etnografi

  1. 1.      Jelaskan latar belakang dan sejaran Kampung Naga di Tasikmalaya !

Sejarah atau asal-usul Kampung Naga menurut salah satu versi nya bermula pada masa kewalian Syeh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati dengan koordinat Latitude -7.363722 dan Longitude 107.994425 , seorang abdinya yang bernama Singaparana ditugasi untuk menyebarkan agama Islam ke sebelah Barat. Kemudian ia sampai ke daerah Neglasari yang sekarang menjadi Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya. Di tempat tersebut, Singaparana oleh masyarakat Kampung Naga disebut Sembah Dalem Singaparana. Suatu hari ia mendapat ilapat atau petunjuk harus bersemedi. Dalam persemediannya Singaparana mendapat petunjuk, bahwa ia harus mendiami satu tempat yang sekarang disebut Kampung Naga.

Nenek moyang Kampung Naga yang paling berpengaruh dan berperan bagi masyarakat Kampung Naga “Sa Naga” yaitu Eyang Singaparana atau Sembah Dalem Singaparana yang disebut lagi dengan Eyang Galunggung, dimakamkan di sebelah Barat Kampung Naga. Makam ini dianggap oleh masyarakat Kampung Naga sebagai makam keramat yang selalu diziarahi pada saat diadakan upacara adat bagi semua keturunannya.

Namun kapan Eyang Singaparana meninggal, tidak diperoleh data yang pasti bahkan tidak seorang pun warga Kampung Naga yang mengetahuinya. Menurut kepercayaan yang mereka warisi secara turun temurun, nenek moyang masyarakat Kampung Naga tidak meninggal dunia melainkan raib tanpa meninggalkan jasad. Dan di tempat itulah masyarakat Kampung Naga menganggapnya sebagai makam, dengan memberikan tanda atau petunjuk kepada keturunan Masyarakat Kampung Naga.

Ada sejumlah nama para leluhur masyarakat Kampung Naga yang dihormati seperti: Pangeran Kudratullah, dimakamkan di Gadog Kabupaten Garut, seorang yang dipandang sangat menguasai pengetahuan Agama Islam. Raden Kagok Katalayah Nu Lencing Sang Seda Sakti, dimakamkan di Taraju, Kabupaten Tasikmalaya yang mengusai ilmu kekebalan “kewedukan”. Ratu Ineng Kudratullah atau disebut Eyang Mudik Batara Karang, dimakamkan di Karangnunggal, Kabupaten Tasikmalaya, menguasai ilmu kekuatan fisik “kabedasan”. Pangeran Mangkubawang, dimakamkan di Mataram Yogyakarta menguasai ilmu kepandaian yang bersifat kedunawian atau kekayaan. Sunan Gunungjati Kalijaga, dimakamkan di Cirebon menguasai ilmu pengetahuan mengenai bidang pertanian.

(http://www.disparbud.jabarprov.go.id/wisata/dest-det.php?id=29&lang=)

Kalau kita membuka sejarah Kampung Naga di internet, memang ditemui beberapa versi sejarah asal mula Kampung Naga. Ada yang menyebutkan bahwa Singaparna ini sebenarnya adalah salah satu abdi dari Sunan Gunung Djati (Syarif Hidayatullah), yang ditugasi untuk menyebarkan agama Islam ke arah barat. Versi lain menceritakan bahwa dahulu kala ada serombongan orang dari suku Badui yang diusir oleh kepala sukunya. Rombongan ini kemudian sampai di Desa Neglasari dan menetap disana, yatu tempat Kampung Naga sekarang berada.

