

Stablitas sosial merupakan kondisi di mayarakat yang mencapai titik statis, di mana stabilitas sosial ini diatur oleh pengendalian-pengendalian sosial , ketika masyarakat sifatnya dinamis pengendalian-pengendalian sosial ini adalah kunci stabilitas sosial, misalnya oleh hukum dan adat istiadat. Begitupun dengan wewenang merupakan representasi personal pengendalian sosial.

Keteraturan masyarakat ini merupakan metode-metode stabilitas sosial di mana orang satu dengan lainnya saling mempengaruhi, pengendalian-pengendalian sosial ini tidak terlihat dan masyarakat satu dengan lainnya berbeda pengendalian soialnya, contoh terkecilnya adalah pengendalian mutual, apabila seseorang menegur temannya karena berperilaku tidak baik, hal itu disebut mutual karena tidak dilaksanakan oleh lembaga, karena lembaga melaksanakan atas dasar masyarakat contohnya polisi. Dan ini berkaitan dengan sanksi mulai dari yang ringan sampai yang terberat.

Pengendalian sosial ini berfungsi oleh wewenang, dalam masyarakat ada pihak-pihak yang memiliki wewenang tersebut, namun yang berbeda sumber-sumber dari wewenang itu ada yang bersumber pada hukum, adat istiadat  atau tradisi dan yang lainnya. Pengendalian sosial ini tak dapat terjadi tanpa adanya wewenang.Dalam wewenang ini ada sanksi di mana sanksi ini tidak hanya didasarkan pada ancaman atau kekerasan namun dimasyarakat hal yang paling akhir yaitu pada kekerasan. Pengendalian sosial ini saling bekerkaitan satu dengan yang lainnya, ketika pengendalian sosial melemah maka hal lainakan menguat.

 

  1. A.    Adat istiadat sebagai suatu bentuk pengendalian sosial

Pengendalian sosial bisa dikatakan paling awal, karena bila hukum dibentuk dan ditegakan berbeda dengan adat istiadat ini berjalan dengan berangsur-angsur muncul tanpa adanya suatu keputusan yang sifatnya resmi  maupun pola penegakan tertentu. Pengendalian sosial ini bersifat mutual atau bersifat demokratis bahkan samapi totaliter, karena adat istiadat ini terbentuk dengan kesepakatan kelompok , juga karena mempengaruhi setiap aspek kehidupan manusia. Namun semua ini akan luntur bila adanya disintegrasi pada adat istiadatsalah satu faktor penyebabnya menurut Karl Manheim ilmuwan yang lama menetap di Inggris ini menuturkan salah satunya kaitan ekonomi. Oleh karena itu pengendalian sosial ini merupakan yang terkuat dalam membentuk tertib sosial bahkan tertib moral.

 

  1. B.      Hukum sebagai suatu bentuk pengendalian sosial

Berbeda dengan adat istiadat hukum salah satu pengendalian sosial yang terbentuk dengan pola penegakan hukum tertentu , hal ini dibentuk oleh Negara yang aturan-aturannya diakui, ditafsirkan dan diterapkan pada situasi-situasi tertentu, hukum diperlakukan pada saat hukum ditetapkan. Ini merupakan rasionalitas dari masyarakat modern di mana adat istiadat semakin menyempit kedudukannya digantikan oleh aturan yang pasti.Faktor ini yang menyebabkan masyarakat modern sifatnya fungsional.Hukum hanya dimengerti bagi kaum minoritas saja dalam masyarakat modern tutur Henry Maine.Maka dari itu perlu adanya penyesuaian-penyesuaian dari hukum untuk masyarakat. Pada pandangan yang liberalis hukum mempunyai dua fungsi, yaitu; mempertahankan ketertiban dengan manusia mendapatkan perlindungan dan diberi berbagai kesempatan; menyelesaikan konflik dan menserasikan kepentingan. Namun berbalik pada masyarakat totaliter, fungsi hukum lebih menekankan agar masyarakat taat.

