etnometodologi

A. Asumsi Dasar Teori Etnometodologi
1. Pengertian Etnometodologi
Etnometodologi berasal tiga kata Yunani, Etnos yang berarti orang, Metodos yang berarti metode, dan Logos yang berarti ilmu. Jadi secara harfiah etnometodologi adalah sebuah studi atau ilmu tentang metode yang digunakan oleh orang awam atau masyarakat biasa untuk menciptakan perasaan keteraturan atau keseimbangan didalam situasi dimana mereka berinteraksi.
Etnometodologi merupakan kumpulan pengetahuan berdasarkan akal sehat dan rangkaian prosedur dan pertimbangan (metode) yang dengannya masyarakat biasa dapat memahami, mencari tahu, dan bertindak berdasarkan situasi dimana mereka menemukan dirinya sendiri (Heritage, 1984:4).
Teori etnometodologi membicarakan objektivitas fakta sosial sebagai prestasi anggota sebagai prodak aktivitas metodologi anggota. Grafinkel melukiskan sasaran perhatian etnometodologi sebagai berikut :
“Realitas objektif fakta sosial bagi etnometodologi adalah fenomena fundamental sosiologi karena merupakan setiap produk masyarakat setempat yang diciptakan dan diorganisir secara alamiah, terus menerus, prestasi praktis, selalu, hanya, pasti dan menyeluruh, tanpa henti dan tanpa peluang menghindar, menyembunyikan diri, melampaui, atau menunda (Garfinkel, 1991 :11)”.
Hilbert (1992) menyatakan, pakar etnometodologi tak memusatkan perhatian kepada aktor individual, tapi lebih pada “anggota”. Namun, anggota tidak dilihat sebagai individu, tetapi lebih “semata-mata sebagai aktivitas keanggotaan- praktik cerdik untuk menciptakan apa yang menurut mereka merupakan struktur organisasi berskala luas dan struktur personal atau interaksional berskala kecil” (Hilbert, 1992 : 193).
Jadi, pakar etnometodologi tak tertarik pada struktur mikro dan struktur makro, tetapi ereka memusatkan perhatian pada praktik cerdik yang menghasilkan pemahaman tentang kedua jenis struktur itu. Granfikel dan pakar etnometodologi lainnya memusatkan perhatiannya kepada cara baru dalam memahami struktur baik mikro maupun makro yang sejak lama sudah menjadi sasaran perhatian sosiologi.
Salah satu pendirian kunci Garfinkel mengenai etnometodologi adalah bahwa mereka “dapat dijelaskan secara reflektif”. Penjelasan adalah cara aktor melakukan sesuatu seperti mendeskripsikan, mengkritik, da mengidealisasikan situasi tertentu. Inilah salah satu alasan mengapa pakar etnometodologi memusatkan perhatian dalam menganalisis percakapan. Dalam menganalisis penjelasan, pakar etnometodologi menganut pendirian ketakacuhan etnometologis. Artinya, mereka tidak menilai sifat dasar penjelasan, tetapi lebih menganalisis penjelasan itu dilihat dari sudut pandang bagaimana cara penjelasan itu digunakan dalam tindakan praktis. Mereka memperhatikan penjelasan dan metode yang digunakan pembicara dan pendengar untuk mengajukan, memahami dan menerima atau menolak penjelasan.

2. Diversifikasi dan Tokoh Etnometodologi
Etnometodologi mula-mula “diciptakan” oleh Garfinkel di akhir tahun 1940an, tetapi baru menjadi sistematis setelah diterbitkan karyanya yang berjudul Studies in Ethnomethodology pada 1967. Setelah beberapa tahun etnometodologi. tumbuh pesat dan berkembang ke berbagai arah yang berbeda. Hanya satu dekade setelah terbitnya Studies in Ethnomethodology, dan Zimmerman menyimpulkan bahwa ada beberapa jenis etnometodologi. Seperti dinyatakan Zimmerman “etnometodologi mencakup sejumlah penyelidikan yang kurang lebih berbeda dan adakalanya saling bertentangan” (1978:6).