Sayangnya, kita rasanya hampir tidak mungkin lagi untuk menelusuri sejarah Kampung Naga ini melalui dokumentasi aslinya, karena banyak dokumen-dokumen kuno  yang berisi mengenai asal-usul Kampung Naga ludes terbakar ketika gerombolan DI/TII Kartosuwiryo membumi hanguskan tempat ini pada tahun 1956. Sebagaian besar cerita sejarah tersebut hanya bersumber dari cerita-cerita yang dituturkan secara lisan oleh masyarakat adat Kampung Naga itu sendiri. Itupun biasanya masih disertai dengan pantangan-pantangan (tabu/pamali), yaitu ada topik-topik tertentu yang mereka enggan untuk menceritakannya kepada masyarakat luar karena topik itu hanya boleh dijelaskan oleh sangkuncen (kepala suku). Selain itu masyarakat Kampung Naga juga menganggap hari Selasa, Rabu, dan Sabtu sebagai hari pantangan untuk bercerita mengenai adat istiadat serta asal-usul masyarakat Kampung Naga.

Pemilihan nama Kampung Naga sendiri konon berasal dari “kampung dina gawir”. Dina dalam bahasa Sunda berarti “di” atau “dalam” sementara gawir artinya tebing atau jurang. Dengan demikian “kampung dina gawir” bisa diartikan sebagai kampung yang terletak di dalam (dasar) tebing/jurang. Ini merujuk pada lokasinya yang memang terletak di lembah, sehingga untuk menuju kesana harus menuruni tebing dahulu. Lama kelamaan, masyarakat setempat akhirnya menyingkat penyebutan “kampung dina gawir” ini menjadi Kampung Naga di hilangkan awalan di dan akhiran wir nya, menjadi NAGA.

(PENJELASAN LEBE KAMPUNG NAGA)

  1. 2.                  Bagaimana karakteristik dan kekhasan masyarakat Kampung naga dibandingkan dengan masyarakat Sunda pada umumnya?

Menurut pengamatan saya kekhasan kampung naga terletak pada :

  • Pola kepemimpinan

Pola kpemimpinan kampung naga sangat khas yaitu kuncen, lebe, punduh. Akan tetapi di samping pola kepemimpinan non formal yang bersifat adat juga berlaku pola kepemimpinan formal pada umumnya yaitu RT, RW, dll.

  • Bidang Agama

Warga kampung naga tidak memilih mazhab-mazhab seperti umat islam pada umumnya. Akan tetapi warga kampung naga memilih islam yang turun temurun menurut adat yang di wariskan nene moyang. Begitupun dalam hal waris dan hukum-hukum yang lainnya.

  • Pola hidup

Pola hidup yang taat pada pemimpin dan memegang teguh adat baik dalam hal hukum, larangan, bahkan dalam pembuatan rumahpun di atur oleh adat.

Tiga ciri khas ini yang membedakan Kampung Naga dengan kampung-kampung yang ada di indonesia yang kebanyakan sudah tergusur jati diri kampung tersebut karena era globalisasi.

  1. 3.      Bagaimana peran dan pemberlakuan nilai-nilai kearifan lokal di Kampung Naga sehingga dapat bertahan hingga saat ini?

 

Peran dan pemberlakuan nilai-nilai kearifan lokal di Kampung Naga sehingga dapat bertahan hingga saat ini menurut saya di dukung karena beberapa faktor berikut :

  • Kita memberi kepada negara

Kearifan lokal ini membuat ketaraturan hidup di dalam masyarakat Kampung Naga dan membuat masyarakat lebih ikhlas dan sangat taat kepada pemimpin mereka dalam mengorbankan untuk kelangsungan kearifan lokal dan keajegan hukum adat.

  • Pola hidup masyarakat kampung naga masih memegang ketatan kepada pemimpin adat

Mereka sangat taat kepada pemimpin maupun adat, hal inilah yang menyebabkan kearifan lokal di kampung naga bertahan hingga saat ini. Kalau warga kampung naga tidak taat (yang sekolah, yang bekerja di luar kampung naga), mungkin kearifan lokal kampung naga akan bercampur dengan budaya lain ataupun hilang akibat pendidikan yang berpikir modern dan teknologi.

  • Memegang kata tabu “ pamali “

Mereka tetap kukuh dalam memegang teguh falsafah hidup yang diwariskan nenek moyangnya dari generasi ke generasi berikutnya, dengan tetap mempertahankan eksistensi mereka yang khas. Kebiasaan yang dianggap bukan berasal dari nenek moyangnya dianggap tabu untuk dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari. Pelanggaran terhadap ketentuan tersebut dianggap sebagai pelanggaran adat yang dapat membahayakan bukan saja bagi si pelanggar, tetapi juga bagi seluruh isi Kampung Naga dan bagi orang-orang sa-Naga.