 

  1. C.      Prestise dan kepemimpinan

Dalam setiap masyarakat harus selalu ada wewenang namun yang berbeda sumber-sumber wewenang tersebut, tetapi wewenang tersebut tidak dapat diterapkan oleh individu-individu dan keliru juga bila mengidentifikasi wewenang dengan kekerasan karena wewenang yang didasarkan kekuatan belaka tidak mungkin tegak. Setiap struktur dan tempat masyarakat berbeda juga wewenangnya. Oleh karena itu wewenang dibedakan menjadi dua tipe yang pertama berdasarkan lembaga yang menegakannya dan yang kedua dipegang oleh seseorang pemimpin individual. Contoh pertama jika kita taat terhadap petugas maka kita bukan taat terhadap kulitas dirinya namun kita taat pada hukum yang ditegakannya karena mewakili lembaga pengendalian sosialnya dan ini terjadi pada masyarakat yang sedikit revolusi  dan disorganisasinya. Berbeda dengan yang kedua ini muncul dari gejolak yang terjadi masyarakat yang dinamis, ketika masyarakat memerlukan sesuatu yang baru.Munculnya pemimpin disini karena kualitasi pribadinya.Dan prestise dapat diporeleh karena muncul kekuasan atau bisa dikatakan karena reputasi tertentu.

 

  1. D.    Penafsiran filosofis dan sosiologis terhadap nilai-nilai

Dalam kaitannya penilaian menjadi hal yang inheren pada pengendalian-pengendalian sosial, di mana manusia berfikir kecenderungan mempercayai nilai-nilai karena sifatnya abadi dan diciptakan oleh kekuasaan diatas manusia.Kemudian terjadi keenggan untuk mengubah sikap tersebut karena mungkin takut terjadi relativisme dimasyarakat.Nilai-nilai ini dibentuk oleh masyarakat dan berbeda-beda dalam masyrakat, tergantung sistem sosialnya. Nilai-nilai ini merupakan proses sosial menurut Karl Mannheim, dia juga mencontohkan apabila dalam peperangan mengendarakan ambulan itu sangat penting maka itu menjadi hal yang sangat bernilai. Pengembangan nilai ini berdasar pada faktor-faktor organisme, keadaan dan suatu objek.

Menurut Cooley ada dua jenis nilai, ada nilai-nilai yang hakikatnya alamiah dan ada nilai-nilai yang institusional.Ketika manusia merasa senang jika melihat warna cerah ini merupakan hal yang alamiah namun ini tak banyak terjadi karena nilai-nilai itu sudah dikembangkan berdasarkan lembaga.Nilai-nilai institusional ini banyak terdapat dan hanya dapat dipelajari yang mengacu pada dasar-dasar sosialnya, yaitu artinya, sejarahnya dan keselurahan situasi kelompoknya.Maka nilai berbeda menurut waktu, kelompok dan kelas sosial.Keliru bila nilai dapat dijelaskan oleh sejarah nilai tersebut, kebanyakannya nilai itu terbentuk dari lembaga-lembaga dan kelompok-kelompok, dan penilaian ini dapat ditelusuri melalui sejarah perubahan dalam kelompok.

Perubahan sosial, hal perubahan menurut Karl Mannheim dapat memusatkan analisa pada masyarakat pertama-pertama dengan memfokuskan pada teknik produksi ekonomi masyarkat tersebut, di mana teknik produksi, mesin-mesin dalam pembuatan pakaian dan makanan, perumahan dan sebagainya , merupakan perubahan yang mempengaruhi masyarakat. Selain itu teknik-teknik sosial juga termasuk terjadinya peristiwa-peristiwa, misalnya metode-metode modern yang mempengaruhi prilaku manusia, ketika propaganda dijadikan sebagai suatu sarana yang penting.Teknik organisasi yang berefek pada birokrasi yang semakin besar kekuasaanya.Ini menunjukan bukan hanya perubahan ekonomi dam teknis saja namun hal-hal lain juga yang patut diperhitungkan.