Sepuluh tahun kemudian Atkinson (1988) menegaskan kurangnya koherensi dalam studi etnometodologi dan selanjutnya menyatakan bahwa ada beberapa etnometodologis yang menyimpang terlalu jauh dari premis-premis yang melandasi pendekatan ini. Dengan demikian meski etnometodologi ini merupakan teori sosiologi yang sangat bersemangat, namun “mengindap penyakit” yang makin parah di tahun belakangan ini. Tak salah dikatakan bahwa etnometodologi, diversitasnya, dan problemnya, akan semakin banyak di tahun-tahun mendatang. Bagaimana juga, masalah pokok yang menjadi sasaran studi etnometodologi adalah berbagai jenis kehidupan sehari-hari yang terbatas. Karena itu akan semakin banyak studi makin banyak diversifikasinya dan makin “growing paints”.
B. Konsep dan Jenis- jenis Etnometodologi
1. Studi Setting Institusional
Tipe pertama adalah studi etnometodologi tentang setting institusional. Studi etnometodologi awal dilakukan oleh Garfinkel dan rekannya (dibahas di bawah) berlangsung dalam setting biasa dan tak diinstitusionalkan (noninstitutonalized) seperti di rumah kemudian bergeser ke arah studi kebiasaan sehari-hari dalam setting institusional seperti dalam sidang pengadilan, klinik (Ten Have, 1995), dan kantor polisi. Tujuan studi seperti itu adalah memahami cara orang dalam setting institusional melaksanakan tugas kantor mereka dan proses yang terjadi dalam institusi tempat tugas itu berlangsung.
Studi sosiologi konvensional tentang setting institusional seperti itu memusatkan perhatian pada strukturnya, aturan formalnya, dan prosedur resmi untuk menerangkan apa yang dilakukan orang di dalamnya. Menurut pakar etnometodologi, paksaan eksternal tak memadai untuk menerangkan apa yang sebenarnya terjadi di dalam institusi itu. Orang tidak ditentukan oleh kekuatan eksternal seperti itu; mereka menggunakan institusi untuk menyelesaikan tugas mereka dan untuk menciptakan institusi di mana mereka berada di dalamnya.
Orang menggunakan prosedur yang berguna bukan hanya untuk kehidupan sehari-hari, tetapi juga untuk menghasilkan produk institusi. Misalnya, tingkat angka kriminal disusun oleh kantor polisi bukan semata-mata karena akibat petugas mengikuti peraturan yang ditetapkan secara jelas dalam tugas mereka. Petugas lebih memanfaatkan prosedur berdasarkan akal sehat untuk memutuskan umpamanya apakah korban harus digolongkan sebagai korban pembunuhan. Jadi, angka kriminal seperti itu berdasarkan penafsiran pekerjaan dan profesional, dan pemeliharaan catatan kriminal seperti itu adalah kegiatan yang berguna untuk studi yang sebenarnya.

2. Analisis Percakapan
Jenis etnometodologi kedua adalah analisis percakapan (conversation analysis). Tujuan analisis percakapan adalah “untuk memahami secara rinci struktur fundamental interaksi melalui percakapan” (Zimmerman, 1988:429). Percakapan didefinisikan dalam arti yang sama dengan unsur dasar perspektif etnometodologi: “Percakapan adalah aktivitas interaksi yang menunjukkan aktivitas yang stabil dan teratur yang merupakan kegiatan yang dapat dianalisis” (Zimmerman, 1988:406). Meski percakapan mempunyai aturan dalam prosedur keduanya tak menentukan apa yang dikatakan, tetapi digunakan untuk “menyempurnakan percakapan”. Sasaran perhatian percakapan terbatas pada mengenai apa yang dikatakan dalam percakapan itu dan bukan kekuatan eksternal yang membatasi percakapan. Percakapan dipandang sebagai tatanan internal sekuensial.
Zimmerman merinci lima prinsip dasar dalam menganalis percakapan:
1. Analisis percakapan memerlukan pengumpulan dan analisis data yang sangat rinci tentang percakapan. Data ini tak hanya terdiri dari kata-kata tetapi juga meliputi “keragu-raguan, gaduh, tersedu-sedu, mendehem, tertawa, berpantun, dan sebagainya, dan juga perilaku nonverbal yang terdapat dalam rekaman video yang biasanya berkaitan erat dengan rentetan aktivitas yang direkam oleh audiotape.” (Zimmerman, 1988:413). Semuanya itu adalah bagian dari percakapan dan dilihat sebagai perlengkapan metodis dalam melakukan percakapan oleh aktor yang terlibat (Lynch, 1999).