Kepatuhan warga Kampung Naga sendiri dengan tetap menyambangi makam leluhurnya ini sekaligus mempertahankan upacara-upacara adat, termasuk juga pola hidup mereka yang tetap selaras dengan adat leluhurnya seperti dalam hal religi dan upacara, mata pencaharian, pengetahuan, kesenian, bahasa dan sampai kepada peralatan hidup (alat-alat rumah tangga, pertanian dan transfortasi) dan sebagainya dengan dasar karena mereka begitu menghormati budaya dan tata cara leluhurnya).

  • Bersifat adaftif

Masyarakat Kampung Naga sangat adaftif dan selektif terhadap dunia luar yang akan mempengaruhi kearifan lokal. Misalnya tv, tv akan mempengaruhi gaya hidup anak-anak yang biasanya mengaji di mesjid menjadi nonton tv selepas magribh. Oleh karena itu di kampung Naga sekarang tv sudah ada tv hanya satu, supaya menimialisir dampak dari tv tersebut.

Dalm hal listrik juga Warga Kampung Naga mengadaftasikan dengan lingkungan dan arsitektur kampung Naga yang natural. Penolakan pemberian listrik dari pemerintah di sebabkan karena warga kampung naga takut rumah yang terbuat dar bambu dan atp ijuk mereka terbakar karen konleting arus pendek listrik.

 (faktor-faktor diataslah yang menurut hemat saya sangat menjaga kearifan lokal kampung naga hingga bertahan saat ini. Kalau salah satu faktor di atas luntur dari warga kampung naga, menurut hemat saya maka kampung naga akan sama dengan kampung- kampung lain di indonesia )

 

 

 

  1. 4.      Jelaskan adat istiadat dan budaya masyarakat Kampung Naga!

 

Penjelasan beberapa adat dan budaya yang ada di Kampung Naga :

  • Upacara perkawinan

Upacara perkawinan bagi masyarakat Kampung Naga adalah upacara yang dilakukan setelah selesai akad nikah. Ada tahap-tahap upacaranya sebagai berikut : upacara sawer, nincak endog, buka pintu, ngariung (berkumpul), ngampar, dan diakhiri dengan munjungan.

Sawer (Melempar Duit) 

Upacara sawer dilakukan selesai akad nikah, pasangan pengantin dibawa ke tempat panyaweran, tepat di muka pintu. mereka dipayungi dengan posisi tukang sawer berdiri dihadapan kedua pengantin. Panyawer mengucapkan ijab kabul, dilanjutkan dengan melantunkan syair sawer. ketika melantunkan syair sawer, penyawer mengelilingi pembelai dengan menaburkan beras, irisan kunir, dan uang logam ke arah pengantin. Anak-anak yang bergerombol di belakang pengantin saling berdesakan berebut uang sawer yang dilemparkan. Isi syair sawer ini berupa nasihat kepada pasangan pengantin baru dengan menggunakan bahasa sunda.

Nincak Endog (Menginjak Telur)

Usai upacara sawer dilanjutkan dengan upacara nincak endog. Endog (telur) disimpan di atas golodog (kursi pendek) dan mempelai pria menginjaknya. Kemudian mempelai perempuan mencuci kaki mempelai pria dengan air dari kendi. Setelah itu mempelai wanita masuk ke dalam rumah, sedangkan mempelai pria berdiri di muka pintu untuk melaksanakan upacara buka pintu.

 

 

Buka Pintu 

Dalam upacara buka pintu terjadi tanya jawab antara kedua mempelai yang diwakili oleh masing-masing pendampingnya dengan cara dilagukan. Sebagai pembuka mempelai pria mengucapkan salam ‘Assalammualaikum’ yang kemudian dijawab oleh mempelai wanita ‘Waalaikumsalam’. Setelah tanya jawab selesai, pintu pun dibuka dan selesailah upacara buka pintu.

