Pengertian Sikap

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menggunakan kata sikap dan memahaminya karena ia menjadi bagian dari kalimat atau ulasan yang kita pahami secara keseluruhan. Namun tidak demikian bila kita membahas sikap sebagai suatu konsep dalam psikologi sosial.

Pada permulaan abad ke 20, sikap merupakan konsep yang menjadi perhatian utama dalam psikologi sosial, sehingga ada yang menganggap bahwa psikologi sosial adalah bidang studi psikologi yang mempelajari sikap (Thomas dan Zaniecki, 1918, Watson, 1930,dalam Voughn dan Hoog, 2002). Sikap berasal dari kata latin “aptus” yang berarti dalam keadaan sehat dan siap melakukan aksi/tindakan atau dapat dianalogikan dengan keadaan seorang gladiator dalam arena laga yang siap menghadapi singa sebagai lawannya dalam pertarungan. Secara harfiah, sikap dipandang dalam kesiapan raga yang dapat diamati.

Menurut allport, sikap merupakan kesiapan mental, yaitu suatu proses yang berlangsung dalam diri seseorang, bersama dengan pengalaman individual masing-masing, mengarahkan dan menetukan respons terhadap berbagai objek dan situasi. Pada tahun sekitar 1930-1970an, sikap merupakan topic yang sangat penting dalam kehidupan manusia, menjadi bahasan dan focus penelitian dengan menggunakan metode/tekhnik-tekhnik khusus untuk pengukuran sikap. Beberapa decade kemudian, pengertian mengenai sikap semakin berkembang dan mengalami perubahan, seperti yang dilihat pada kutipan definisi sikap menurut beberapa penulis berikut :

  1. Reaksi evaluative yang disukai atau tidak disukai terhadap sesuatu atau seseorang, menunjukan kepercayaan, perasaan, atau kecenderungan perilaku seseorang.
  2. Sikap adalah tendensi psikologis yang diekspresikan dengan mengevaluasi entitas tertentu dengan beberapa derajat kesukaan atau ketidaksukaan.
  3. Evaluasi terhadap beberapa aspek perkataan sosial

Berdasarkan batasan-batasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa sikap adalah suatu proses penilaian yang dilakukan seseorang terhadap suatu objek.

Batasan sikap dalam psikologi sosial merujuk pada adanya penilaian terhadap objek sikap. Eagly dan caiken (1988) menyatakan bahwa yang dimaksud dengan penilaian adalah proses mengolah dan menghubungkan suatu stimulus (objek sikap) dengan suatu respons tertentu. Stimulus dan respons merupakan hal yang dapat diamati. Sikap merupakan proses evaluasi yang sifatnya internak/subjektif yang berlangsung dalam diri seseorang dan tidak dapat diamati secara langsung. Sikap dapat diketahui melalui pengetahuan, keyakinan, perasaan dan kecenderungan seseorang terhadap objek sikap.

Sikap adalah konsep yang dibentuk oleh tiga komponen, yaitu kognitif, afektif, dan prilaku. Komponen kognitif berisi semua pemikiran serta ide-ide yang berkenaan dengan objek sikap. Isi pemikiran seseorang meliputi hal-hal yang berkenaan dengan objek sikap. Isi pemikiran seseorang meliputi hal-hal yang diketahuinya sekitar objek sikap, dapat berupa tanggapan atau keyakinan, kesan, atribusi dan penilaian tentang objek sikap tadi. Komponen afektif dari sikap meliputi perasaan atau emosi seseorang terhadap objek sikap. adanya komponen afeksi dari sikap, dapat diketahui melalui perasaan suka atau tidak suka, senang atau tidak senang terhadap objek sikap. Isi perasaan atau emosi pada penilaian seseorang terhadap objek sikap inilah yang mewarnai sikap menjadi suatu dorongan atau kekuatan/daya. Komponen perilaku dapat diketahui melalui respons subjek yang berkenaan dengan objek sikap. Respons yang dimaksud dapat berupa tindakan atau perbuatan yang dapat diamati dan dapat berupa intense atau niat untuk melakukan perbuatan tertentu sehubungan dengan objek sikap. Intense merupakan predisposisi atau kesiapan untuk bertindak terhadap objek sikap. Jika orang mengenali dan memiliki pengetahuan yang luas tentang objek sikap yang disertai dengan perasaan positif mengenai kognisinya, maka ia akan cenderung mendekati (approach) objek sikap tersebut,.

Ketiga komponen sikap menciptakan nuansa tertentu yang dapat menjelaskan perbedaan sikap orang-orang terhadap objek sikap yang sama. Begitu pula sikap orang tua sering berbeda dalam menghadapi anak-anaknya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s