2. Bahkan percakapan rinci yang paling baik sekalipun harus sebagai pencapaian yang teratur. Aspek-aspek kecil percakapan tak hanya oleh pakar etnometodologi; mula-mula diatur oleh “aktivitas metodis aktor sendiri “(Zimmerman, 1988:415).
3. Interaksi pada umumnya, dan percakapan pada khususnya mempunyai sifat stabil dan teratur yang dicapai oleh aktor yang terlibat. Dalam mengamati percakapan, pakar etnometodologi memperlakukannya seolah otonom, terpisah dari proses kesadaran aktor dan konteks lebih luas di percakapan itu berlangsung.
4. “Kerangka percakapan fundamental adalah organisasi teratur” (Zimmerman, 1988:422).
5. “Rangkaian interaksi percakapan dikelola atas dasar tempat atau bergiliran” (Zimmerman, 1988:423). Dalam ini Zimmerman mengikuti pendapat Heritage (1984) yang membedakan percakapan yang “ditentukan konteks” dan “yang diperbarui konteks”. Percakapan yang ditentukan konteks berarti bahwa apa yang dikatakan pada waktu tertentu ditentukan oleh konteks percakapan terdahulu. Percakapan menentukan konteks adalah apa yang dikatakan sekarang berubah menjadi bagian konteks berikutnya.
Secara metodologis, analisis percakapan berupaya mempelajari percakapan yang terjadi dalam konteks yang wajar, sering menggunakan audiotape atau videotape. Metode perekaman ini memungkinkan informasi lebih mengalir secara wajar dari kehidupan sehari-hari ketimbang dipaksakan oleh peneliti. Peneliti dapat memeriksa dan memeriksa ulang percakapan yang sesungguhnya secara rinci ketimbang bersandar pada catatan yang dibuatnya. Teknik inipun memungkinkan peneliti menganalisis percakapan secara sangat rinci.
Analisis percakapan berdasarkan asumsi bahwa percakapan adalah landasan dari bentuk-bentuk hubungan antara personal yang lain (Gibson, Percakapan adalah bentuk interaksi paling mudah meresap dan percakapan “terdiri dari matriks prosedur dan praktik komunikasi yang paling terorganisir (Heritage dan Artkinson, 1984:13).
Di atas telah dikemukakan pengertian umum tentang etnometodologi. Namun, inti etnometodologi tak terletak pada pernyataan teoritis, tetapi pada empirisnya. Apa yang diketahui secara teoritis berasal dari hasil studi. Kini beralih ke sederetan hasil studi dengan harapan dapat memberikan pemahaman yang lebih baik tentang etnometodologi.
C. Contoh Studi Empiris Etnometodologi
Inti etnometodologi tidak terletak pada pernyataan teoritis saja, tetapi terletak
pada studi empiris. Apa yang diketahui secara teoritis berasal dari hasil studi. Berikut contoh-contoh studi empiris etnometodologis:
1. Contoh Umum
a. Eksperimen Pelanggaran
Eksperimen pelanggaran dialkukan untuk melukiskan cara orang mengatur kehidupan sehari-hari mereka. Contohya beberapa mahasiswa diminta untuk tinggal dirumah mereka masing-masing antara 15 menit dan 1 jam untuk menghayalkan bahwa mereka seolah-olah sedang kost kemudian di asumsikan bertingkahlaku seperti itu. Mereka diperintahkan untuk bertindak hati-hati, sopan, saling menjauhkan diri, berbicara secara resmi dan berbicara ketika di tegur. Dalam kebanyakan kasus keluarga akan heran oleh prilaku demikian dan menimbulkan berbagai macam reaksi dan berbagai macam tuduhan terhadap mahasiswa tersebut. Reaksi ini menandakan betapa pentingnya orang harus bertindak sesuai asumsi akal sehat mengenai bagaimana tindakan mereka yang diharapkan.
Meski eksperimen ini nampak tidak bersalah namun sering menimbulkan reaksi emosional yang tinggi. Reaksi emosional yang ekstrem ini mencerminkan betapa pentingnya bagi orang untuk senantiasa terlibat dalam kegiatan rutin berdasarkan akal sehat.