Riungan & Ngampar (Berkumpul & Duduk di Lantai)

Setelah upacara buka pintu dilaksanakan, dilanjutkan dengan upacara ngampar dan munjungan. Ketiga upacara terakhir ini hanya ada di masyarakat Kampung Naga. Upacara riungan adalah upacara yang hanya dihadiri oleh orang tua kedua mempelai, kerabat dekat, sesepuh, dan kuncen. Adapun kedua mempelai duduk berhadapan, setelah semua peserta hadir, kasur yang akan dipakai pengantin diletakan di depan kuncen. Kuncen mengucapakan kata-kata pembukaan dilanjutkan dengan pembacaan doa sambil membakar kemenyan. Kasur kemudian di angkat oleh beberapa orang tepat diatas asap kemenyan.

Munjungan (Sungkeman) 

Usai acara tersebut dilanjutkan dengan acara munjungan (sungkeman). Kedua mempelai bersujud sungkem kepada kedua orang tua mereka, sesepuh, kerabat dekat, dan kuncen. Akhirnya selesailah rangkaian upacara perkawinan di atas.

Sebagai ungkapan rasa terima kasih kepada para undangan, tuan rumah membagikan makanan kepada mereka. Masing-masing mendapatkan boboko (bakul) yang berisi nasi dengan lauk pauknya dan rigen yang berisi opak, wajit, ranginang, dan pisang.

Beberapa hari setelah perkawinan, kedua mempelai wajib berkunjung kepada sanak saudaranya, baik dari pihak pria maupun dari pihak perempuan. Maksudnya untuk menyampaikan ucapan terima kasih atas bantuan mereka selama acara perkawinan berlangsung. Biasanya sambil berkunjung kedua mempelai membawa nasi dengan lauk pauknya. Usai beramah tamah, ketika kedua mempelai berpamitan akan pulang, maka pihak keluarga yang dikunjungi memberikan hadiah seperti peralatan untuk keperluan rumah tangga mereka.

  • Hukum waris

Hukum waris yang ada di Kampung Naga ini memakai aturan hukum adat. Meskipun mereka beragama islam, mereka memberlakukan hukum adat dalam setiap keputusannya. Pembagian hak waris ini dilakukan sama rata. Ketika seorang keluarga memiliki satu anak angkat, anak laki-laki dan anak perempuan, mereka akan membagikannya sama rata. Meskipun aturan islam meyebutkan bahwa anak laki-laki harus mendapat 2 dan perempuan 1. Warga Kampung Nagapun mengistimewakan anak angkat karena menurut mereka anak angkat anak yang benar-benar di inginkan oleh keluarga, sedang anak kandung hanya hasil dari kesenangan orang tua.

  • Upacara adat :
  1. Hajat sasih

Upacara Hajat Sasih dilaksanakan oleh seluruh warga adat Sa-Naga, baik yang bertempat tinggal di Kampung Naga Dalam maupun di Kampung Naga Luar. Maksud dan tujuan dari upacara ini adalah untuk memohon berkah dan keselamatan kepada leluhur Kampung Naga, Eyang Singaparna serta menyatakan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala nikmat yang telah diberikan kepada seluruh warga. Upacara Hajat Sasih diselenggarakan pada bulan-bulan dengan tanggal-tanggal sebagai berikut:

Bulan
Muharam
Sapar
Maulud
Silih Mulud
Jumalid Awal
Jumalid Akhir
Rajab
Rewah
Puasa/Ramadhan
Syawal
Hapit
Rayagung
Hari
Sabtu-Minggu
Sabtu-Minggu
Sabtu-Minggu
Senin-Selasa
Senin-Selasa
Senin-Selasa
Rabu-Kamis
Rabu-Kamis
Rabu-Kamis
Jum’at
Jum’at
Jum’at
Tanggal
11,14
1,20
1,15
10,14
10,20
10,14
12,13
19,20
9,11
10,11
2,12
6,20

Pemilihan tanggal dan bulan untuk pelaksanaan upacara Hajat Sasih sengaja dilakukan bertepatan dengan hari-hari besar agama Islam. Penyesuaian waktu tersebut bertujuan agar keduanya dapat dilaksanakan sekaligus, sehingga ketentuan adat dan akidah agama Islam dapat dijalankan secara harmonis.