“Some people think the mind is important to influnce sosial affairs, others that it is omnipotent. Whilst I believe that tecnological factors are important, I should maintain that they may be manoeuvred according to human ends which are culturally agreed. Or, as lewis mumford puts it, “our capacity to beyond the macine rest in our power to assimilate the machine”. In our advanced technical age it  is impossible to destroy the machine but is possible with intelegence to remove those instituions which do harm, or strengthen those tendencies which are already at work and useful but not yet fully develoved. Sosial reform does not mean building society a new from the beginning, but observing the tendencies at work and trough a definitr strategy guiding it in the desired direction”. (Karl Mannheim quotes).

Suatu pemikiran yang cerdas dari Karl Manheim mengenai perubahan sosial umumnya, khususnya pada kutipan akan teknologi di mana teknologi itu tidak dapat dimusnahkan namun bagaimana cara intelejensi kita terhadap institusi yang merugikan para pekerja, atau dengan reformasi sosial namun bukan membentuk masyarakat baru tapi mengamati kecenderungan di tempat kerja dan mengarahkan pada yang diinginkan dengan strategi.

 

 

 

 

 

 

 

PENUTUP

 

                Setelah selesai mengkaji buku ini tentu saja para pembaca memiliki kesan yang berbeda-beda. Namun, diharapkan kesan yang diperoleh adalah kesan yang positif walaupun tidak perlu semua merasa puas. Ketidakpuasan diharapkan dapat memacu dan memicu para pembaca untuk terusmengkaji serta belajar lebih mendalam lagi hingga pengalamnnya semakin kaya.

Apabila mengkaji lebih cermat, disadari bahwa masih banyak kelemahan dan kekurangan yang perlu diperbaiki. Pembahasan mengenai teori-teori sosiologi klasik, sebagaimana telah disinggung pada bagian pendahulaun, merupakan pengantar bagi para pembaca yang akan memeperdalam lebih lanjut tentang hal-hal spesifik untuk mengetahui dan mempelajari teori-teori sosiologi klasik sampai teori postmodern. Uraian dari para ahli- ahli teori sosiologi klasik yaitu Auguste Comte, Karl Max, Emile Durkheim, Max Weber, Georg Simmel, dan Karl Menhem yang dilengkapi dengan teori-teori yang mereka lahirkan dan merupakan pengetahuan awal yang cukup berharga bagi para pembaca yang punya komitmen untuk membina diri meningkatkan pengetahuan ilmiah dalam belajar. Teori-teori yang dilahirkan para ahli tersebut seperti Auguste Comte melahirkan Positivisme, terdapat tahap-tahap sejarah Auguste Comte dan pengaruhnya sangat luas bagi para filsafat. Karl Max menganalisis hubungan kita dengan hubungan kerja ada di bawah kapitalisme. Emile Durkheim pertama menganalisis mengenai pembagian kerja dalam masyarakat dianalisis melalui solidaritas sosial. Kedua Durkheim memilih studi bunuh diri karena persoalan ini relative merupakan fenomena konkrit dan spesifik, di mana tersedia data yang bagus cara komparatif. Ketiga Durkehim memilih studi bentuk-bentuk kehidupan agamis elementer atau totetisme. Max Weber pertama menganalisis teori tindakan sosial, cabang penting ketiga dari behaviorisme sosial merupakan tanggapan independen terhadap permasalahan-permasalahan sama yang memunculkan pluralisme, behavioral dan interaksionisme simbolik. Kedua Karyanya yang paling populer adalah esai yang berjudul Etika Protestan dan Semangat Kapitalisme, yang mengawali penelitiannya tentang sosiologi agama. Georg Simmel paling dikenal sebagai mikrososiolog yang memainkan suatu peran signifikan di dalam perkembangan riset kelompok kecil-kecil, interaksionisme simbolik, dan teori pertukaran. Karl Mannheim dalam bukunya diungkapkan ruang lingkup sosiologi sistematis, yakni berbagai bentuk kehidupan-bersama manusia. Bagi Mannheim bentuk bentuk kehidupan-bersama tidaklah berdiri sendiri, melainkan dipengaruhi oleh faktor-faktor psikologis dan kebudayaan.