b. Prestasi menurut jenis kelamin
Pandangan etnometodologi mengenai jenis kelamin dapat ditelusuri ke salah satu demonstrasi Garfinkel (1967) yang kini telah menjadi klasik tentang kemanfaatan orientasi etnometodologi. Pada tahun 1950 Garfinkel bertemu dengan seseorang yang bernama Agnes, jika dilihat dari rupa, bentuk tubuh, corak kulit dan make up yang digunakannya, jelaslah terlihat bahwa dia terlihat seorang wanita. Kenyataannya sejak lahir dia ditakdirkan sebagai seorang laki-laki. Pada saat berusia 16 tahun dia merasa serba salah karena dengan fisik seorang laki-laki tetapi jiwanya wanita, keadaan tersebut merasa dirinya serba salah, hingga pada saat itu agnes lari dari rumah dan mulai berpakaian seperti seorang gadis. Dia segera mengetahui bahwa dengan berpakaian wanita saja beum cukup, dia belajar bertindak seperti wanita karena dia ingin diterima sebagai wanita. Garfinkel tertarik pada penerimaan kebiasaan yan memungkinkan agnes berfungsi sebagai seorang wanita dalam masyarakat. Pendapat yang lebih umum disini adalah bahwa kita tak lahir semata-mata laki-laki atau wanita, kita semua juga belajar dan membiasakan diri dengan kebiasaan sehari yang memungkinkan kita diterima sebagai laki-laki atau wanita. Menurut pengertian sosiologi, hanya dengan mempelajari dan menggunkan kebiasaan inilah kita dapat menjadi seorang laki-laki atau wanita. Jadi, penggolangan seperti ini yang selama ini dipikirkan sebagai status yang diwarisi dapat dipahami sebagai kecakapan menyusun kebiasaan yang ditetapkan.
2. Contoh studi setting institusi
a. Interview kerja
Beberapa pakar etnometodologi mengalihkan perhatian mereka ke dunia pekerjaan. misalnya, Button (1987) meneliti wawancara pekerjaan. Tidak mengherankan, ia melihat wawancara sebagai percakapan yang berurutan dan “sebagai kepandaian praktis yang diletakkan kedua belah pihak pada suasana itu”(B utton,1987:160). Persoalan yang dibahas dalam studi ini meliputi hal-hal yang dapat dilakukan pewawancara, setelah jawaban diberikan, beralih kepertanyaan lain, dan dengan cara demikian mencegah orang yang diwawancarai kembali dan mengoreksi jawabannya semula. pertama, pewawancara dapat menyatakan bahwa wawancara secara keseluruhan sudah selesai. kedua, pewawancara dapat mengajukan pertanyaan lain yang mengalihkan pembicaraan ke arah yang berlainan. ketiga, pwawancara dapat menilai jawaban yang diberikan sedemikian rupa sehingga orang yang diwawancarai menghindar dari keinginan untuk ditanyai kembali.
b. Negosiasi Eksekutif
Anderson, Hugnes dan Sharrock (1987) meneliti ciri negoisasi di kalangan eksekutif bisnis. Salah satu temuan mereka tentang negoisasi di kalangan eksekutif bisnis ini adalah mereka sangat logis, obyektif dan impersonal:
Segala sesuatu di selesaikan dengan penuh pertimbangan, terukur, masuk akal. dalam bernegosiasi ini mereka tidak melibatkan rasa permusuhan pribadi. ini adalah sekedar pekerjaan mereka, bagian dari kerja sehari-hari mereka…… rasa permusuhan, perselisihan pendapat, dan percekcokan selalu ditahan, dikuasai, dikendalikan bila kesepakatan tidak dapat dicapai kini, ditangguhkan dulu.(Anderson,Hugnes dan Sharrock,1987:155)

c. Menelpon pusat gawat darurat
Whalen dan zimmerman (1987) meneliti panggilan telepon demikian mengarahkan pada pengurangan kata pembukaan percakapan telepon. Dalam percakapan telopon normal kita biasanya menemukan secara berurutan jawaban panggilan, pengenalan, jati diri, salam, dan “apa kabar”. Dalam panggilan darurat, rentetan pembukaan percakapan dikurangi dan pengenalan, salam dan “apa kabar” ditiadakan.
Dalam studi serupa, Whalen Zimmerman dan Whalen (1988) melihat kepercakapan telepon gawat darurat yang gagal, yang menyebabkan keterlambatan pengiriman ambulans dan kematian seorang wanita. Meski media massa mengutuk penerimah telepon dalam insiden ini, Whalen Zimmerman dan Whalen menemukan masalahnya pada sifat khusus dari percakapan telopn gawat darurat :
Penelitian kami mengungkapkan bahwa pemahaman peserta agak berbeda mengenai apa yang terjadi dan mereka mempunyai perkiraan yang berbeda mengenai apa yang di sangka terjadi dalam percakapan telepon itu. Selama percakapan berlangsung, baik penelpon maupun perawat yang menerimah (dan pengawasannya), terus memperluas dan memperdalam perbedaan pemahaman ini. perbedaan pemahaman ini menyebabkan cekcok yang memperburuk dan mengubah aktivitas kedua pihak (Whalen,Zimmerman.dan Whalen,1988:358).