Upacara Hajat Sasih merupakan upacara ziarah dan membersihkan makam leluhur. Sebelumnya para peserta upacara harus melaksanakan beberapa ritual. Mereka harus mandi dan membersihkan diri dari segala kotoran di sungai Ciwulan. Satu-satunya sungai yang menjadi oase bagi masyarakat Kampung Naga. Upacara ini disebut beberesih atau susuci. Selesai mandi mereka berwudhu di tempat itu juga kemudian mengenakan pakaian khusus.

Secara teratur mereka berjalan menuju masjid. Sebelum masuk mereka mencuci kaki terlebih dahulu dan masuk ke dalam sambil menganggukan kepala dan mengangkat kedua belah tangan. Hal itu dilakukan sebagai tanda penghormatan dan merendahkan diri, karena masjid merupakan tempat beribadah dan suci. Kemudian masing-masing mengambil sapu lidi yang telah tersedia di sana dan duduk sambil memegang sapu lidi tersebut.

Adapun kuncen, lebe, dan punduh atau Tetua Kampung selesai mandi kemudian berwudhu dan mengenakan pakaian upacara mereka tidak menuju ke masjid, melainkan ke Bumi Ageung. Di Bumi Ageung ini mereka menyiapkan lamareun (lamaran) dan parukuyan (Sesajen) untuk nanti di bawa ke makam. Setelah siap kemudian mereka keluar. Lebe membawa lamareun dan punduh membawa parukuyan menuju makam. Para peserta yang berada di dalam masjid keluar dan mengikuti kuncen, lebe, dan punduh satu persatu. Mereka berjalan beriringan sambil masing-masing membawa sapu lidi. Ketika melewati pintu gerbang makam yang di tandai oleh batu besar, masing-masing peserta menundukan kepala sebagai penghormatan kepada makam Eyang Singaparna. Setibanya di makam selain kuncen tidak ada yang masuk ke dalamnya. Adapun Lebe dan Punduh setelah menyerahkan lamareun dan parakuyan kepada kuncen kemudian menunggu di luar makam bersama para peserta upacara yang lain. Kuncen membakar kemenyan untuk unjuk-unjuk (meminta izin) kepada Eyang Singaparna “sang leluhur”. Ia melakukan unjuk-unjuk sambil menghadap kesebelah barat, kearah makam. Arah barat artinya menunjuk ke arah kiblat.

Setelah kuncen melakukan unjuk-unjuk, kemudian ia mempersilahkan para peserta mulai membersihkan makam keramat bersama-sama. Setelah membersihkan makam, kuncen dan para peserta duduk bersila mengelilingi makam. Masing-masing berdoa dalam hati untuk memohon keselamatan, kesejahteraan, dan kehendak masing-masing peserta. Setelah itu kuncen mempersilakan Lebe untuk memimpin pembacaan ayat-ayat Suci Al-Quran dan diakhri dengan doa bersama.

Selesai berdoa, para peserta secara bergiliran bersalaman dengan kuncen. Mereka menghampiri kuncen dengan cara berjalan ngengsod (merangkak). Setelah bersalaman para peserta keluar dari makam, diikuti oleh punduh, lebe dan kuncen. Parukuyan dan sapu lidi disimpan di “para” (atap) masjid. Sebelum disimpan sapu lidi tersebut dicuci oleh masing-masing peserta upacara di sungai Ciwulan, sedangkan lemareun disimpan di Bumi Ageung.