Apakah para pembaca telah memeperoleh pengalaman dari bacaan diatas terkaiat dengan teori-teori sosiologi klasik para ahli? Kami mengajak para pembaca semua untuk melakukan refleksi dan hasilnya diharapkan “rasa tidak puas” sehingga para pembaca diharapkan akan terus menggali lagi dari sumber belajar lain.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Bachtiar, Wardi (2010). Sosiologi Klasik. Bandung : PT Remaja Rosdakarya

Beilhartz, Peter. 2005. Teori-teori Sosial. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Lawang, Robert J. Dan Jhonson, Doyle Paul. 1988. Teori Sosiologi: Klasik dan Modern Jilid I. Jakarta: Gramedia.

Ritzer , George dan Goodman, Douglas J. 2004. Teori Sosiologi. Yogyakarta: Kreasi Wacana.

Ritzer, George. 2012. Teori Sosiologi (edisi kedelapan). Yogyakarta: Pustaka    Pelajar.

Ritzer, George. 2012. Teori Sosiologi (Dari sosiologi Klasik Sampai Perkembangan Terakhir Postmodern. University of Maryland: Pustaka Pelajar.

Scott, John & Tim Penerjemah Labsos FISIP UNSOED. 2011. Sosiologi the Key                Concepts/ John Scott. Jakarta: Rajawali Pers.

Soekanto, Soerjono. 2011. Mengenal Tujuh Tokoh Sosiologi. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.

 

Dari WEB :

Sakwati, Monalia. 2012. Kajian Durkheim Tentang Solidaritas Sosial. (online). Tersedia : http://monaliasakwati.blogspot.com/2011/07/kajian-durkheim-tentang-  solidaritas.html. Diakses pada tanggal 16 September 2012.

Shvoong. 2011. Pengeertian Konsep Pembaagian Kerja Emile Durkheim. (online). Tersedia : http://id.shvoong.com/social-sciences/sociology/2180253-pengertian-      konsep-pembagian-kerja-emile/. Diakses pada tanggal 16 September 2012.

Soekanto, Soerjono. Et al .1986. Beberapa teori sosiologi. Jakarta: CV Rajawali.

Aldoranuary. 2011. Georg Simmel sosial dan Masyarakat. (online). Tersedia :

http://aldoranuary26.blog.fisip.uns.ac.id/2011/05/23/georg-simmel-sosial-dan-masyarakat/[25 September 2012].

Crewetbit. 2011. Teori George Simmel. (online). Tersedia :

http://crewetsbit.blogspot.com/2011/12/teori-george-simmel.html[25 September 2012].

Zunaida.2009. Etika Protestan Max Weber. (online). Tersedia :

http://zunaidasayang.blogspot.com/2009/11/etika-protestan-max-weber.html

Hery. 2010. The Protestan Ethic and The Spirit Of Capitalism. (online). Tersedia :

http://catatanhery.wordpress.com/2010/01/16/the-protestant-ethic-and-the-spirit-of-capitalism-by-max-weber/

Jeje. 2011. Etika Protestan dan semangat Kapitalisme. (online). Tersedia : http://fisip.uns.ac.id/blog/jeje/2011/03/28/etika-protestan-dan-semangat-kapitalisme-max-weber/

Budi, Setiya. 2012. Makalah Perubahan Sosial. (online). Tersedia : http://setyabudyhitlerjunior.blogspot.com/2012/03/makalah-perubahan-sosial.html

http://sosok.kompasiana.com/2012/03/22/max-webber-dan-pemikirannya-hubungan-antara-etika-protestan-dengan-kapitalisme-sebuah-hipotesis/

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s