Jadi, sifat percakapan khusus itulah, bukan kemampuan penerimah telepon, yang menjadi “penyebab”perbedaan pemahaman.
d. Resolusi perselisihan dalam mediasi
Angela garcia (1991) menganalisi penyelesaian konflik dalam sebuah program di carfornia yang dirancang untuk mengetahui berbagai jenis percekcokan-antara tuan tanah dan penyewa menyangkut sejumlah kecil uang, dan percekcokan dikalangan anggota keluarga atau teman. Tujuan akhir analisis garcia adalah untuk membandingkan cara penyelesaian konfilik yang sudah terlembaga yang terjadi dalam percakapan biasa. Kesimpulan utama garcia adalah bahwa lembaga penengah membuat penyelesaian konflik yang jauh lebih mudah dengan melenyapkan proses yang menyebabkan meningginya tingkat percekcokan dalam percakapan biasa. Bila argumen muncul dalam mediasi, prosedur yang ada, yang tak ada dalam percakapn biasalah yang membuat konflik berakhir.
Mediator terutama berupaya membatasi kemungkinan dakwaan dan sangkalan langsung oleh kedua belah pihak yang bercekcok perang mulut seperti itu besar kemungkinanannya menyebabkan konfilik dan mediator berupaya mencegah terjadinya dan segera bertindak begitu mulai.untuk menghentikan perang mulut,mediator dapat mencobah mengubah pokok pebicaraan,mengalihkan arah pertanyaan atau sanksi percekcokan.
Berbeda dengan Clayaman dalam studinya tentang ejekan, garcia tak menyatakan bahwa struktur interaksi dalam mediasi serupah dengan struktur interaksi dalam kehidupan sehari-hari. Menurut garcia, aturan interaksi dalam stem mediasi sangat berbeda. Tetapi, seperti Clayaman dan analis percakapan, Garcia (1991:883) melihat kunci untuk memahami apa yang terjadi dalam struktur sosial atau normatif mediasi.
3. Contoh analisis percakapan
a. Percakapan telepon : pengenalan dan pengakuan
Emanuel A. Schegloff (1997) memandang pengujiannya tentang cara membuka percakapan telepon sebagai bagian upaya lebih besar untuk memahami ciri keteraturan interaksi sosial:
Penelitian yang kami lakukan memusatkan perhatian pada organisasi interaksi sosial. Kami menggunakan audio dan videotape untuk merekam interaksi yang terjadi secara alamiah dan mencatat hasil rekaman untuk menemukan dan mendeskripsikan fenomena yang teratur dari percakapan dan interaksi yang berlangsung. Kami juga berupaya melukiskan organisasi sistematis dari percakapan dan interaksi itu dengan merujuk pada fenomena yang dihasilkannya (Schegloff, 1979: 24, huruf miring oleh pengarang).
Dalam konteks ini Schegloff memperhatikan pembukaan percakapaan telepon yang didefinisikan “tempat di mana jenis percakapan yang dibuka dapat diajukan, ditunjukan, diterima, ditolak, diubah-singkatannya, percakapan baru dapat dimulai bila gagang telepon diangkat oleh kesua belah pihak” (1979:25). Meski percakapan dengan telepon tak berbeda dari percakapan dengan tatap muka, namun pihak-pihak yang berbicara melalui telepon tak mengalami kontak visual.
Schegloff mengemukakan bahwa pembukaan percakapan sering sangat terus terang dan terkesan baku.
a. Hallo
b. Shar’n?
c. Hai!
Namun beberapa pembukaan “terdengar aneh- hamper menyerupai pertunjukan alat musik” (Schegloff, 1979:68):
a. Hallo
b. Hallo Margie?
a. Ya
b. Huh, kami sedang mengecat, memperbaiki
a. Baiklah, tak apa-apa
b. Eh, hu huh
a. Huh, huh, huh
b. Huh, huh, huh, huh
a. Huh
b. Peralatan itu
a. Y(huh) huh,huh
b. Maaf mengenai hal itu, aku tak melihatnya.