Acara selnjutnya diadakan di masjid. Setelah para peserta upacara masuk dan duduk di dalam masjid, kemudian datanglah seorang wanita yang disebut patunggon sambil membawa air di dalam kendi, kemudian memberikannya kepada kuncen. Wanita lain datang membawa nasi tumpeng dan meletakannya ditengah-tengah. Setelah wanita tersebut keluar, barulah kuncen berkumur-kumur dengan air kendi dan membakar dengan kemenyan. Ia mengucapkan Ijab kabul sebagai pembukaan. Selanjutnya lebe membacakan doanya setelah ia berkumur-kumur terlebih dahulu dengan air yang sama dari kendi. Pembacaan doa diakhiri dengan ucapan amin dan pembacaan Al-Fatihah. Maka berakhirlah pesta upacara Hajat Sasih tersebut. Usai upacara dilanjutkan dengan makan nasi tumpeng bersama-sama seluruh warga Kampung Naga. Nasi tumpeng ini ada yang langsung dimakan di masjid, ada pula yang dibawa pulang kerumah untuk dimakan bersama keluarga mereka.

http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=12&dn=20080412190026

  1. Upacara menyepi

Upacara menyepi dilakukan oleh masyarakat Kampung Naga pada hari Selasa, Rabu, dan Sabtu. Upacara ini menurut pandangan masyarakat Kampung Naga sangat penting dan wajib dilaksanakan, tanpa kecuali baik pria maupun wanita. Pelaksanaan upacara menyepi diserahkan pada masing-masing orang, karena pada dasarnya merupakan usaha menghindari pembicaraan tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan adat istiadat. Melihat kepatuhan warga Naga terhadap aturan adat, selain karena penghormatan kepada leluhurnya juga untuk menjaga amanat dan wasiat yang bila dilanggar dikuatirkan akan menimbulkan malapetaka.

 

  1. 5.      Bagaimana praktik hukum adat yang berlaku di Kampung Naga, jelaskan aturan-aturan adat yang berlaku?

Dalam pelaksanaan hukum adat pada masyarakat Kampung Naga, mereka sangat mentaati aturan-aturan yang telah ditetapkan. Ketaatan mereka tersebut sangat kuat dan patuh, yang dapat dilihat dari pelaksanaan kehidupan sehari-hari di lingkungan mereka yang masih menerapkan tabu atau pamali. Hanya dengan kata “PAMALI” masyarakat kampung Naga dapat hidup dengan nilai-nilai tradisional dan terjaga kelestarian lingkungannya. Pamali merupakan tradisi lisan dari masyarakat Sunda, yaitu berhubungan dengan hal-hal yang tabu atau hal yang tidak baik untuk dilakukan. Larangan-larangan yang ada di kampung Naga berasal dari  aturan-aturan nenek moyang mereka terdahulu. Aturan-aturan yang ada di kampung Naga sendiri hanya disampaikan secara lisan kepada warganya, tidak ada aturan adat yang dibukukan atau dikumpulkan secara tertulis, dan hal ini disampaikan secara turun-temurun. Seorang anak di kampung Naga sejak kecil sudah diajari mengenai hal-hal apa saja yang tidak boleh dilakukan, sehingga sejak kecil mereka sudah tertanam nilai-nilai luhur dari nenek moyang mereka sehingga hal tersebut dapat bertahan sampai sekarang. Meskipun tidak ada peraturan secara tertulis, tetapi bagi warga di kampung Naga mentaati peraturan-peraturan tersebut adalah suatu keharusan dan menganggap bahwa peraturan tersebut adalah sesuatu yang sakral dan hal yang tidak dapat ditawar-tawar lagi.

Praktek hukum  adat yang berlaku di kampung Naga meliputi segala aspek kehidupan masyarakatnya. Praktek hukum adat yang lebih berat daripada hukum agama maupun hukum negara. Sisi positif dari hukum adat kampung naga adalah sangat melindungi alam. Hukum adat itupun di bagi menjadi hal yang besar dan hal yang kecil.

ü  Hal yang besar :

  • Upacara menyepi
  • Upacara hajat sasih
  • cara membangun rumah
  • tata cara perkawinan
  • hukum waris

ü  Hal-hal yang kecil :

1.      “ Temenang Diuk Dina Bangbaru”

Artinya: Anak gadis tidak boleh duduk di depan pintu.

2.      “ Ngahocat, Suit-suitan”

Artinya : bersiul.

3.      “ Cimalati, Curung Cinantang ”

Artinya : air terjun angker, yang dihuni makhluk halus.

4.      “ Temenang Ngelonjor Kakulon “

Artinya : tidak boleh duduk berselonjor kearah kiblat (barat).

5.      “ Leweng Karamat “

Artinya : Jiarah ke makam pada hari selasa, rabu, dan sabtu.

6.      “ Leweng Ketupan “

Artinya : berkunjung ke hutan lindung.

7.      “ Bumi Ageng “

Artinya : tempat upacara adat.

8.      “ Pego dan tabu tentang asal usul kampung”

Artinya : bisu sementara menjelaskan tentang asal usul kampung pada hari selasa, rabu, dan sabtu.

9.      “ Sawen “

Artinya : Tolak Bala

10.  “ Ngadu, Ngahadon, Mabokan “

Artinya : adu domba, main perempuan, dan narkoba.

sanksi Dalam Penerapan Hukum Adat di Kampung Naga

Perbuatan melanggar hukum adat menimbulkan reaksi tertentu yaitu suatu kewajiban yang di bebankan kepada orang yan menimbulkan gangguan terhadap keseimbangan atau orang yang menyerang diri atau barang kepunyaan orang lain kewjiban itu dapat berupa harus membayar kembali dengan uang atau dengan barang suatu kerugian yang telah di timbulkannya, atau berupa kewajiban untuk melakukan suatu upacara dan kalau yang di bebankan berupa harus melakukan suatu upacara dalam upacara itu pelanggar harus menyatakan minta maaf kepada pihak yang kepentingannya telah di langgar maksudnya ialah untuk mengembalikan keseimbangan yang sudah terganggu kedalam keadaan semula.

Dalam menjalankan aturan adat “pamali” di Kampung Naga, masyarakat disana sangat taat dan patuh pada aturan yang telah turun temurun dari para leluhur. Namun, para tokoh masyarakat di Kampung Naga tetap memiliki sanksi bagi para masyarakat yang melanggar pamali yang telah ditetapkan. Bila salah satu masyarakat Kampung Naga ada yang melanggar salah satu adat “pamali” (yang dilarang) seperti upacara menyepi/ hari tabu, upacara perkawinan, upacara hajat sasih, maka tindakan yang dilakukan oleh Kuncen adalah yang pertama menegurnya, dan yang kedua memberikan surat yang isinya menyurus keluar/pindah dari Kampung Naga untuk selama-lamanya dan sampai kapanpun tidak bisa mengikuti upacara adat Kampung Naga.

 

  1. 6.      Bagaimana peran fungsi dan kedudukan kepala adat Kampung Naga dalam menjaga dan mengawal nilai-nilai kearifan lokal?
  • kuncen : berfungsi sebagai pemandu adat, seorang kuncen bertugas memandu setiap upacara-upacara adat, seperti mauled nabi, idul fitri, idul adha dan hri-hari raya besar umat islam lainnya.
  • Lebe : berfungsi sebagai seseorang yang dipercaya untuk mengurusi orang yang meninggal dari mulai memandikan sampe menguburkan.
  • Punduh : berfungsi sebagai sesepuh untuk mengayomi masyarakat. “ngurus laku meres gawe” yaitu mengurus sikap perilaku masyarakatnya.

Ketiga pemimpin adat diatas ini bekerjasama untuk menjaga keajegan adat Kampung Naga, dengan memberi contoh dari mereka sendiri untuk di contoh oleh warga agar tidak terjadi ketimpangan sosial.

  1. 7.      Leweng larangan di Kampung Naga tidak boleh dirusak oleh masyarakat sekitar, bagaimana fungsinya bagi kelestarian lingkungan?