Percakapan diatas hampir tak dapat dimengerti hingga kita paham bahwa b meminta maaf karena meminjam peralatan terlalu lama. B bergurau dan setelah keduanya tertawa, permintaan maaf disampaikan. Percakapan seperti ini ditimbukan dari rentetan organisasi yang teratur diterima dan disesuaikan oleh kedua pihak dalam keadaan tertentu.
b. Membuat tertawa
Menurut pandangan awam tertawa itu waktunya bebas dalam pembicaraan ataupun interaksi, artinya kapan saja dihendaki. Tetapi Jefferson menemukan bahwa beberapa cirri struktural mendasar suatu ucapan dimaksudkan untuk membuat pihak lain agar tertawa. Pertama adalah penempatan tawa oleh pembicara di ujung ucapannya:
Dan : aku rasa kau terlihat cantik …. Apakah kau mendengar aku mengatakan kau pemadat…. Heh, hehe
Din : heh, heh, heh, heh.
Tertawa diletakan di tengah pembicaraan, misalnya:
Min : kau tahu aku tidak …. Kau tahu
Nin : sialan, kau tahu kan, aku lagi nganggur (haha);
Min : oh ya, haha
Dari contoh di atas Jefferson menyimpulkan bahwa peristiwa tertawa lebih terorganisasi daripada yang kita sadari.
Gleen (1989) meneliti tertawa bersama dalam percakapan melibatkan banyak orang. Meski Jefferson memusatkan perhatian pada interaksi dua orang, keberadaan sejumlah orang menyebabkan masalah tertawa menjadi makin kompleks. Glenn menyatakan bahwa bila dalam interaksi dua orang pembicara biasanya tertawa duluan, dalam interaksi banyak orang biasanya seseorang selain pembicaralah yang tertawa duluan. Biasanya dalam interaksi dua orang si pembicara terpaksa tertawa duluan karena hanya ada satu orang lain yang dapat melaksanakan fungsi itu, namun dalam interaksi banyak pihak, banyak orang lain yang dapat tertawa duluan, sehingga lebih baik pembicara tidak mendahului tertawa.
c. Merangsang tepuk tangan
John Heritage dan Davia Greatbatch (1986) memepelajari kepandaian berpidato politisi inggris (berasal dari karya yang dikembangkan Z. Maxwell Atkinson, 1984a,1984b) dan menemukan muslihat dasar yang digunakan pembicara untuk menimbulkan tepuk tangan pendengarnya. Mereka menyatakan, tepuk tangan ditimbulkan oleh “pernyataan yang secara lisan dibangun:
a. Menekankan dan dengan demikian membunga-bunga isinya untuk melatarbelakangi materi pembicaraan, dan
b. Untuk memproyeksikan kejelasan pendirian yang disampaikan (heritage dan greatbatch, 1986:116).
Penekanan menerangkan kepada pendengar bahwa tepuk tangan adalah tepat dan peringatan sebelumnya memungkinkan pendengar mulai bertepuk tangan serentak.
d. Ejekan
Steven Clayman (1993) meneliti ejekan sebagai pengungkapan celaan dalam suasana pidato di dpean public. Dengan mengejek, pendengar memisahkan diri dari pembicara. Ejekan disebabkan saling memonitor di antara anggota kumpulan pendengar ketimbang hasil pengambilan keputusan secara individual. Biasanya ada tenggang waktu yang berarti antara ungkapan kata-kata yang tidak dapat disetujui dan serangan ejekan.
Clayman menyimpulkan bahwa kehidupan kolektif dalam menciptakan tepuk tangan dan ejekan sangat banyak kesamaannya dengan individu menciptakan persetujuan dan ketidaksetujuan dalam perilaku sehari-hari. dalam kedua kasus itu “ persetujuan cenderung cepat dihasilkan, secara lengkap dan dikemukakan tanpa memerlukan penjelasan khusus. Sebaliknya, ketidaksetujuan, pertentangan, biasanya lambat, memenuhi syarat dan dapat dijelaskan (Clayman, 1993:125). Jadi prinsip fundamental yang diungkapkan oleh analisis percakapan, memungkinkan kita memahami tanggapan positif dan negative terhadap pidato public.
e. Munculnya interaksi dari kalimat dan kisah
Charles Goodwin (1979) menentang asumsi ilmu bahasa tradisional yang menyatakan bahwa kalimat dapat diuji secara terpisah dari proses interaksi tempat kemunculannya. Menurut Goodwin “kalimat muncul bersama percakapan”(1979:98). Goodwin berpendapat bahwa kalimat itu adalah suatu produk proses kerja sama.