Sebenarnya fungsi pelestarian Leuweung larangan di Kampung Naga sama dengan tujuan dan fungsi pelestarian hutan pada umumnya yaitu yang paling pokoknya sebagai “Penyedia Sumber Air”, akan tetapi fungsi lain yaitu :

  • Sebagai pencegah longsor
  • Penyejuk lingkungan
  • Sebagai penyedia sumber O2
  • pelindung dari angin besar dan topan

Oleh karena itu, masyarakat Kampung Naga dilarang untuk mengelola dan menjamah karna takut hutan itu bisa rusak akibat tangan-tangan jail manusia yang suka merusak kelestarian hutan dan di takutkan bukit itu akan hilang jika bukit ini hilang maka pemukiman Kampng Naga akan terancam kesejahteraannya dari fungsi-fungsi hutan pada umunya. Atas dasar itulah maka leuweung larangan dilarang untuk di jamah oleh manusia dan formalkan oleh hukum adat bahwa tidak boleh ada warga menjamah “Leweung Larangan”.

 

  1. 8.      Bagaimana pandangan masyarakat Kampung Naga terhadap dunia luar, apakah bersifat terbuka, adaftif, atau isolatife?

Masyarakat Kampung Naga dalam memandang dunia luar yang budaya berbeda dan teknologi yang maju bersifat adaftif karena meraka hanya menerima hal-hal yang menurut meraka :

  • Baik di gunakan di daerahnya
  • Tidak merusak alam
  • Tidak merusak adat

seperti halnya masalah listrik, mereka tidak menggunakan listrik karena meraka berpandangan takut terjadi kebakaran terhadap pemukiman meraka hal ini di akibatkan karena pemukiman meraka yang terbuat dari bahan yang mudah terbakar dan pemukiman mereka berdekatan jika terjadi kebakaran maka semua pemukiman mereka akan habis terbakar oleh sebab itu mereka tidak menggunakan listerik. Mereka juga menggunakan alat-alat elektronik seperti TV, Radio dan lain-lain tapi sebagai sumber energy listrik buat alat-alat itu mereka menggunakan ACCU. Karena accu tidak terlalu berbahaya seperti KWH menurut mereka. Dalam hal pendidikan juga begitu, warga Kampung Naga dipersilahkan menuntut ilmu setinggi mungkin, dan bahkan bekerja kemanapun, asal ketika kembali ke Kampung Naga harus patuh terhadap adat dan istiadat kampung Naga. Kalau tidak taat terhadap adat Kampung Naga dipersilahkan warga pindah dan menetap diluar Kampung Naga.

  1. 9.      Bagaimana pandangan masyarakat Kampung Naga terhadap pentingnnya pendidikan bagi anak-anak?

Masyarakat Kampung Naga memang memandang “pendidikan” sangat penting, akan tetapi ada berbagai kendala :

  • Dana

“karena warga Kampung Naga hanya mengandalkan mata pencaharian hasil sawah dan kolam ikan yang hanya untuk di konsumsi sendiri tidak untuk di jual”

  • Lokasi sekolah

“Lokasi sekolah lanjutan baik SMP maupun SMA yang jauh itu menyebabkan warga Kampung Naga kebanyakan  hanya tamatan SD”.

Karena dua kendala inilah sebabnya warga Kampung Naga minim pendidikan, kalau solusinya mendirikan sekolah di kampung naga tentu kendala yang besar adalah siswa yang sedikit dan tenaga pengajar yang hampir tidak ada.

  1. 10.  Apakah terjadi perubahan cara pandang, nilai-nilai dan aturan adat di Kampung Naga di era globalisasi saat ini, jelaskan?

Kalau menurut hemat saya terjadi perubahan cara pandang nilai dan aturan di era globalisasi, itu terbukti :

  • Listrik ada walau menggunakan Accu
  • Tv ada walau hitam putih dan hanya satu
  • Alas kaki yang menggunakan sepatu seperti masyarakat lain
  • Terbuka kepada yang datang dan adaftif terhadap hal baru yang di bawa masyarakat luar

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

UJIAN AKHIR SEMESTER

ETNOGRAFI DAN ETNOPEDAGOGIK

Oleh:

Soleh Hamdani

1000806

UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

FAKULTAS PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL

PRODI PENDIDIKAN SOSIOLOGI

BANDUNG

2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s