Menurut Mandelbaum (1989) meniliti munculnya cerita interaktif. Menurutnya pendengar itu tidak pasif seperti yang dianggap sebelumnya. Jadi pendengar ikut berpartisipasi melalui percakapan bergantian meski pencerita mendominasi percakapan. Mandelbaum menganggap bahwa cerita umumnya produk interaksi
f. Fomulasi
Heritage dan Watson(1979) memusatkan perhatian pada inti percakapan. Merka menempatkan masalah ini dalam konteks umum sasaran kajian etnometodologi.
Contoh percakapannya :
A : aku demikian sedih….
B : ya
A : …..aku serasa memanjat tangga jembatan
B : kau siap melakukan bunuh diri karena…..
A : ya, aku kelebihan berat badan.
Formulasi seperti itu menggambarkan manajemen praktis percakapan. Formulasi adalah sebuah contoh tentang bagaimana cara anggota menunjukan pemahaman mereka mengenai apa yang terjadi.
g. Integrasi pembicaraan dan aktivitas nonvokal
Goodwin misalnya meneliti videotape sebuah acara makan malam yang melibatkan dua pasangan. Satu masalah dalam hubungan antara aktivitas vokal dan nonvokal adalah postur tubuh salah seorang yang menceritakan sebuah ceritadi pesta makan malam itu. Kesimpulannya dalam cerita diatas Goodwin menyimpulkan tidak hanya dibuat tampak dalam pembicaraannya tetapi juga dalam cara ia mengorganisir tubuhnya dan dalam aktivitas selama bercerita.(1984:229). Selain itu juga Goodwin meneliti bahwa tatapan juga bisa dihubungkan dengan percakapan. Sikap tubuh dan tatapan hanya dua diantara banyak aktivitas nonvokal.
h. Malu (dan percaya diri)
Manning dan Ray (1993) memandang bahwa malu dan kepercayaan diri adalah ciri dari psikologis tetapi manning dan ray mencoba mencoba menunjukan bahwa keduanya adalah sesuatu yang kita lakukan ketika kita melaksanakan percakapan.
D. Kelebihan dan kekurangan etnometodologi
1. Kelebihan
a. Longitudinal
Sebagai suatu metode observasi yang sedang berlangsung, etnometodologi dapat merekam perubahan-perubahan apa yang terjadi dan tidak harus menyandarkan diri pada ingatan partisipan.
b. Perilaku verbal dan non verbal dipelajari dalam etnometodologi
c. Memberikan suatu pemahaman tentang bagaimana responden menyadari atau merasa benar-benar dalam keadaan sadar dan mengerti terhadap kegiatan penelitian dan bagaimana mereka menjawab pertanyaan yang ada.
d. Etnometodologi memberikan suatu pemahaman tentang kekonsistenan reliabilitas
2. Kekurangan
a. Terfokus pada Masalah-masalah yang Sangat Elementer
Para sosiolog memandang bahwa etnometodologi cenderung memusatkan perhatiannya pada masalah-masalah sepele dan mengabaikan isu-isu yang penting yang ada di masyarkat.
b. Etnometodologo Kehilangan Akar Fenomenologisnya
c. Hubungan Pekerjaan Etnometodologi dengan Struktur Sosial yang Besar
Para ahli memandang bahwa etnometodologi cenderung memandang diri mereka sebagai jembatan pembagian mikro dan makro.
d. Enometodologi Telah Kehilangan Pandangan Reflektivitas Radikalnya
Kritik terhadap etnometodologi yakni, bahwa metode ini telah telah kehilangan sifat reflektivitas radikal dari bentuknya yang asli.
e. Etnometodologi Menjurus pada Pengetahuan yang Ajaib
Sikap pendekatan etnometodologi untuk menerima metode yang digunakan oleh orang yang sedang diteliti ketimbang menerapkan metode universal yang bisa digunakan, ini dianggap sebagai cara berfikir baru. Jika pendekatan ini diterima dan dipraktikan, maka hal itu akan menjurus pada suatu ilmu pengetahuan yang “sangat ajaib”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s